Tag Archives: Islam

Makna Kemerdekaan Dalam Islam

bendera-merahputih

الر ۚ كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

“Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.”


Nabi Muhammad dan para Nabi yang lain, 25 yang disebutkan al-Qur’an dan ratusan lagi yang tidak disebutkannya adalah para hamba sekaligus manusia-manusia pilihan Tuhan. Mereka ditugaskan membawa misi Tauhid. Kalimat La Ilaha Illa Allah, berarti “tidak ada yang patut disembah, kecuali Allah saja”. Dengan begitu maka tidak boleh ada pemujaan manusia atas manusia yang lain.

Al-Qur’an menegaskan: “(Inilah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya yang terang-benderang dengan izin Tuhan mereka”. (Q.S. Ibrahim, [14:1]. Mengeluarkan adalah membebaskan. Kegelapan di sini bermakna kekafiran (ketertutupan hati dan pikiran akan kebenaran), kezaliman, kesesatan dan kebodohan. Cahaya adalah keimanan kepada Tuhan, keadilan, jalan lurus dan Ilmu pengetahuan. Ini semua merupakan ajaran paling inti dari Islam dan setiap agama yang dibawa para nabi, utusan Tuhan dan para pembawa misi kemanusian yang lain. Karena ia merupakan pengejawantahan atau perwujudan dari pernyataan Ke-Maha-Esa-an Tuhan.

Kemerdekaan manusia dalam Islam telah diperoleh sejak ia dilahirkan ibunya. Umar bin Khattab, khalifah kaum muslim ke dua, kemudian mengembangkan ajaran para Nabi di atas. Ketika Abdullah, anak Amr bin Ash, Gubernur Mesir, menganiaya seorang petani desa yang miskin, Umar bin Khattab segera memanggil anak sang Gubernur tersebut. Kepadanya Umar mengatakan: “sejak kapan kamu memperbudak/memperhambakan manusia, padahal ia dilahirkan ibunya dalam keadaan merdeka“. Umar lalu mempersilakan si petani miskin tersebut mengambil haknya yang diperlukan terhadap anak pejabat tinggi negara itu.

Sikap Umar ini memperlihatkan kebijakan yang dilakukan oleh seorang pemimpin. Dia memperlakukan semua orang yang berada dalam kekuasaannya. Umar ingin menunjukkan bahwa di depan hukum, setiap orang mempunyai hak untuk tidak dihakimi dan dizalimi hanya karena kedudukan sosialnya yang dianggap rendah. Perbedaan status sosial-ekonomi, dalam pandangannya tidak boleh membuat orang yang tak beruntung atau yang dianggap berkelas rendah oleh masyarakatnya, dinafikan hak-hak dasarnya. Sebaliknya orang dengan status sosial beruntung, tidak boleh dibiarkan merampas hak orang lain seenaknya dan dibebaskan dari tindakan hukum. Hal yang terkhir ini pernah disampaikan Nabi: “Sesungguhnya bangsa-bangsa di masa lalu, hancur-lebur, karena mereka mempraktikkan hukum secara tidak adil menghukmnya. Bila yang mencuri adalah orang-orang yang lemah, mereka menghukumnya. Tetapi bila yang mencuri adalah orang-orang yang kuat, mereka membebaskannya. Andaikata Fatimah, anakku, mencuri, aku pasti akan menghukumnya”.

Continue reading

Leave a Comment

Filed under Agama