Asmaul Husna

 Dilihat 275 x  -A   +A

Asmaul Husna Zikir

 



ALLAH

 

 

Rasulullah saw bersabda :

 

Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, seratus kurang satu, siapa yang meng-ihsa’nya pasti masuk surga." (HR. Bukhari dan Muslim)

 

 



Ar-Rahmān (Maha Pengasih)

 

Pada diri Allah swt terdapat kasih sayang yang diberikan pada seluruh makhluk-Nya, baik manusia (yang beriman maupun ingkar) maupun makhluk Allah swt lainnya. Kata ar-Rahmān menunjuk pada perbuatan Allah swt yang meliputi kesempurnaan tetapi bersifat temporal karena hanya diberikan di dunia. Kata ar-Rahman sering disebutkan dalam al-Quran. Kata ar-Rahman disebut sekitar 48 kali dalam al-Quran, dan yang populer ada pada ayat pertama surah al-Fatihah yang menjadi pembuka surah. Kata ar-Rahman, di samping disebut sebagai pembukaan surah, juga dianggap sebagai pembuka segala aktivitas yang akan dilakukan oleh hamba-hamba Allah. Rasululah saw pernah bersabda, “Mulailah segala urusan dengan mambaca basmalah” (hadis). Ini menunjukkan bahwa Allah sangat menonjolkan sifat kasih-Nya pada hamba-hamba-Nya dan seluruh makhluk-Nya, meskipun mereka durhaka pada-Nya. Ar-Rahman juga berarti bahwa sifat kasih Allah lebih luas daripada ar-Rahim, karena meliputi seluruh makhluk-Nya, baik mereka yang taat maupun durhaka. Ar-Rahman juga sifat yang khusus ditujukan pada Allah, tidak bisa pada makhluk-Nya.

 



Ar-Rahīm (Maha Penyayang)

 

Pada diri Allah swt terdapat sifat ar-Rahim. Kata ar-Rahīm mengandung arti kasih sayang yang berkesinambungan dan abadi yang diperoleh hingga di akhirat. Karena itu, hanya orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan saja lah yang akan mendapat sentuhan ar-Rahīm. Seperti halnya ar-Rahman, kata ar-Rahim juga disebut banyak dalam al-Quran, sekitar 34 kali. Ini juga menunjukkan bahwa sifat sayang Allah pada hamba-hamba-Nya sangat ditonjolkan. Hadis Nabi saw yang menyebutkan agar memulai segala aktivitas atau perkerjaan dengan basmalah menunjukkan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi sifat kasih dan sayang pada sesama dan alam semesta. Sifat ar-Rahim lebih dikhususkan pada hamba-hamba-Nya yang mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

 



Al-Malik (Maha Raja, Maha Berkuasa)

 

Allah swt adalah Penguasa hakiki kerajaan di bumi dan langit, di dunia dan akhirat. Disebut “penguasa hakiki” karena kekuasaan-Nya adalah mutlak dalam kemandirian dan pengaturan. Sementara raja yang disandang manusia bersifat relatif dan senantiasa bergantung pada lainnya. Sifat Penguasa pada Allah tidak hanya ada di dunia, tetapi juga diakhirat. Dalam Q.S. al-fatihah (1): 4 disebutkan bahwa Allah adalah Penguasa di hari pembalasan atau hari akhirat. Al-Malik juga berarti Pemilik kekuasaan dan kerajaan secara sempurna serta memiliki kuasa untuk menciptakan segala sesuatu dari tidak ada menjadi ada, atau menyempurnakan ciptaan-Nya dari yang sudah ada.

 



Al-Quddūs (Maha Suci)

 

Allah swt menerima kesucian dan tidak menerima perubahan, tidak dapat disentuh oleh kekotoran, tidak mengalami cacat, dan senantiasa terpuji dalam kesucian-Nya. Kesucian Allah bersifat abadi dan kekal, berlaku terus-menerus. Maha Suci-Nya tidak dapat dikotori oleh apapun dan siapa pun. Al-Quddūs juga berarti bahwa Allah suci atau terbebas dari segala kesalahan, kekeliruan, dan kekurangan dalam setiap keputusan-Nya. Kata al-Quddūs disebutkan di dua tempat dalam al-Qur'an. Pertama di Q.S. al-Hasyr (59): 23 yang disandingkan dengan sifat-sifat Allah lainnya, seperti al-Malik, as-Salām, al-Mu'min, al-Muhaimin, al-Azīz, al-Jabbār, dan al-Mutakabbir. Kedua di Q.S. al-Jumu’ah (62): 1 yang disandingkan dengan sifat al-Malik, al-Azīz, dan al-Hakīm.

 



As-Salām (Maha Sejahtera, Maha Selamat dari cacat)

 

Allah swt adalah sumber keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan. Kata as-Salām juga merujuk pada batas antara keharmonisan, kedekatan, dan perpisahan, antara cinta dan benci. As-Salām juga berarti bahwa Allah senantiasa selamat atau terhindar dari kebinasaan dan kerusakan. Kata as-Salām yang ditujukan pada Allah disebutkan dalam Q.S. al-Hasyr (59): 23. Sedang kata atau sifat as-Salām lainnya berkaitan dengan makhluk-Nya, termasuk surga yang memiliki sebutan “darus salām” yang artinya “perkampungan damai”.

 



Al-Mumin (Maha Terpercaya, Maha Pemberi Rasa Aman)

 

Kata ini bermakna adanya pembenaran Allah swt terhadap keimanan hamba-hamba-Nya dan janji-janji-Nya atas mereka. Kata al-Mukmin juga berarti “pemberian rasa aman” dari Allah swt pada seluruh makhluk-Nya. Satu-satunya kata al-Mukmin yang disandarkan pada Allah disebut dalam Q.S. al-Hasyr (59): 23 yang disandingkan dengan sifat-sifat Allah lainnya, seperti al-Malik, al-Quddūs, as-Salām, al-Muhaimin, al-Azīz, al-Jabbār, dan al-Mutakabbir. Sementara kata “mukmin” (orang yang beriman) disebutkan sekitar 14 kali dalam al-Qur'an yang kesemuanya merujuk pada manusia.

 



Al-Muhaimin (Maha Memelihara, Maha Mengurusi)

 

Kata ini mengandung pengertian bahwa Allah swt memelihara dan mengurusi segala urusan mahkulk-Nya, seperti: rezeki, kehidupan, kematian, dan lainnya. Kata al-Muhaimin juga berarti Maha Mengawasi pada seluruh makhluk-Nya, baik yang ada di bumi maupun di langit. Kata al-Muhaimin yang disandarkan pada Allah hanya terdapat dalam Q.S. al-Hasyr (59): 23 yang disandingkan dengan sifat-sifat Allah lainnya, seperti al-Malik, al-Quddūs, as-Salām, al-Mukmin, al-Azīz, al-Jabbār, dan al-Mutakabbir. Kata muhaimin juga disebutkan dalam Q.S. al-Maidah (5): 48 yang berkaitan dengan posisi kitab suci al-Qur'an sebagai pengoreksi atau penguji kebenaran kitab-kitab suci sebelumnya.

 



Al-‘Azīz (Maha Perkasa)

 

Kata ini berarti bahwa Allah swt maha mengalahkan siapa dan apa pun yang melawan-Nya sekaligus tidak terkalahkan oleh siapa dan apa pun. Kata al-Aziz disebutkan sekitar 64 kali dalam al-Qur'an. Sebanyak 60 kata ditujukan pada sifat Allah yang ada di berbagai surah dalam al-Qur'an. Sedang 4 kata ditujukan pada raja Mesir bernama al-Aziz yang kesemuanya disebutkan dalam Q.S. Yusuf (12): 30, 51, 78, dan 88. Ini menunjukkan bahwa kata al-‘azīz adalah sifat yang bisa ditujukan pada Allah dan juga pada manusia yang memiliki karakter kuat dan memiliki keperkasaan.

 



Al-Jabbār (Yang Kehendak-Nya Tak Terbantahkan, Maha Perkasa)

 

Yang Maha Tinggi sehingga memaksa yang rendah tunduk pada apa saja yang diperintahkan-Nya. Kata al-Jabbār juga berarti Allah swt Maha Perkasa untuk meluruskan yang bengkok, memperbaiki yang rusak, menghilangkan kecemasan, mengampuni dosa, memberi berkah, dan sebagainya. Kata al-Jabbār juga hanya terdapat pada Q.S. al-Hasyr (59): 23 yang disandingkan dengan sifat-sifat Allah lainnya, seperti al-Malik, al-Quddūs, as-Salām, al-Mukmin, al-Muhaimin, al-Azīz, dan al-Mutakabbir.

 



Al-Mutakabbir (Maha Memiliki Kebesaran)

 

Allah swt lah satu-satu-Nya yang berhak menyandang kebesaran hakiki. Kata ini juga bisa berarti “Maha Memiliki Kesombongan” yang khusus ditujukan pada hamba-hamba-Nya yang berbuat sombong, aniaya, dan sewenang-wenang. Kata al-Mutakabbir juga hanya ada dalam Q.S. al-Hasyr (59): 23 yang disandingkan dengan sifat-sifat Allah lainnya, seperti al-Malik, al-Quddūs, as-Salām, al-Mukmin, al-Muhaimin, al-Azīz, dan al-Jabbār. Namun kata mutakabbir disebutkan dalam 2 ayat yang keduanya terdapat dalam Q.S. Ghāfir (40): 27 dan 35. Kata ini berkaitan dengan sifat hamba Allah yang sombong.

 



Al-Khāliq (Maha Pencipta (dari segala sesuatu))

 

Allah swt yang menciptakan segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, termasuk yang ada di alam selain keduanya. Kata ini juga berarti penciptaan Allah swt sebagai aksentuasi dan ekspresi kehebatan dan kebesaran ciptaan-Nya. Kata al-Khāliq hanya disebutkan dalam Q.S. al-Hasyr (59): 24. Sementara kata Khāliq disebut 7 kali dalam al-Quran, yaitu: Q.S. al-An’am (6): 102; ar-Ra’d (13): 16; al-Hijr (15): 28; Fāthir (35): 3; Shād (38): 71; az-Zumar (39): 62; dan Ghāfir (40): 62. Sebagian ayat berbicara tentang hubungan antara Khāliq dan perintah untuk beribadah pada-Nya, keesaan-Nya, sebagai Pencipta manusia, serta sebagai satu-satunya Pencipta dan Pemberi rezeki semua makhluk yang ada di langit dan bumi.

 



Al-Bāri' (Maha Pengada, Penambah (dalam penciptaan))

 

Kata al-Bāri' menunjuk pada proses penciptaan lebih lanjut dari kegiatan al-Khāliq yang meliputi pengukuran tertentu sehingga tercipta harmoni dan sinergi. Jika al-Khāliq merujuk pada penciptaan dari sesuatu yang belum terbentuk, maka al-Bāri' merupakan penciptaan lebih lanjut yang di dalanya terdapat kreasi-kreasi baru, meskipun belum sampai pada taraf yang telah sempurna. Kata al-Bāri' disebutkan dalam Q.S. al-Hasyr (59): 24 yang berada di antara kata al-Khāliq (sebelumnya) dan kata al-Mushawwir (sesudahnya).

 



Al-Mushawwir (Maha Pemberi (bentuk dan rupa))

 

Kata al-Mushawwir merupakan proses akhir dari al-Khāliq dan al-Bārī. Dalam kata al-Mushawwir terkandung makna penghalusan dan keindahan dalam bentuk dan rupa yang diciptakan-Nya. Dengan demikian, al-Mushawwir merupakaan penciptaan lebih lanjut yang di dalamnya telah terjadi kreasi-kreasi yang lebih baik dan indah daripada yang ada pada al-Khāliq maupun al-Bāri'. Kata al-Mushawwir disebutkan dalam Q.S. al-Hasyr (59): 24 yang berada paling akhir setelah kata al-Khāliq dan al-Bāri'. Ini menunjukkan bahwa proses penciptaan Allah dimulai dari al-Khāliq, lalu al-Bāri', dan berakhir pada al-Mushawwir.

 



Al-Ghaffār (Maha Pengampun)

 

Allah swt adalah Maha Pengampun bagi hamba-hamba-Nya yang ikhlas bertaubat dan memohon ampun pada-Nya. Kata al-Ghaffār juga berarti menutup aib atau kesalahan di dunia dan banyak berulangnya ampunan. Kata al-Ghaffār disebutkan di 3 tempat dalam al-Quran, yaitu: Q.S. Shād (38): 66; az-Zumar (39): 5; dan Ghāfir (40): 42. Pada ketiga ayat itu, al-Ghaffār selalu berdampingan dengan kata al-‘Azīz yang berada di depannya. Jadi kata ini berdampingan menjadi “al-‘Azīz al-Ghaffār”.

 



Al-Qahhār (Maha Perkasa, Maha Menundukkan)

 

Allah swt melumpuhkan hamba-hamba-Nya yang menentang-Nya melalui bukti-bukti keesaan-Nya, menundukkan para penentang-Nya dengan keperkasaan-Nya, dan mengalahkan seluruh makhluk-Nya dengan mencabut nyawa mereka. Al-Qahhār merupakan salah satu sifat Allah yang disebutkan sekitar 6 kali dalam al-Quran, yaitu dalam: Q.S. Yūsuf (12): 39; ar-Ra’d (13): 16; Ibrahim (14): 48; Shād (38): 65; az-Zumar (39): 4; dan Ghāfir (40): 16. Pada keenam tempat itu, kata al-Qahhār selalu mengikuti kata al-Wāhid sehingga kata itu menjadi “al-Wāhid al-Qahhār”.

 



Al-Wahhāb (Maha Penderma, Maha Pemberi)

 

Allah swt memberi apa saja pada makhluk-Nya tanpa meminta imbalan apa pun. Pemberian-Nya tidak memiliki tujuan (imbalan) baik di dunia maupun di akhirat nanti. Pemberian Allah bersifat langgeng dan tidak dibatasi oleh waktu dan tempat. Kata al-Wahhāb disebutkan di 3 tempat dalam al-Quran: Q.S. Ali Imrān (3): 8 dan dan Shād (38): 9 dan 35. Kata al-Wahhāb juga sering dibaca sebagai bagian dari kumpulan doa dalam al-Quran, seperti ayat, “Ya Tuhan kami, jangan Engkau jadikan hati kami condong pada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk pada kami, dan karuniakanlah pada kami rahmat dari-Mu; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi” (Q.S. Ali Imran ayat 8).

 



Ar-Razzāq (Maha Pemberi (rezeki))

 

Allah swt menciptakan segala rezeki dan menciptakan yang mencari rezeki. Allah swt pula yang mengantar rezeki itu pada para makhluk-Nya dan menciptakan sebab-sebab sehingga mereka dapat meraih dan menikmati-Nya. Kata ar-Razzāq disebutkan dalam Q.S. adz-Dzāriyāt (51): 58 yang memberitakan tentang Allah sebagai Pemberi rezeki yang memiliki kekuatan kokoh. Makna rezeki yang dimaksud bukan sekedar berhubungan persoalan materi, tetapi juga persoalan non materi seperti kesenangan, kebahagiaan, ketenteraman jiwa, dan sebagainya.

 



Al-Fattāh (Maha Pembuka, Maha Pemenang)

 

Allah swt membuka segala penutup yang menghambat para mahkluk-Nya untuk meraihnya. Dengan pertolongan-Nya, segala yang tertutup dan kalah menjadi terbuka dan menang. Dengan hidayah-Nya, segala yang samar dan rumit menjadi terbuka. Al-Fattāh juga berarti Maha Pemenang atas hamba-hamba-Nya yang mengklaim sebagai paling kuasa, paling kuat, dan paling perkasa. Di samping itu, sifat al-Fattāh juga bisa diartikan sebagai Pembuka jalan bagi hamba-hamba-nya untuk mencari dan menerima kebenaran. Perhatikan apa yang difirmankan Allah dalam Q.S. Saba' (34): 26.

 



Al-‘Alīm (Maha Mengetahui)

 

Allah swt mengetahui segala bentuk lahir dan batin segala sesuatu dari makhluk-Nya. Pengetahuan-Nya memililki dampak nyata dalam kehidupan makhluk-Nya tanpa proses pembelajaran. Pengetahuan Allah juga tidak melalui sebab-akibat dan tidak didahului oleh pengetahuan sebelumnya. Seseorang mengetahui bahwa api itu panas dan membakar, misalnya, setelah mengetahui akibat yang terkandung dari api tersebut. Sedangkan pengetahuan Allah tentang pi tanpa melalui proses pengetahuan dari akibat yang ditimbulkan oleh api tersebut. Di dalam al-Qur'an, kata al-‘Alīm disebutkan sekitar 32 kali dengan berbagai konteks pembicaraan. Namun yang paling banyak adalah gandengan kata “al-‘Alīm al-Hakīm” dan “as-Samī’ al-‘Alīm”.

 



Al-Qābidh (Maha Menyempitkan, Maha Menggenggam)

 

Allah swt berkuasa menggenggam atau menyempitkan segala sesuatu yang menyangkut makhluk-Nya, baik manusia maupun alam semesta, yang berkenaan dengan materi dan non materi. Kata al-Qābith sebagai kata sifat (subyek) sebenarnya tidak ditemukan dalam al-Qur'an, yang ada adalah kata kerja berupa yaqbidhu yang artinya Dia menyempitkan atau menggenggam, seperti disebutkan dalam firman Allah swt, “Siapa yang mau memberi pinjaman pada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran padanya dengan banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan pada-Nya lah kamu dikembalikan” (Q.S. al-Baqarah [2]: 245).

 



Al-Bāsith (Maha Melapangkan, Maha Meluaskan)

 

Allah swt berkuasa melebarkan atau melapangkan segala sesuatu yang menyangkut makhluk-Nya, baik manusia maupun alam semesta, yang berkenaan dengan materi dan non materi. Al-Bāsith adalah lawan dari al-Qābith. Seperti halnya al-Qābith, al-Bāsith sebagai kata sifat tidak ditemukan dalam al-Quran, yang ada adalah kata kerjanya berupa yabsuthu yang artinya Dia melapangkan atau meluaskan. Jika kata yaqbidhu sebagai kata kerja dari al-Qābith hanya disebut sekali, yaitu dalam Q.S. al-Baqarah (2): 245, maka . Jika kata yaqbidhu hanya disebut 1 kali, maka kata yabsuthu sebagai kata kerja dari al-Bāsith disebut sekitar 10 kali dalam berbagai tempat di dalam al-Qur'an. Ini menunjukkan bahwa Allah lebih mengutamakan kelapangan, keluasan, dan kedermawanan pada hamba-hamba-Nya daripada kesempitan, kesusahan, dan kekikiran.

 



Al-Khāfidh (Maha Merendahkan)

 

Allah swt berkuasa merendahkan derajat sebagian makhluk-Nya pada level paling rendah. Kata al-Khāfidh juga berarti Allah swt merendahkan orang-orang yang menolak kebenaran. Kata al-Khāfidh sebagai kata sifat tidak ditemukan dalam al-Quran. Demikian juga dengan kata al-Khāfidh yang disandarkan pada Allah. Yang adalah adalah berkaitan dengan perintah untuk rendah hati pada kaum beriman atau pada kedua orang tua. Ini bisa ditemukan dalam Q.S. al-Hijr (15): 88; al-Isrā' (17): 24; dan asy-Syu’arā (26): 215. Sedangkan kata al-khāfidhah sebagai kata sifat atau kata keterangan ditemukan dalam Q.S. al-Wāqi’ah (56): 3 yang menjelaskan tentang Hari Kiamat yang merendahkan (al-khāfidhah) satu golongan (yaitu orang-orang yang ingkar dan berbuat kekejian) dan meninggikan (ar-rāfi’ah) golongan lain (yaitu orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan).

 



Ar-Rāfi’ (Maha Meninggikan)

 

Allah swt berkuasa meninggikan derajat sebagian makhluk-Nya atas sebagian lainnya. Kata ini juga berarti Allah swt meninggikan orang-orang yang membela kebenaran. Seperti halnya kata al-Khāfidh, kata ar-Rāfi’ sebagai kata sifat yang disandarkan pada Allah juga tidak ditemukan dalam al-Quran. Yang ada adalah kata kerja berupa rafa’a dan yarfa’u yang berarti meninggikan dengan jumlah sekitar 10 ayat. Tujuh ayat berkaitan dengan sifat Allah yang meninggikan derajat kaum beriman dan berilmu serta yang berada di jalan-Nya, yaitu Q.S. al-Baqarah (2): 253; al-An’am (6): 83 dan 165; Yūsuf (12): 76; ar-Ra’d (13): 2; an-Nūr (24): 36; dan al-Mujādalah (58): 11. Sedang 3 ayat lainnya berkaitan dengan aktivitas hamba-Nya. Salah satunya adalah Q.S. al-Baqarah (2): 127 yang memberitakan tentang kegiatan nabi Ibrahim as dalam meninggikan (membangun, merenovasi) bangunan Ka’bah.

 



Al-Mu’izz (Maha Memuliakan)

 

Allah swt adalah pemilik hakiki segala kemuliaan. Dia berkuasa mutlak untuk menganugerahkan kemuliaan dan kekuasaan pada siapa pun yang dikehendaki-Nya. Kemuliaan yang besumber dari Allah bersifat langgeng atau abadi, kecuali Dia sendiri yang mencabutnya. Kata al-Mu’izz sebagai kata sifat (subyek) tidak ditemukan dalam al-Quran, yang ada adalah kata kerja berupa yu’izzu atau tu’izzu yang berarti memuliakan, seperti disebutkan dalam Q.S. Ali Imran (3): 26. Ayat ini berkaitan dengan kekuasaan Allah untuk memberi atau mencabut kekuasaan seseorang, atau memuliakan dan menghinakan kekuasaan seseorang sesuai dengan kehendak-Nya.

 



Al-Mudzill (Maha menghinakan)

 

Allah swt berkuasa menghinakan para makhluk-Nya yang berbuat aniaya dan kejelekan. Dia berkuasa mutlak mencabut kekuasaan yang disandang hamba-hamba-Nya hingga menjadi terhina. Allah swt berkuasa menghinakan hamba-hamba-Nya. Dia berkuasa mutlak untuk mencabut kemuliaan dan kekuasaan pada siapa pun yang dikehendaki-Nya hingga menjadi terhina. Kehinaan yang besumber dari Allah bersifat langgeng atau abadi, kecuali Dia sendiri yang mencabutnya. Kata al-Mudzill sebagai kata sifat (subyek) tidak ditemukan dalam al-Quran, yang ada adalah kata kerja berupa yudzillu atau tudzillu yang berarti menghinakan, seperti disebutkan dalam Q.S. Ali Imran (3): 26. Ayat ini berkaitan dengan kekuasaan Allah untuk memberi atau mencabut kekuasaan seseorang, atau memuliakan dan menghinakan kekuasaan seseorang sesuai dengan kehendak-Nya.

 



As-Samī’ (Maha Mendengar)

 

Allah swt Maha Mendengar segala sesuatu yang dilakukan hamba-hamba-Nya, baik kegiatan lahir maupun batin. Imam al-Ghazali membuat ilustrasi bahwa Allah swt mendengar jejak langkah seekor semut hitam yang berjalan di atas batu halus di malam gelap gulita. Kata as-Samī’ disebutkan sekitar 47 kali di dalam al-Qur'an. Sebagian besar kata as-Samī’ disandingkan dengan kata al-‘Alīm sehingga menjadi “as-Samī’ al-‘Alīm”. Pendampingan ini untuk menegaskan bahwa pendengaran dan penglihatan-Nya sangatlah sempurna dan meliputi segala sesuatu yang ada di dunia dan akhirat.

 



Al-Bashīr (Maha Melihat)

 

Allah swt Maha Melihat segala sesuatu yang dilakukan hamba-hamba-Nya, baik kegiatan lahir maupun batin. Dalam sebuah ilustrasi bisa dikatakan bahwa Allah swt mampu melihat benda-benda yang sangat kecil yang ada di bawah dasar laut. Sifat al-Bashīr disebut sebanyak 53 kali dalam al-Quran. Ini menunjukkan bahwa sifat al-Bashīr yang dilekatkan pada Allah memiliki banyak penegasan bahwa Allah Maha Melihat sekaligus Maha Mengetahui segala tindakan dan perilaku makhluk-Nya, baik yang ada di langit maupun di bumi.

 



Al-Hakam (Maha Memutuskan Perkara)

 

Allah swt menetapkan dan mengurai kebenaran dari kebatilan, yang taat dari30 yang derhaka, dan memberi balasan setimpal sesuai ketentuan yang telah ditetapkan-Nya secara bijak dan adil. Al-Hakam juga memiliki kesamaan dengan al-Hākim yang berarti Maha Bijaksana di mana ketetapan-Nya tidak bisa ditolak atau dibatalkan oleh seluruh makhluk-Nya. Dalam firman-Nya disebutkan, “Patutkah aku mencari hakim selain Allah? Padahal Dialah yang menurunkan kitab (al-Quran) kepadamu dengan terperinci…” (Q.S. al-An’am: 114).

 



Al-‘Adl (Maha Adil)

 

Allah swt memiliki keadilan hakiki yang dapat dirasakan oleh seluruh makhluk-Nya. Kata al-‘Adl juga menunjuk pada arti memelihara kewajaran atas berlanjutnya eksistensi, tidak mencegah kelanjutan eksistensi dan perolehan rahmat ketika terdapat banyak kemungkinan untuk itu. Kata atau sifat al-‘Adl yang disandarkan pada Allah juga memiliki arti bahwa keputusan-Nya tidak pernah menimbulkan kerugian dan unsure aniaya pada makhluk-makhluk-Nya. Di dalam al-Quran, kata al-‘adl disebutkan sekitar 12 kali dalam berbagai tempat dan konteks pembicaraan. Salah satu firman-Nya adalah, “Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu untuk berbuat adil dan berbuat kebajikan…” (Q.S. an-Nahl: 90).

 



Al-Lathīf (Maha Lembut)

 

Allah swt melimpahkan segala anugerah-Nya secara halus dan tersembunyi tanpa diketahui dan disadari oleh mahkulk-Nya. Allah swt juga menciptakan sebab-sebab yang tidak terduga untuk meraih anugerah-Nya itu. Sifat al-Lathīf juga berarti bahwa Allah sangat peka terhadap berbagai keluhan yang dirasakan hamba-hamba-Nya dan memberi kelembutan-Nya hingga mereka merasa tenteram dan bahagia. Kata al-Lathīf disebutkan sebanyak 7 kali dalam al-Qur'an, 5 di antaranya disandingkan dengan sifat al-Khabīr, yaitu: Q.S. al-An’am (6): 103; al-Hajj (22): 63; Luqman (31): 16; al-Ahzāb (33): 34; dan al-Mulk (67): 14.

 



Al-Khabīr (Maha Cermat, Maha Mengetahui)

 

Allah swt mengetahui dan cermat hingga hal-hal yang sangat dalam dan tersembunyi menjadi tidak tersembunyi bagi-Nya. Kata al-Khabīr meliputi tiga hal yang amat sulit atau mustahil diketahui manusia: tempat kematian; kualitas kemuliaan dan ketakwaan seseorang; dan rahasia yang sangat dipendam. Kecermatan pengetahuan Allah tidak dipengaruhi oleh siapa dan apapun yang bisa merusak atau mengurangi kecermatan-Nya. Kata al-Khabīr disebutkan sekitar 45 kali dalam al-Quran. Sebagian besar berkaitan dengan pengetahuan Allah terhadap beragam perilaku dan tindakan hamba-hamba-Nya.

 



Al-Halīm (Maha Penyantun)

 

Allah swt beruasa mutlak menangguhkan pembalasan dan siksa-Nya pada makhluk-Nya. Allah swt juga tetap memberikan ampunan dan anugerah-Nya bagi hamba-Nya seraya memberi kesempatan agar memperbaiki. Sikap santun Allah tetap berlaku pada seluruh hamba-hamba-Nya. Bagi hamba-hamba-Nya yang durhaka, sikap santun-Nya ditujukan agar mereka sadar dari perbuatan yang aniaya. Sedang sikap santun-Nya pada hamba-hamba-Nya yang taat, diberikan pahala dan anugerah yang besar hingga mereka merasakan kesenangan dan kebahagiaan.

 



Al-‘Azhīm (Maha Agung)

 

Allah swt Maha Agung yang keagungan-Nya tidak dapat dilihat oleh mata dan tidak dapat dijangkau oleh nalar akal akan hakikat aksistensi-Nya. Jiwa dan akal patuh pada perintah-Nya dan larut di dalam cinta-Nya. Keagungan-Nya juga bisa dilihat dari penciptaan-Nya yang sangat besar, yaitu langit dan bumi beserta seisinya. Penciptaan-Nya sangat besar dan tidak terbatas serta tidak terjangkau oleh kekuatan manusia. Kata al-‘Azhīm disebutkan sekitar 107 kali dalam al-Quran. Sebagian berkaitan dengan keagungan Allah, sebagian lagi berkaitan dengan anugerah-Nya yang besar, dan sebagian lagi berkaitan dengan siksa-Nya yang besar atau dahsyat.

 



Al-Ghafūr (Maha Pengampun)

 

Allah swt memberi ampunan tidak terbatas pada hamba-hamba-Nya, tanpa harus mereka memohon terlebih dahulu. Kata al-Ghafūr juga berarti menutupu aib atau kesalahan di dunia dan akhirat; juga Allah swt memberi banyak ampunan. Sifat al-Ghafūr disebutkan sebanyak 11 kali dalam al-Quran. Sebagian besar sifat al-Ghafūr bergandengan dengan sifat ar-Rahīm yang berarti Maha Penyayang. Penyandingan sifat ar-Rahīm menunjukkan arti penegasan bahwa dalam sifat ampunan Allah juga terdapat sifat kasih sayang yang diberikan Allah pada setiap makhluk-Nya, baik mereka yang masih durhaka maupun yang berusaha memohon ampunan kepada-Nya.

 



Asy-Syakūr (Maha Menerima Syukur)

 

Allah swt memberi banyak pahala dan kenikmatan bagi hamba-hamba-Nya yang meskipun sedikit berbuat kebajikan. Allah swt memberi kenikmatan setiap hamba-Nya walau mereka tidak bersyukur pada-Nya. Sifat asy-Syakūr juga bisa diartikan bahwa Allah memberi peluang pada setiap hamba-Nya agar bersyukur atau berterima kasih atas segala karunia yang dilimpahkan –Nya pada hamba-hamba-Nya. Kata asy-Syakūr yang disandarkan pada Allah sebenarnya tidak terdapat dalam al-Qur'an. Yang ada adalah penegasan Allah bahwa sedikit sekali dari hamba-hamba yang memiliki sifat asy-syakūr. Perhatikan firman Allah swt, “Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung tinggi dan patung-patung serta piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih” (Q.S. Saba' []: 13).

 



Al-‘Aliy (Maha Tinggi)

 

Allah swt memiliki ketinggian yang tidak dapat diukur dengan segala ketinggian, tidak dapat dibayangkan dan dinalar dengan akal, dan tidak dapat dirasakan dengan emosi jiwa. Sifat tinggi yang disandarkan pada Allah tidak memiliki ketergantungan dan asosiasi dengan apa dan siapa pun, juga tidak memiliki sebab-akibat yang mengantarkan diri-Nya menjadi Maha Tinggi. Ketinggian yang ada pada Allah bersifat independen dan abadi karena tidak mengalami penyusutan dan pengurangan yang menyebabkan ketinggian-Nya menjadi tidak sempurna atau cacat. Kata al-‘Aliy juga melambangkan keagungan dan keperkasaan-Nya. Sifat al-‘Aliy disebutkan sebanyak 6 kali dalam al-Quran, 4 di antaranya disandingkan dengan sifat al-Kabīr sehingga menjadi al-‘Aliy al-Kabīr. Sedang 2 lainnya disandingkan dengan sifat al-‘Azhīm (al-‘Aliy al-‘Azhīm) seperti disebutkan dalam Q.S. al-Baqarah (2): 255 dan Q.S. asy-Syūrā (42): 4.

 



Al-Kabīr (Maha Besar)

 

Allah swt memiliki kebesaran dan kesempurnaan zat dan eksistensi hingga tidak membutuhkan apa pun dari setiap eksistensi. Kata al-Kabīr juga berarti kebesaran ciptaan-Nya tidak tertandingi oleh apa dan siapa pun. Maha Besar yang disandarkan pada Allah juga memiliki arti bahwa ajaran yangturun dari-Nya memiliki hikmah dan kekuatan yang sangat besar hingga membuat hamba-hamba-Nya menjadi berada di posisi yang benar, mendapat petunjuk, dan bimbingan dari Allah. Kebesaran yang bersumber dari-Nya juga memiliki imbas sangat besar bagi hamba-hamba-Nya dalam memperoleh kebahagiaan, kesenangan, dan ketenteraman hidup di dunia dan akhirat. Sifat al-Kabīr disebutkan sebanyak 8 kali dalam al-Quran.

 



Al-Hafīzh (Maha Pemelihara)

 

Allah swt memiliki pemeliharaan yang senantiasa melestarikan segala eksistensi (mawjūdāt) dari kepunahan. Allah swt juga melestarikan terjadinya harmoni dari dua hal yang bertentangan: atas-bawah, langit-bumi, bulan-bintang, dan lainnya. Sifat al-Hafīzh juga memiliki arti bahwa segala sesuatu tanpa pemeliharan dari Allah akan mengalami kebinasaan yang kehancuran. Pemeliharaan dari Allah senantiasa aktif dan tidak pernah keliru. Segala keharmoisan penciptaan yang ada di langit dan di bumi tidak kepas dari pemeliharaan Allah di dalamnya. Kata al-Hafīzh atau Hafīzh disandarkan pada Allah dan sebagian hamba-hamba-Nya. Dalam Q.S. Yūsuf (12): 55 menceritakan tentang sifat hafīzh (pandai menjaga atau memelihara) nabi Yusuf as. Sedang pada Q.S. an-Nisā' (4): 80 berisi penegasan Allah swt pada nabi Muhammad tidak bertugas sebagai hafīzh (pemelihara atau penjaga) segala perbuatan dosa dan kesalahan kaumnya, juga tidak bertanggung jawab atas kesesatan yang dialami mereka.

 



Al-Muqīt (Maha Pemberi (kebutuhan pokok, rezeki))

 

Allah swt berkuasa mutlak memberi rezeki yang mencukupi seluruh makhluk-Nya. Kata al-Muqīt juga berarti bahwa pada hakikatnya, Allah swt lah yang mengirim makanan ke dalam jasmani atau fisik setiap makhluk-Nya. Dengan demikian, seluruh eksistensi makhluk hidup yang ada di bumi dan di langit pada hakikatnya bergantung dan membutuhkan materi yang bersumber dari Allah. Satu-satunya sifat al-Muqit yang disandarkan pada Allah terdapat dalam Q.S. an-Nisā' (4): 85, “Siapa yang memberikan syafa'at yang baik, niscaya dia akan memperoleh bagian (pahala). Dan siapa yang memberi syafa'at yang buruk, niscaya ia akan memikul bagian (dosa). Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

 



Al-Hasīb (Maha Menghitung (amal), Maha Mencukupi)

 

Allah swt berkuasa mutlak menghitung segala amal perbuatan hamba-hamba-Nya, baik ketika di dunia maupun di akhirat. Kata al-Hasīb juga berarti bahwa Allah swt lah satu-satu-Nya yang bisa mencukupi apa dan siapa saja yang mengandalkan-Nya. Penghitungan amal yang dilakukan Allah tidak membutuhkan alat hitung dan intrumen lain seperti yang dibutuhkan makhluk-Nya. Perhitungan Allah bersifat independent, abadi, dan berkesinambungan. Kata al-Hasīb juga bisa dikaitkan dengan pertolongan yang hanya dicukupkan pada Allah semata, seperti dalam firman-Nya, “…Cukuplah Allah Penolong kami dan Allah sebaik-baik Pelindung” (Q.S. Ali Imran [3]: 173).

 



Al-Jalīl (Maha Luhur)

 

Allah swt memiliki keluhuran yang meniadakan adanya kebutuhan, ketergantungan, kelemahan, kehinaan, kehancuran, dan segala sesuatu yang dipandang cacat. Allah swt lah yang memiliki keluhuran dalam setiap eksistensi zat dan sifat-Nya.

 



Al-Karīm (Maha Mulia)

 

Allah swt memberi anugerah yang tidak dapat dijangkau oleh harapan dan selera cita rasa tinggi apa pun. Kata al-Karīm juga berarti bila Allah swt berjanji selalu ditepati, bila memberi selalu melampaui batas harapan si peminta; dan Dia tidak peduli kepada apa dan siapa pun serta berapa pun memberi. Sifat al-Karīm juga berarti pada diri Allah terdapat kemuliaan yang dapat dirasakan dan dinikmati oleh hamba-hamba-Nya yang mencari kemuliaan tersebut. Sifat al-Karīm juga memiliki arti bahwa Allah swt adalah sumber pemberi rezeki yang baik dan terpuji sehingga rezei yang diperoleh oleh hamba-hamba-Nya bisa digunakan untuk berbagai perbuatan yang baik dan luhur. Kata al-Karīm disebutkan cukup banyak dalam al-Quran, salah satunya terdapat dalam Q.S. al-Infithār (82: 6), “Wahai manusia, apakah yang telah melalaikanmu hingga berbuat durhaka terhadap Tuhanmu yang Mulia”.

 



Ar-Raqīb (Maha Mengawasi, Maha Mengintai)

 

Allah swt memiliki kesempurnaan dalam pengawasan, pengamatan, dan kesaksian setiap saat pada setiap hamba-hamba-Nya. Makna ar-Raqīb tidak bertujuan investigatif, tetapi memberi motivasi untuk berbuat kebaikan dan kebajikan. Kata ar-Raqīb atau Raqīb disebutkan sekitar 3 kali dalam al-Quran, yaitu: Q.S. an-Nisā' (4): 1; al-M'1iadah (5): 117; dan al-Ahzāb (33): 52. Ketiga ayat tersebut memberitakan tentang kekuasaan Allah dalam memberikan pengawasan kepada setiap gerak-gerik seluruh makhluk-Nya. Namun kata ar-raqīb bisa juga dikaitkan dengan sesuatu yang membelit, misalnya kata riqāb yang berati hamba sahaya atau budah. Artinya seorang budak selalu berada di bawah pengawasan tuannya. Jika dikaitkan dengan kekuasaan Allah, maka bisa juga diartikan bahwa ar-Raqīb bisa berkaitan dengan pengawasan yang terus-menerus dari Allah atas hamba-hamba-Nya.

 



Al-Mujīb (Maha Menerima (doa))

 

Allah swt menyambut setiap doa (permohonan) hamba-hamba-Nya dengan dikabulkan, memberi si peminta tanpa batas, dan bahkan memberi tanpa didahului oleh permohonan. Penerimaan doa atau permohonan hamba-hamba-Nya tidak dibatasi dan disyaratkan dengan segala sesuatu yang bisa merugikan mereka. Al-Mujīb juga berarti bahwa Allah menganjurkan hamba-hamba-Nya agar senantiasa berdoa pada-Nya, seperti dalam firman-Nya, “Dan bila hamba-hamba-Ku bertanya padamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa bila dia memohon pada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman pada-Ku agar mereka mendapat petunjuk” (Q.S. al-Baqarah: 186).

 



Al-Wāsi’ (Maha Luas)

 

Allah swt memiliki keluasan dalam ilmu-Nya, kekuasaan-Nya, pemberian-Nya, penciptaan-Nya, dan rahmat-Nya yang tidak terjangkau oleh nalar akal dan jiwa. Keluasan yang ada pada Allah tidak pernah berkurang, tidak pernah menyusut, dan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Keluasan Allag bersifat universal, mutlak, dan abadi. Kata al-Wāsi’ atau Wāsi’ yang disandarkan pada Allah disebutkan sebanyak 8 kali, 7 di antaranya disandingkan dengan kata ‘Alīm sehingga menjadi Wāsi’ ‘Alīm. Sedangkan 1 ayat disebutkan dengan kata Wāsi’ al-maghfirah yang artinya “Allah Maha Luas ampunan-Nya”.

 



Al-Hakīm (Maha Bijaksana)

 

Allah swt memiliki kesempurnaan dalam mengambil keputusan menyangkut berbagai persoalan makhluk-mahkluk-Nya. Kesempurnaan itu berkaitan dengan hikmah dibalik setiap keputusan-Nya. Kata al-Hakīm juga memiliki arti bahwa Allah memiliki kesempurnaan yang diiringi keperkasaan dan pengetahuan yang mutlak. Kata al-Hakīm disebutkan sekitar sekitar 42 kali dalam al-Quran. Sebagian besar kata ini bergandengan dengan kata atau sifat lain yang dimiliki Allah. Di antara yang paling sering adalah gandengan kata al-‘Azīz al-Hakīm, al-‘Alīm al-Hakīm, dan al-Hakīm al-Khabīr.

 



Al-Wadūd (Maha Mencintai, Maha Dicintai)

 

Allah swt paling berhak dicintai para makhluk-Nya sekaligus Dia lah yang paling berhak mecintai mereka. Kata al-Wadūd juga berarti bahwa Allah swt mencintai berbagai kebajikan hingga memberi kabikan pada para makhluk-Nya. Kata al-Wadūd atau Wadūd yang disandarkan pada Allah ditemukan di sekitar 2 tempat. Yang pertama ditemukan dalam Q.S. Hud (11): 90 di mana disebutkan kata Rahīm Wadūd (Yang Maha Pengasih dan Maha Mencintai). Yang kedua ditemukan di dalam Q.S. al-Burūj (85): 14 di mana disebutkan kata al-Ghafūr al-Wadūd (Yang Maha Pengampun dan Maha Mencintai).

 



Al-Majīd (Maha Luhur (perbuatan-Nya, dll))

 

Allah swt memiliki kesempurnaan dalam kemuliaan atau keluhuran. Dia lah yang memiliki kemuliaan dalam zat-Nya, keindahan dalam perbuatan-Nya, dan banyak memberikan anugerah bagi makhluk-Nya. Sifat al-Majīd yang disandarkan pada Allah juga memiliki arti bahwa kemluiaan-Nya juga memberi efek positif bagi makhluk-makhluk-Nya. Di dalam al-Quran disebutkan, “Para malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, wahai Ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah” (Q.S. Hūd: 73). Sandingan kata Hamīd Majīd menunjukkan bahwa keluhuran Allah secara bersamaan juga mengandung pujian yang layak disanjung pada-Nya.

 



Al-Bā’its (Maha Membangkitkan (di Hari Akhir))

 

Allah swt saja lah satu-satu-Nya yang berhak membangkitkan seluruh makhluk-Nya di Hari Kebangkitan (Hari Kiamat). Kata al-Bā'its juga berarti Allah swt berkuasa mengerakkan yang diam dan menampakkan yang tersembunyi. Allah memiliki kekuasaan untuk membangkitkan segala sesuatu, baik manusia, malaikat, jin, setan, binatang, dan jenis makhluk hidup lainnya. Mereka yang dibangkitkan memiliki arti adanya unsur kebinasaan dari masa sebelumnya Kebangkitan itu menunjukkan bahwa mereka mengalami kebinasaan. Sementara Allah yang Membangkitkan (al-Bā’its) menunjukkan bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha kekal.

 



Asy-Syahīd (Maha Menyaksikan (segala perbuatan))

 

Allah swt menyaksikan segala perbuatan seluruh makhluk-Nya. Kata asy-Syahīd juga berarti bahwa Allah swt hadir, tidak ghaib dari segala sesuatu, dan senantiasa nyata hadir dalam setiap hakikat yang ada. Kehadiran Allah tidak bersifat fisik, melainkan melalui sentuhan hati nurani dan akal fikiran. Persaksian atau kehadiran Allah atas hamba-hamba-Nya akan memberikan efek positif hingga mereka akan merasa senang, damai, tenteram, dan bahagia. Kata asy-Syahīd yang disandarkan pada Allah disebutkan sekitar 9 kali. Salah satunya adalah firman-Nya, “Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu” (Q.S. al-Burūj: 9).

 



Al-Haqq (Maha Benar, Maha Pasti)

 

Allah swt adalah satu-satunya yang memiliki kemantapan dan kepastian dalam kebenaran. Allah swt juga disebut al-Haqq karena Dia tidak mengalami perubahan sedikit pun. Kata al-Haqq juga berarti Dia lah yang hanya dan paling berhak disembah oleh seluruh hamba-Nya. Kata al-Haqq juga berarti bahwa Allah lah satu-satunya yang sangat real (The Real) karena eksistensi-Nya tidak pernah binasa dan senantiasa hidup tanpa dibatasi ruang dan waktu, tanpa didahului oleh permulaan dan tanpa diakhiri dengan kepunahan. Kata al-haqq yang disandarkan pada Allah disebutkan sekitar 187 kali, sebagian besar berkaitan dengan kebenaran yang diterima para nabi, yang ada dalam kitab suci, dan wahyu. Sebagian besar kata al-haqq yang ada dalam ayat-ayat al-Quran berisi penegasan bahwa kebenaran (al-haqq) berasal dari Allah.

 



Al-Wakīl (Maha Mewakili, Maha Mengurusi)

 

Allah swt adalah satu-satunya yang paling berhak menjadi sandaran sebagai Wakil yang mengurusi berbagai persoalan seluruh makhluk-Nya. Penyerahan urusan kepada Sang Wakil (Allah swt) tidak berarti bahwa manusia sebagai makhluk-Nya tidak berusaha sama sekali, tetapi justru berdasarkan pada usahanya. Al-Wakīl juga bisa diartikan bahwa Allah adalah satu-satu-Nya yang berhak mewakili seluruh kepentingan dan kebutuhan seluruh makhluk-Nya, baik yang ada di bumi amupun di langit, baik yang ada di dunia maupun yang ada di akhirat. Salah satu ayat yang terkenal dalam menggambarkan sifat al-Wakīl adalah Q.S. Ali Imran: 173.

 



Al-Qawiy (Maha Kuat)

 

Allah swt memiliki kesempurnaan dalam kekuatan. Dia berhak memberikan kekuatan kepada makhluk yang dipilih-Nya. Kekuatan-Nya bersifat abadi, mutlak, tidak berubah, dan mandiri. Kekuatan Allah tidak dipengaruhi oleh segala kekuatan yang ada pada makhluk-Nya. Kekuatan Allah tidak memerlukan bantuan dari siapa dan apapun. Kata al-Qawiy atau Qawiy disebutkan sekitar 10 kali di dalam al-Quran dengan rincian: 6 kali disebutkan kata Qawiy ‘Azīz, 2 kali Qawiy Syadīdul ‘Iqāb, da 2 lagi Qawiy Amīn.

 



Al-Matīn (Maha Kokoh)

 

Allah swt memiliki kekokohan dalam kekuatan-Nya (pada sifat al-Qawiy-Nya). Kekuatan-Nya bersifat abadi, mutlak, tidak berubah, dan mandiri. Kekokohan Allah tidak dibantu oleh siapa dan apapun yang ada di seluruh alam semesta. Kekokohan Allah juga bisa dikaitkan dengan kekuatan-Nya argumen dan bukti-bukti ciptaan-Nya yang sangat luas, kuat, dan kaya dengan beragam potensi yang terkandung di dalamnya. Kata al-Matīn disebutkan sekitar 3 kali dalam al-Quran, yaitu: Q.S. al-A’raf [7]: 183; adz-Dzariyat [51]: 58; dan al-Qalam [68]: 45.

 



Al-Waliy (Maha Pelindung, Maha Pembela)

 

Allah swt menjadi Wali (Pelindung sekaligus Pembela) bagi orang-orang beriman, menganugerahkan akal dan jiwa hingga mereka percaya kepada-Nya. Kata al-Waliy juga berarti Allah swt yang mencintai dan yang membela para wali Allah hingga mereka tidak memiliki kekhawatiran dan ketakutan dari makhluk-makhluk-Nya. Pembelaan Allah bisa berupa pemberian kekuatan, semangat hidup, Sifat al-Waliy yang disandarkan pada Allah juga memiliki arti bahwa hanya Allah lah satu-satunya yang berhak menyandang sebagai al-Waliy, baik sebagai Tuhan, Pelindung, Pembela, maupun Pemelihara. Di dalam al-Quran disebutkan, “Atau patutkah mereka mengambil pelindung-pelindung selain Allah? Maka Allah, Dialah al-Waliy (Pelindung) dan Dia menghidupkan orang-orang yang mati dan Dia adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Q.S. asy-Syura: 9).

 



Al-Hamīd (Maha Terpuji)

 

Allah swt menciptakan segala sesuatu dengan baik dan atas dasar kehendak-Nya sendiri tanpa paksaan, sehingga segala perbuatan-Nya menjadi sangat terpuji. Dia lah yang menciptakan dan menghidupkan segala sesuatu beserta sarana untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sifat terpuji yang disandarkan pada Allah bersifat alamiah, pasti, da memaksa hamba-hamba-Nya untuk memuji seluruh ciptaan-Nya yang ada di langit dan di bumi. Kata al-Hamīd disebutkan sekitar 16 kali dalam al-Quran. Sebagian besar disandingkan dengan kata al-Hamīd atau Hamīd, juga dengan kata al-‘Azīz.

 



Al-Muhshiy (Maha Menghitung, Maha Mencatat (amal))

 

Allah swt mengetahui setiap bilangan segala sesuatu, mulai dari benda-benda jasad renik yang sangat kecil hingga gugusan bintang-bintang di angkasa. Kata al-Muhshiy juga berarti bahwa Allah swt mengetahui dengan cermat kadar hitungan amal perbutan setiap hamba-Nya. Perhitungan yang dilakukan Allah tidak memerlukan alat hitung maupun bantuan makhluk-makhluk-Nya. Perhitungan yang dilakukan Allah bersifat independen, dinamis, dan mutlak, tidak terpengaruh oleh perubahan apapun. Kata al-Muhshiy juga berkaitan dengan jumlah atau besaran nikmat Allah yang jumlah dan besarnya tidak terbatas di mana seluruh makhluk-Nya tidak akan mampu mengitungnya. Di dalam al-Quran disebutkan, “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q.S. an-Nahl: 18).

 



Al-Mubdi'u (Maha Memulai (segala penciptaan))

 

Allah swt adalah yang pertama dan tidak ada yang mendahului-Nya memulai segala penciptaan. Keterdahuluan dalam penciptaan-Nya tentu tidak ada yang mendahului-Nya. Al-Mubdi'u juga bisa diartikan bahwa keterdahuluan Allah tidak dimulai dari masa atau tertentu, juga tidak membutuhkan ruang dan hitungan waktu di mana Allah itu menjadi dahulu, karena Dia tidak sama dan berbeda sama sekali dengan makhluk-Nya. Kata al-Mubdi'u juga berkaitan dengan penciptaan Allah terhadap makhluk-Nya yang dimulai dari permulaan atas makhluk-Nya tersebut. Perhatikan firman Allah, “Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan [makhluk] dari permulaan dan menghidupkannya [kembali]” (Q.S. al-Buruj: 13).

 



Al-Mu’īd (Maha Mengembalikan (segala penciptaan))

 

Allah swt adalah sumber segala penciptaan sehingga kepada Allah swt pula segala sesuatu akan dikembalikan. Dia lah Allah swt yang berkuasa mutlak mengembalikan segala sesuatu. Sifat al-Mu’īd yang disandarkan pada Allah juga berarti bahwa Allah tidak memiliki pengakhiran, karena memang Dia tidak memiliki akhiran seagai tempat kembali. Allah mengembalikan segala ciptaan-nya memiliki arti bahwa seluruh makhluk-Nya akan dikembalikan pada ciptaan semula atau dibuat kembali ciptaan baru. Ini berarti bahwa seluruh makhluk-Nya memiliki perubahan dan potensi untuk musnah dan berubah. Allah adalah satu-satu-nya yang menguasai makhluk-makhluk-Nya untuk dikembalikan. Perhatikan firman-Nya, “Katakanlah: “…katakanlah: “Allah-lah yang memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali; maka bagaimanakah kamu dipalingkan?” (Yunus: 34).

 



Al-Muhyiy (Maha Menghidupkan)

 

Allah swt adalah satu-satunya pemberi kehidupan sejati bagi seluruh makhluk-Nya. Allah swt lah yang menghidupkan jiwa-jiwa hingga bersaksi akan eksistensi-Nya yang sejati. Kata al-Muhyiy juga berarti bahwa Allah swt berkuasa menghidupkan dan melapangkan iman para hamba-Nya. Di dalam al-Quran disebutkan, “Katakanlah: “…tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya…” (Q.S. al-A’raf: 158).

 



Al-Mumīt (Maha Mematikan)

 

Allah swt berkuasa mutlak mematikan segala sesuatu yang hidup karena Dia lah yang menciptakan kehidupan dan kematian sekaligus. Kata al-Mumīt juga berarti bahwa Allah swt berkuasa mematikan iman para hamba-Nya, juga mematikan hati mereka yang condong pada kekufuran dan keingkaran. Di dalam al-Quran disebutkan, “Katakanlah: “…tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya…” (Q.S. al-A’raf: 158).

 



Al-Hayy (Maha Hidup)

 

Allah swt adalah sumber kehidupan yang langgeng dan abadi serta menjadi penyebab bagi berlangsungnya kehidupan seluruh makhluk-Nya. Maha Hidupnya Allah swt bersifat mutlak dan mandiri, sedang selain-Nya senantiasa bergantung pada-Nya. Al-Hayy juga berarti bahwa Allah senantiasa hidup, tidak pernah mati dan tidak pernah binasa. Kata al-Hayy (di luar kata yuhyī) disebutkan sekitar 4 kali dalam al-Quran, yaitu: Q.S. al-Baqarah: 255; Ali Imran: 2; al-Furqan: 58; dan Ghafir: 65.

 



Al-Qayyūm (Maha Berdiri Sendiri, Maha Mengurusi)

 

Allah swt senantiasa berdiri sendiri dan mengurusi berbagai persoalan hamba-hamba-Nya. Kemandirian-Nya tidak memerlukan ruang dan waktu sehingga berbeda dari kemandirian makhluk-Nya yang masih memerlukan ruang dan waktu serta bergantung pada orang atau makhluk lainnya. Salah satu ayat popular yang sering disebut untuk menggambarkan sifat al-Qayyūm Allah adalah Q.S. al-Baqarah [2]: 255 yang kemudian oleh sebagian masyarakat muslim dikenal dengan sebutan “ayat kursī”.

 



Al-Wājid (Maha Menemukan (tidak kehilangan))

 

Allah swt memiliki kekuasaan mutlak yang tidak membutuhkan sesuatu apa pun. Kata al-Wājid juga berarti bahwa pengetahuan dan anugerah-Nya mengantarkan pada keputusan yang jelas untuk memberdayakan sesuatu atau hamba-Nya yang tidak berdaya. Sifat al-Wāijd juga berarti bahwa Allah mampu memberi petunjuk dan kasih saying-Nya pada hamba-hamba-Nya hingga mereka menemukan kembali petunjuk, semangat, optimis, dan ketentraman. Di dalam al-Quran disebutkan, “Bukankah Dia menemukanmu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia menemukanmu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan” (Q.S. adh-Dhuhā: 6 – 8).

 



Al-Mājid (Maha Mulia)

 

Allah swt memiliki kesempurnaan dalam kemuliaan atau keluhuran. Dia lah yang memiliki kemuliaan dalam zat-Nya, keindahan dalam perbuatan-Nya, dan banyak memberikan anugerah bagi makhluk-Nya. Kata al-Mājid tidak ditemukan dalam al-Quran, yang adalah adalah kata al-Majīd. Namun kata al-Mājid memiliki makna lebih daripada kata al-Majīd. Di dalam al-Quran, kata al-Majīd ditemukan sekitar 4 kali, yaitu: Q.S. Hud: 73; Qaf: 1, al-Buruj: 15 dan 21. Yang khusus disandarkan pada Allah adalah Q.S. Hud: 73.

 



Al-Wāhid (Maha Satu, Maha Esa)

 

Allah swt berdiri sendiri, tidak memiliki bagian-bagian, dan tidak berdua. Keesaan Allah swt tidak sama (misalnya) dengan satu atau esanya manusia yang di dalamnya masih memiliki unsur darah, tulang, kulit, saraf, dan lainnya. Kata al-Wāhid disebutkan sekitar 22 kali dalam al-Quran. Sebagian besar digandengkan dengan kata Ilāh hingga menjadi Ilāh Wāhid (artinya Tuhan Yang satu), seperti dalam ayat, “Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” (Q.S. al-Baqarah: 163).

 



Al-Ahad (Maha Satu, Maha Esa)

 

Allah swt Maha Esa meliputi zat, sifat, dan perbuatan-Nya. Kesatuan esa-Nya menjadikan Allah swt sebagai satu-satunya yang esa sejati dan mutlak; tidak semu dan tidak bergantung sama sekali pada siapa dan apa pun. Sifat satu atau tunggal pada Allah tidak mengandung arti satu yang berbilang atau satu yang semu. Satu pada diri Allah berarti satu sejati, mutlak, dan tidak pernah dimasuki unsur-unsur di luar diri-Nya. Salah satu ayat yang sering dijadikan rujukan adalah ayat, “Katakanlah, “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa” (Q.S. al-Ikhlash: 1).

 



Ash-Shamad (Maha Dibutuhkan (pertolongan-Nya))

 

Allah swt adalah satu-satu-Nya eksistensi yang berhak menjadi sandaran untuk segala pertolongan. Allah swt menjadi tujuan sekaligus sandaran dari segala harapan dan pertolongan. Dalam Q.S. al-Ikhlas (112): 1 – 4 disebutkan bahwa Allah adalah Maha Esa dan memiliki sifat ash-Shamad yang artinya Tuhan di mana segala sesuatu bergantung pada-Nya.

 



Al-Qādir (Maha Kuasa)

 

Artinya Allah Mahakuasa. Kekuasaan Allah swt adalah mutlak dan tidak terbatas. Dia Mahakuasa melakukan apa saja tanpa ada satu pun makhluk yang mampu menghalanginya. Sifat al-Qadir pada Allah disebutkan dalam Q.S. al-Maidah (5): 65. Dalam ayat itu dijelaskan tentang kekuasaan Allah atas segala makhluk-Nya. Kekuasaan itu juga berlaku dalam memberi adzab, pahala, dan segala sesuatu.

 



Al-Muqtadir (Maha Kuasa, Maha Pemberi (kadar, ukuran))

 

Maha Menetukan, Memberi kadar, dan Berkuasa. Allah swt Mahakuasa dalam menentukan segala sesuatu berdasarkan kekuasaan-Nya. Dalam Q.S. al-Qamar (54): 42 sifat al-Muqtadir menjadi kata sifat dari al-Aziz yang menjelaskan kekuasaan-Nya menyiksa hamba-hamba-Nya yang durhaka. Sedang dalam Q.S. al-Qamar (54): 55 kata al-Muqtadir menjadi kata sifat dari al-Aziz yang menjelaskan kekuasaan-Nya dalam memberi karunia surga (pada seluruh hamba-Nya yang beriman dan beramal shaleh). →

 



Al-Muqaddim (Maha Mendahulukan)

 

Maha Mendahulukan, Maha Mengutamakan. Allah mendahulukan dan mengutamakan siapa pun yang dikehendaki-Nya. Allah swt berhak mengutamakan beberapa manusia pilihan-Nya seperti para nabi, sahabat, dan para ulama shaleh. Allah juga berkuasa memajukan adzab atau siksa pada hamba-hamba-Nya yang durhaka, atau juga mengakhirkannya.

 



Al-Mu'akhkhir (Maha Mengakhirkan)

 

Maha Mengakhirkan;Maha Meninggalkan Allah swt berkuasa mutlak untuk mengakhirkan atau meninggalkan siapa saja yang pantas untuk itu. Dia juga berhak meniggalkan maksud dan tujuan hamba-Nya sesuai dengan yang dikehendaki-Nya. Allah juga berkuasa mengakhirkan adzab atau siksa pada hamba-hamba-Nya yang berbuat dosa. Bisa juga berarti Allah menagguhkan siksa-Nya pada siapa saja yang dikehendaki-Nya.

 



Al-Awwal (Maha Awal (tanpa ada yang mendahului))

 

Allah adalah Tuhan Yang Maha Awal Maha Awal yang dimiliki Allah tidak sama dengan hamba-hamba-Nya karena mereka memiliki awalan dan terikat pada ruang dan zaman atau waktu. Sifat awal yang dimiliki Allah tidak memiliki awalan. Dia Maha Awal tanpa awalan, sebagaimana juga Maha Akhir tanpa akhiran. Maha Awal yang ada pada Allah berarti bahwa Allah tidak terikat pada zaman dan ruang. Sifat awal yang ada pada Allah adalah abadi dan kekal. Sifat al-Awwal pada Allah disebut dalam Q.S. al-Hadid (57): 3 yang bersandingan dengan sifat al-Akhir, azh-Zhahir, al-Bathin yang diakhiri dengan sifat al-Alim (Maha Mengetahui segala sesuatu). →

 



Al-Ākhir (Maha Akhir (tanpa ada yang mengakhiri))

 

Allah adalah Tuhan Yang Maha Akhir yang tidak sama dengan hamba-hamba-Nya, karena mereka memiliki akhiran dan terikat pada ruang dan zaman atau waktu. Sifat akhir yang dimiliki Allah tidak memiliki awalan. Dia Maha Akhir tanpa akhiran, sebagaimana juga Maha Awal tanpa awalan. Maha Akhir yang ada pada Allah berarti bahwa Allah tidak terikat pada zaman dan ruang. Sifat akhir yang ada pada Allah adalah abadi dan kekal. Sifat al-Akhir pada Allah disebut dalam Q.S. al-Hadid (57): 3 yang bersandingan dengan sifat al-Awwal, azh-Zhahir, al-Bathin yang diakhiri dengan sifat al-Alim (Maha Mengetahui segala sesuatu). →

 



Azh-Zhāhir (Maha Nyata (penciptaan-Nya, hikmah-Nya)

 

Maha Nyata, Maha Real. Allah adalah Tuhan yang benar-benar nyata. Sifat nyata (real)pada diri Allah tentu bukan secara fisik, tetapi secara spiritual. Arti nyata (real) pada kata sifat azh-Zhahir yang disandarkan pada Allah, tidak sama dengan “empiris” (empirical) yang hanya diukur dengan panca indra semata. Jika kita mengatakan bahwa pikiran itu ada dalam otak, maka otak yang berupa susunan syaraf itu adalah “empiris”. Sedang pikiran yang bersemayam dalam otak adalah “real”. Oleh karena itu, jika ingin merasakan bahwa Allah benar-benar real, kita harus memaksimalkan aspek real yang ada dalam fisik kita, seperti pikiran dan hati nurani. Sifat azh-Zhahir pada Allah disebut dalam Q.S. al-Hadid (57): 3 yang bersandingan dengan sifat al-Awwal, al-Akhir, dan al-Bathin yang diakhiri dengan sifat al-Alim (Maha Mengetahui segala sesuatu). Dengan menggunakan akal pikiran dan hati nurani, kita akan bisa mengenal dan merasakan bahwa Allah itu benar-benar nyata, baik wujud-Nya, penciptaan-Nya, maupun hikmah dan pengaturan-Nya. →

 



Al-Bāthin (Maha Tersembunyi)

 

Maha Tersembunyi berarti hakikat Allah tidak dapat dijangkau atau diketahui oleh siapa pun dan apapun. Hal ini sesuai dengan Q.S. al-An’am (6): 103 yang menjelaskan tentang sifat al-Lathif dan al-Khabir pada diri Allah. Allah memiliki sifat tersembunyi bukan berarti eksistensi-Nya tidak dapat dirasakan, karena Dia adalah Yang Maha Pencipta (al-Khaliq) dan Maha Hidup (al-Hayy). Dengan demikian eksistensi-Nya bisa dirasakan, meski orang itu buta. Namun, Allah menjadi sangat tersembunyi dan jauh bagi orang-orang yang durhaka, karena mata hati mereka telah buta.

 



Al-Wāli (Maha Memerintah, Maha Mengurusi)

 

Maha Memerintah; Maha Mengurus. Hanya Allah yang berhak menyandang sifat Maha Memerintah atau Maha Mengurus. Dialah yang menguasai dengan cara memerintah ddan mengurus segala makhluk dan apapun yang ada di alam semesta, baik di bumi, langit, angkasa raya, dan alam akhirat. Sifat pengurusan atau pengelolaan Allah bersifat abadi, kontinyu, dan tidak terbatas ruang dadn waktu. Sifat al-Wali pada Allah disebut dalam Q.S. asy-Syura (42): 9 dan 28. Dalam ayat itu disebutkan bahwa Allah adalah al-Wali yang mampu menghidupkan sesuatu yang mati dan Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dalam ayat itu juga dijelaskan sifat al-Wali yang disandingkan dengan sifat al-Hamid yang berkaitan dengan kekuasaan Allah dalam menurunkan hujan dan menebarkan kasih sayang-Nya. Sifat al-Wali juga berarti bahwa Allah adalah Pengurus atau Pelindung bagi orang-orang yang bertakwa, seperti disebut dalam Q.S. al-Jatsiyah (45): 19.

 



Al-Muta’āli (Maha Tinggi)

 

Allah Mahatinggi yang ketinggian-Nya tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Sifat Maha Tinggi bagi Allah juga berarti terbebas dan jauh dari unsur-unsur syirik yang dilakukan orang-orang musyrik. Aifat al-Muta’ali pada Allah juga berarti bahwa Dia Maha Kuasa terhadap segala sesuatu. Di dalam al-Quran, sifat al-Muta’ali disebutkan dalam Q.S. ar-Ra’d (13): 9 yang disandingkan dengan sifat Yang Maha Mengetahui hal-hal ghaib dan hadir (fisik) serta dibarengi dengan sifat al-Kabir.

 



Al-Barr (Maha Dermawan, Maha Pemberi Kebajikan)

 

Maha Memberi Kebajikan Segala kebajikan bersumber dan kembali pada Allah. Kebajikan dari Allah meliputi seluruh makhluk-Nya, baik mereka taat maupun durhaka, baik di dunia maupun di akhirat. Sifat al-Barr terdapat dalam Q.S. ath-Thur (52): 28. Dalam ayat itu, al-Barr disandingkan dengan sifat ar-Rahim yang memiliki makna Allah Yang Maha Pengasih. Kebajikan yang diberikan Allah juga berarti Allah memelihara hamba-hamba-Nya dari siksa-Nya. Sifat kebajikan pada Allah juga berarti bahwa Dia tidak menyukai sikap dan perilaku keras dan aniaya pada hamba-hamba-Nya. Al-Barr juga bisa berarti daratan, lawan dari al-bahr yang berarti lautan. Dalam konteks sifat al-Barr pada Allah, kebajikan yang bersumber dari-Nya juga meliputi daratan dan lautan, juga adanya bintang-bintang di langit sebagai petunjuk bagi hamba-hamba-Nya ketika berjalan di kegelapan malam, seperti disebut dalam Q.S. al-An’am (6): 97.

 



At-Tawwāb (Maha Menerima ampunan dan taubat)

 

Allah-lah yang selalu menggugah dan menganjurkan umat manusia agar bertaubat. Secara bahasa, ath-thawwab artinya sangat atau bertekad menerima ampunan. Dengan demikian, sifat ath-Thawwab yang disandarkan pada Allah memiliki arti bahwa Allah memuji hamba-hamba-Nya yang kembali dari perbuatan maksiat dan dosa menuju jalan kebaikan yang lurus. Allah membangunkan hati orang-orang beriman dari kelalaian melalui cinta. Sifat at-Tawwab bisa dibaca dalam Q.S. at-Taubah [9]: 104 yang disandingkan dengan sifat ar-Rahim. Dalam ayat itu berisi penegasan bahwa Allah menerima taubat dan ampunan dari hamba-hamba-Nya.

 



Al-Muntaqim (Maha Mengancam, Menyiksa, Memberi Balasan)

 

Allah adalah satu-satu-Nya Tuhan yang berhak memberi siksa bagi hamba-hamba-Nya yang berbuat aniaya dan durhaka. Dia-lah Tuhan yang memiliki kekuasaan mutlak dalam memberi hukuman dan siksaan. Kata al-Muntaqim tidak ditemukan dalam al-Quran, yang ada adalah bentuk plural (jamak) dari muntaqim, yaitu muntaqimun, seperti dalam Q.S. as-Sajdah (32): 22 yang menyatakan bahwa Allah (beserta para malaikat-Nya) akan menyiksa orang-orang yang berbuat aniaya dan berpaling dari ayat-ayat-Nya. Kata al-Muntaqim juga disandarkan pada kata milik menjadi Dzuntiqam yang berarti Pemilik siksa, seperti dalam Q.S. Ali Imran (3): 4 yang menjelaskan siksa Allah sangat pedih bagi hamba-hamba-Nya yang ingkar. Dalam surah ini, kata Dzuntiqam disandingkan dengan kata al-Aziz yang berarti Maha Perkasa.

 



Al-‘Afuww (Maha Pema’af)

 

Allah Maha Pemaaf bagi orang-orang yang bersalah atau berbuat dosa. Pemberian maaf ALlah tidak hanya pada orang-orang yang sengaja meminta maaf, tetapi juga pada mereka yang tidak meminta maaf. Pemberian maaf Allah sangat lah besar dan luas, karena tidak perlu menunggu atau berharap pada hamba-hamba-Nya agar mereka meminta maaf. Di dalam al-Quran, kata al-Afuww disebutkan dalam beberapa ayat, antara lain Q.S. an-Nisa'(4): 149. Dalam ayat itu disebutkan tentang besarnya sifat pemaaf yang dimiliki Allah yang disandingkan dengan kata al-Qadir. Dalam beberapa ayat lain, kata Afuww lebih sering disandingkan dengan kata Ghafur yang artinya Maha Pengampun, sebagai isyarat bahwa sifat pemaaf Allah juga berkaitan dengan sifat pengampun, seperti: Q.S. an-Nisa' (4): 99; al-Hajj (22): 60; dan al-Mujadalah (58): 2.

 



Ar-Ra'ūf (Maha Pemberi (kasih sayang))

 

Allah adalah Tuhan yang memberi kasih dan sayang. Pemberian kasih-Nya ditujukan pada seluruh umat manusia, tetapi kasih dan sayang-Nya lebih dikhususkan pada hamba-hamba-Nya yang beriman. Dalam Q.S. al-Baqarah (2): 143 disebutkan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan iman hamba-Nya, Dia adalah ar-Ra’uf (Maha Pengasih) dan ar-Rahim (Maha Penyayang) pada umat manusia. Dalam al-Quran, kata ar-Ra’uf sering disandingkan dengan kata ar-Rahim (Maha Penyayang), misalnya dalam beberapa surah berikut: Q.S. at-Taubah (9): 117 dan 128; an-Nahl (16): 7 dan 47; al-Hajj (22): 65; an-nur (24): 20; dan al-Hadid (57): 9. Banyaknya sifat ar-Ra’uf yang bersandingan dengan ar-Rahim menunjukkan bahwa Allah sangat menonjolkan sifat kasih sayang-Nya pada hamba-hamba-Nya.

 



Mālikul Mulk (Maha Pemilik Kekuasaan)

 

Allah adalah Tuhan yang menguasai segala kerajaan yang ada di langit dan di bumi. Kerajaan-Nya meluas di sepanjang langit, bumi, dan hari akhir. Dalam mengurus kerajaan-Nya, Allah tidak membuthkan bantuan dari apapun dan siapa pun. Allah adalah Pemberi sekaligus Pencabut kerajaan pada siapa pun yang dikehendaki-Nya. Dia juga Maha Kuasa untuk memuliakan atau menghinakan pada siapa saja yang dikehendaki-Nya, seperti dalam Q.S. Ali Imran (3): 26. Sifat Malik al-Mulk yang disandarkan pada Allah juga memiliki arti bahwa kerajaan hakiki hanya milik Allah. Kerajaan-Nya berbeda dari kerajaan yang dimiliki hamba-hamba-Nya, karena kerajaan-Nya kekal, abadi, dan tanpa batas ruang dan waktu. Sifat Malik al-Mulk juga menegaskan bahwa Allah ekuasaan mutlak dalam menciptakan, mengatur, dan mengendalilkan seluruh kerajaan yang ada di langit dan bumi, di dunia dan di akhirat.

 



Dzu al-Jalal wa al-Ikram (Maha Memiliki Keluhuran dan Kemuliaan)

 

Kata Dzu al-Jalal wa al-Ikram hanya disebutkan sekali dalam al-Quran, yakni Q.S. ar-Rahman (55): 27. Dalam ayat ini ditegaskan bahwa satu-satunya zat yang kekal dan abadi adalah Allah yang memiliki kebesaran dan kemuliaan. Pada ayat sebelumnya (Q.S. ar-Rahman (55): 26) disebutkan bahwa semua makhluk akan binasa. Ini menegaskan hanya Allah lah yang kekal dan abadi. Dalam ayat ini juga terdapat hubungan paradoksal antara yang abadi dan yang temporal. Yang abadi hanya punya Allah, termasuk al-Jalal (kebesaran) dan al-Ikram (kemuliaan). Sedang yang temporal dan binasa adalah milik makhluk-Nya. Sifat al-Jalal pada Allah juga bisa diartikan bahwa Allah adalah Pemberi kebesaran kepada hamba-hamba-Nya, seperti kekayaan, tanah yang luas dan subur, kemewahan, dan berbagai benda-benda material. Sedangkan sifat al-Ikram pada Allah juga bisa diartikan bahwa Allah lah Pemberi sekaligus Sumber segala kemuliaan yang ada pada hamba-hamba-Nya, seperti jabatan, kesuksesan, popularitas, dan segala kebahagiaan yang diraih dan dirasakan hamba-hamba-Nya.

 



Al-Muqsith (Maha Adil, Maha Mengadili)

 

Maha Adil, Maha Mengadili Allah adalah Tuhan yang memiliki dan memutuskan segala persoalan secara adil. Kata al-Muqsith tidak ditemukan dalam al-Quran, yang adalah kata Qaiman bil Qisth (Penegak keadilan) yang disandarkan pada Allah, seperti dalam Q.S. Ali Imran (3): 18. Sifat al-qisth (keadilan) dalam ayat ini dibarengi dengan sifat al-Aziz (Maha Perkasa) dan al-Hakim (Maha Bijak). Sementara kata al-Muqsithin sebagai bentuk plural dari kata al-Muqsith, ditemukan pada 3 ayat dalam al-Quran, yaitu: Q.S. al-Maidah (5): 42; al-Hujurat (49): 9; dan Q.S. al-Mumtahinah (60): 8. Dalam tiga ayat ini terdapat kalimat “Sesungguhnya Allah mencintai al-muqsithin (orang-orang yang berbuat adil)”. Ini juga memiliki arti bahwa hamba-hamba Allah yang berbuat adil berarti telah berada di jalan yang bisa dicintai Allah sebagai Pemberi keadilan dan Sumber keadilan.

 



Al-Jāmi’ (Maha Menghimpun, Mengumpulkan)

 

"Allah memiliki kekuasaan untuk mengumpulkan atau menghimpun seluruh makhluk yang tersebar di penjuru langit dan bumi. Kekuasaan Allah dalam mengumpulkan tidak membutuhkan proses yang susah dan rumit, karena keseluruhan makhluk-Nya bisa langsung tunduk dengan perintah-Nya. Dalam Q.S. asy-Syura (42): 29 disebutkan bahwa Allah berkuasa menghimpun seluruh makhluk-Nya yang tersebar di langit dan di bumi, jika memang Dia berkehendak. Dalam al-Quran, kata Jami disebutkan di tiga tempat: 1) Q.S. Ali Imran (3): 9; 2) an-Nisa' (4): 140; dan 3) Q.S. an-Nur (24): 62. Ayat pertama berkaitan dengan kekuasaan Allah menghimpun umat manusia di Hari Kiamat. Ayat kedua berkaitan dengan kekuasaan Allah menghimpun kaum munafik dan kafir untuk dimasukkan ke dalam neraka Jahanam. sedang ayat ketiga berkaitan dengan urusan yang menghimpun atau memerlukan Rasulullah saw dan kaum beriman."

 



Al-Ghaniy (Maha Kaya, Maha Tidak Butuh)

 

Allah tidak memerlukan dan tidak butuh pada apapun dan siapa pun dari seluruh makhluk-Nya. Allah itu al-Ghaniy karena Dia adalah Sumber segala sesuatu yang dibutuhkan seluruh makhluk-Nya, Dia adalah Pencipta segala sesuatu, Dia adalah Pemberi segala sesuatu, dan Dia adalah tempat segala sesuatu bergantung pada-Nya (ash-Shamad). Kata al-Ghaniy atau Ghaniy disebutkan setidaknya 15 kali dalam al-Quran. Sebagian disandingkan dengan sifat-sifat Allah lainnya di mana paling banyak adalah Ghaniy-Hamid atau al-Ghaniy al-Hamid (Maha Kaya dan Maha Terpuji) yang masing-masing disebutkan dalam Q.S. al-Baqarah (2): 267, al-Hajj (22): 64, Luqman (31): 12 dan 26, Fathir (35): 15, al-Hadid (57): 24, al-Mumtahinah (60): 6, dan at-Taghabun (64): 6. Kata al-Ghaniy memiliki arti “Maha Tidak Butuh” pada segala sesuatu di alam semesta, seperti dalam Q.S. Ali Imran (3): 97 yang menegaskan bahwa Allah tidak butuh sama sekali pada alam semesta.

 



Al-Mughni (Maha Pemberi Kekayaan)

 

Allah adalah Pemberi kekayaan pada apapun dan siapa pun yang dikehendaki-Nya. Pemberian kekayaan yang diberikan Allah bersifat kekal dan adabi, tidak terbatas pada ruang dan waktu, juga meliputi segala sesuatu yang ada. Predikat sebagai Tuhan Pemberi kekayaan bisa diperhatikan dari segala ciptaan-Nya yang ada di langit dan di bumi. Berapa banyak kandungan kekayaan di bumi yang mampu dimanfaatkan umat manusia selama ribuan tahun bahkan mungkin jutaan tahun? Dan yang lebih menakjubkan adalah berapa banyak kekayaan yang terkandung dalam gugusan bintang di langit, matahari, dan benda-benda angkasa? Semua itu menunjukkan betapa Allah swt itu adalah al-Mughni (Pemberi kekayaan) pada makhluk-makhluk dan hamba-hamba-Nya, baik yang beriman maupun ingkar pada-Nya. Di dalam Q.S. an-Najm (53): 48 disebutkan bahwa Allah adalah yang memberi kekayaan dan kecukupan pada makhluk-Nya.

 



Al-Māni’ (Maha Pencegah, Maha Menghalangi)

 

Allah adalah Tuhan yang mencegah segala pergerakan, sikap, dan tindakan yang bisa merusak. Allah mampu mencegah kemungkinan terjadinya benturan antara satu ciptaan dengan ciptaan-Nya yang lain, baik yang ada di langit maupun di bumi. Namun segala esuatu yang sudah ditetapkan oleh-Nya, maka tidak ada satu makhluk pun yang dapat mencegah atau menggagalkan ketetapan-Nya itu. Di dalam al-Quran, kata al-Mani’ atau Mani’ sebagai subyek yang ditujukan langsung pada Allah, tidak ditemukan. Yang ada adalah bentuk kata kerja mana’a yang artinya “mencegah”, seperti dalam Q.S. al-Isra (17): 94 dan al-Kahfi (18): 55 yang kedua ayat ini membicarakan tentang tidak ada satu pun (dari makhluk Allah) yang mempu mencegah keimanan seseorang ketika telah datang hidayah/petunjuk padanya. Kata al-Mani bisa juga diartikan bahwa Allah Maha mampu mencegah hamba-Nya dari perbuatan aniaya dan ingkar dengan cara memperoleh petunjuk dari-Nya. Allah juga Maha Mencegah dari menyiksa hamba-hamba-Nya sesuai dengan yang dikehendaki-Nya.

 



Adh-Dhārr (Maha Pemberi Derita, Bahaya)

 

Kata adh-Dharr sebagai bentuk subyek tidak ditemukan dalam al-Quran, yang ada adalah bentuk derivatifnya, berupa kata benda dan kata kerja. Dalam Q.S. Yunus (10): 49 disebutkan bahwa tidak ada seorang pun, termasuk seorang nabi dan utusan-Nya yang mampu memberi bahaya atau manfaat kecuali atas izin Allah swt. Sifat adh-Dharr yang ditujukan pada Allah juga berarti bahwa tidak ada sesuatu apapun atau siapa pun yang bisa memberi bahaya pada Allah, seperti disebutkan dalam Q.S. Ali Imran [3]: 144. Sifat adh-Dhurr juga bisa merujuk pada makna bahwa Allah lah yang memberi segala macam penyakit yang menimpa pada umat manusia sebagai ujian bagi orang-orang beriman dan bencana bagi orang-orang yang ingkar pada-Nya.

 



An-Nāfi’ (Maha Pemberi Manfaat, Kegunaan)

 

Seperti kata adh-Dharr, kata an-Nafi’ sebagai bentuk subyek yang disandarkan pada Allah juga tidak ditemukan dalam al-Quran. Yang ada adalah bentuk derivatifnya, berupa kata benda dan kata kerja. Dalam Q.S. Yunus (10): 49 disebutkan bahwa tidak ada seorang pun, termasuk seorang nabi dan utusan-Nya yang mampu memberi bahaya atau manfaat kecuali atas izin Allah swt. Sifat an-Nafi’ yang ditujukan pada Allah juga berarti bahwa tidak ada sesuatu apapun atau siapa pun yang bisa memberi manfaat pada Allah, kecuali atas izin-Nya. Sifat an-Nafi’ juga bisa merujuk pada makna bahwa Allah lah yang memberi segala macam kesembuhan dari berbagai penyakit yang menimpa umat manusia.

 



An-Nūr (Maha Cahaya)

 

Sifat an-Nur bisa dilihat dalam Q.S. an-Nur (24): 35 yang menjelaskan bahwa Allah adalah Cahaya langit dan bumi. Dengan cahaya-Nya, seluruh makhluk bisa hidup dan berkembang. Dengan cahaya-Nya seluruh amalm semesta tunduk dan mengakui eksistensi-Nya dalam penciptaan dan pengaturan. An-Nur bisa juga berarti petunjuk Allah yang ditujukan pada umat manusia agar mereka tidak tersesat dan jauh dari kebenaran. Dalam Q.S. al-Maidah (5): 15 disebutkan bahwa kata Nur disandingkan dengan kata Kitab Mubin (kitab suci yang memberi penjelasan) yang berarti bahwa kata Nur bisa juga diartikan sebagai wahyu Allah berupa al-Quran dan utusan-Nya yang terakhir, yaitu nabi Muhammad saw. Kata an-Nur bisa juga merujuk pada arti adanya petunjuk Allah pada manusia berupa agama Islam, seperti dalam Q.S. az-Zumar (39): 22.

 



Al-Hādi (Maha Pemberi Petunjuk)

 

Allah adalah Sumber pemberi petujuk pada umat manusia. Petunjuk Allah ditujukan pada kaum beriman agar mereka mampu menempuh jalan yang benar dalam kehidupan mereka. Dalam Q.S. al-Fruqan (25): 31 yang menjelaskan bahwa musuh nabi dan rasul Allah adalah kaum pendosa dan penganiaya, dan Allah adalah satu-satunya sebagai Pemberi petunjuk (al-Hadi) dan Penolong (Nashir). Al-Hadi juga berarti bahwa Allah adalah Pemberi petunjuk pada jalan yang lurus (berupa agama-Nya) bagi kaum beriman, seperti disebutkan dalam Q.S. al-Hajj (22): 54. Kata al-Hadi juga berkaitan dengan kekuasaan Allah dalam memberi kesesatan pada seseorang secara mutlak tanpa ada satu orang pun yang mampu memberi petunjuk, seperti disebutkan dalam Q.S. al-A’raf (7): 186.

 



Al-Badī’ (Maha Pencipta Pertama)

 

Allah adalah Pencipta segala sesuatu yang baru. Maksudnya adalah bahwa sebelumnya tidak pernah ada suatu penciptaan yang mendahului penciptaan-Nya. Dalam Q.S. al-Baqarah [2]: 117 disebutkan bahwa Allah adalah Pencipta langit dan bumi yang menunjukkan bahwa tidak ada sesuatu atau siapa pun yang mampu mendahului penciptaan keduanya. Hanya Allah lah satu-satunya dan yang pertama menciptakan langit dan bumi. Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa al-Badi’ adalah Pencipta lebih lanjut dari al-Khaliq. Dengan demikian, jika al-Khaliq berarti penciptaan Allah dalam bentuk awal, maka al-Badi’ merupakan penciptaan-Nya lebih lanjut dengan berbagai perhiasan dan pernik-pernik yang bisa memanjakan dan membuat para hamba-Nya merasa senang, gembira, dan bahagia.

 



Al-Bāqiy (Maha Kekal, Maha Abadi)

 

Al-Baqi berarti bahwa Allah adalah satu-satunya yang kekal dan abadi. Selain dari-Nya akan binasa dan mengalami kepunahan dan kehancuran, seperti disebutkan dalam Q.S. ar-Rahman (55): 27. Al-Baqi juga berarti bahwa Allah lah satu-satunya Zat yang kekal dan abadi. Tidak ada satu apapun atau siapa pun yang mampu membinasakan atau menghancurkan-Nya. Al-Baqi juga bisa diartikan bahwa segala siksa dan pahala-Nya bersifat kekal, tidak akan binasa seperti apa yang dilakukan oleh umat manusia. Dalam Q.S. Thaha (20): 73 disebutkan bahwa pahala Allah adalah ganjaran terbaik dan siksa-Nya adalah kekal. Sifat al-Baqi juga untuk menunjukkan bahwa Allah lah satu-satu yang berhak disembah, dipuji, dan dimintakan pertolongan-Nya. Dengan sifat kekal-Nya ini, maka Dia layak mendapat gelar atau sifat kekal tersebut. Karena sifat al-Baqi pula, Allah berhak menguasai seluruh ciptaan-nya, baik yang ada di dunia, di langit dan bumi, maupun yang ada di akhirat nanti.

 



Al-Wārits (Maha Mewarisi)

 

Al-Warits memiliki arti bahwa Allah lah satu-satunya yang berhak memiliki segala bentuk warisan, termasuk segala hak milik yang ada pada hamba-hamba-Nya. Segala jenis kekayaan, jabatan, kebahagiaan, kesenangan, dan lainnya, yang telah binasa di tangan para pemiliknya, akan tetap diwarisi oleh Allah. Hal ini karena pada hakikatnya, Allah lah yang menciptakan dan memiliki segala warisan yang dimiliki oleh hamba-hamba-Nya dan segala makhluk-Nya yang ada di langit dan di bumi. Dalam Q.S. Maryam (190): 40 disebutkan bahwa Kami lah (Allah) yang mewarisi bumi dan segala isinya, dan bahwa mereka semua akan dikebalikan pada-Nya.

 



Ar-Rasyīd (Maha Membimbing, Maha Cermat (perbuatan-Nya))

 

Dalam al-Quran, kata rasyid ditemukan sebanyak tiga kali, semuanya ada di surah Hud dan berkaitan dengan manusia. Yang pertama ada pada Q.S. Hud (11): 78 yang berkaitan dengan pertanyaan nabi Luth as pada kaumnya soal laki-laki yang cerdas atau berpikir sehat agar mencintai lawan jenisnya, bukan pada sesama laki-laki. Yang kedua ada pada Q.S. Hud (11): 87 yang berisi sanjungan mengejek (satire) pada nabi Syuaib as sebagai ar-rasyid. Yang ketiga ada pada Q.S. Hud (11): 97 yang menyindir perintah raja Fir’aun sebagai tidak rasyid, tidak memiliki kecermatan dan kecerdasan. Kata atau sifat ar-Rasyid juga berarti bahwa segala urusan ditangani dan dikelola secara tepat dan sempurna tanpa bantuan dari apapun dan siapa pun. Pengeloaan itu bersifat sempurna dan hanya dimiliki oleh Allah swt.

 



Ash-Shabūr (Maha Sabar)

 

Sifat ash-Shabur yang disandang Allah tidak sama dengan yang disandang para hamba dan makhluk-Nya. Kesabaran Allah tidak dipengaruhi oleh sikap dan perilaku hamba-hamba-Nya. Meskipun mereka ingkar dan mendustakan ayat-ayat-Nya, Allah tetap memberi karunia-Nya, berupa penyediaan segala jenis kebutuhan yang diperlukan para hamba-Nya, mulai dari sandang, pangan, dan papan. Allah juga tetap mengatur matahari agar tetap terbit dan memberi kehidupan di muka bumi. Allah juga tetap menciptakan siang dan malam agar kehidupan umat manusia tetap berjalan secara serasi dan seimbang. Kesabaran yang dimiliki Allah bersifat kekal dan abadi. Kata ash-Shabur yang disandarkan pada Allah tidak ada dalam al-Quran. Yang ada adalah bahwa Allah mencintai atau bersama orang-orang yang memiliki sifat sabar, seperti dalam Q.S. al-Baqarah (2): 153 dan 249; Ali Imran (3): 146; al-Anfal (8): 46 dan 66.

Leave a Reply