Buku Pintar Al-Hadits

 Dilihat 420 x  -A   +A

Pengertian Hadits


Kedudukan Hadits

Kedudukan Hadits Hadits merupakan sebagai sumber ajaran Islam yang kedua setelah Al-Qur’an. Seperti halnya Al-Qur’an, hadits merupakan petunjuk dan penuntun bagi umat Islam. Hadits juga berfungsi memperjelas maksud dan penjelasan yang ada di dalam Al-Qur’an. Setiap perkataan, sikap, dan perbuatan Nabi Muhammad SAW mendapat bimbingan dan binaan langsung dari Allah SWT. Karena itu, Allah SWT menganjurkan pada umatnya agar taat pada Allah SWT dan kepada Rasul-Nya :

"Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (QS An-Nisa’ [4]: 59).

Itulah sekelumit penjelasan tentang kedudukan hadits dalam Islam.


Cara Nabi Mengajarkan Hadits

Ada beberapa cara atau metode yang diterapkan oleh Rasulullah SAW dalam mengajarkan hadits pada umatnya, yaitu :

  1. Al-tadarruj (berangsur-angsur) di mana Nabi SAW mengajarkan kepada umatnya agar dalam mengamalkan ajaran Islam (baik berupa Al-Qur'an maupun sunnah Rasulullah SAW) harus dijalankan secara berangsur-angsur, tidak sekaligus. Hal ini ditujukan agar tidak memberatkan ketika akan mengamalkan ajaran tersebut.
  2. Mendirikan pusat ilmu/pembelajaran yang awalnya dilakukan dengan cara "model home to home" yang bermula di rumah al-Arqam bin Abd Manaf sewaktu di Mekkah, lalu berpusat di masjid ketika Nabi SAW berada di Madinah. 
  3. Memperbaiki cara mendidik dan mengajar. Rasulullah SAW juga sering member contoh dan tatacara melaksanakan ajaran Islam, seperti tatacara shalat dan berwudhu.
  4. Variatif dan berjedah (berusaha agar para sahabat tidak mengalami kejenuhan). Artinya Rasulullah SAW juga menyisipkan beberapa variasi pembelajaran dan menyelingi dengan beberapa cerita dan nasehat yang beragam. Tujuannya agar tidak menjenuhkan dan membosankan para sahabat yang sedang belajar saat itu.
  5. Aplikatif-praksis; artinya Rasulullah SAW menganjurkan agar setiap ajaran (wahyu) yang diterima, harus bisa langsung diamalkan, bukan sebatas teori atau konsep saja. Istilah sekarang, Rasulullah SAW menerapkan prinsip "learning by doing" (belajar sambil praktik). 
  6. Memperhatikan kapasitas intelektual jama'ah. Rasulullah SAW menyadari bahwa kemampuan intelektual (kecerdasan) para sahabat tidak sama. Karena itu, beliau juga memperhatikan daya nalar dan kemampuan mereka dalam mencerna ajaran Islam yang disampaikan oleh beliau.
  7. Make easy not difficult (mempermudah, tidak mempersulit). Rasulullah SAW menerapkan prinsip "yassiruu wa laa tu'assiruu" (permudahlah, jangan mempersulit). Dengan demikian, para sahabat merasa senang menerima ajaran Islam yang bagi mereka merupakan agama baru.
  8. Tidak mengabaikan untuk memberi pelajaran bagi kaum perempuan. Banyak hadis maupun sunnah Rasulullah SAW yang meriwayatkan bahwa Nabi SAW juga sangat memperhatikan kaum perempuan. Rasulullah SAW sangat menghargai hak-hak dan kewajiban kaum perempuan. Hal ini sekaligus untuk menegaskan bahwa ajaran Islam menolak tradisi Jahiliyah yang menempatkan kaum perempuan sebagai manusia kelas dua atau posisi mereka direndahkan di bawah kaum laki-laki.


Para Sahabat Perawi Hadits

Tidak semua sahabat Nabi SAW selalu mengikuti majlis ilmu yang dibentuk oleh Rasulullah SAW. Sebagian dari mereka ada yang sibuk mengurus perluasan dakwah Islam, sebagian ada yang sibuk mengurusi masalah transaksi perdagangan, dan sebagian lagi sibuk dengan urusan sosial lainnya.

Beberapa sahabat yang intens (sering) menghadiri majlis ilmu Rasulullah SAW adalah mereka yang relatif tidak banyak memiliki tanggung jawab keluarga karena umurnya yang masih muda (seperti Abdullah bin Umar, putra Umar bin Khathab RA) atau karena tidak memiliki tanggungan keluarga (seperti Abu Hurairah).

Dalam tulisan ini, beberapa sahabat yang terkenal sebagai periwayat hadits terbanyak adalah :

  1. Abu Hurairah RA. Nama lengkapanya adalah Abdurrahman bin Shakhr Ad-Dausi Al-Yamani. Menurut beberapa riwayat, Abu Hurairah RA berhasil meriwayatkan dari Rasulullah SAW sebanyak 5374 hadits.
  2. Abdullah bin Umar RA (putra Umar bin Khathab RA). Menurut beberapa riwayat, Abdullah bin Umar RA berhasil meriwayatkan dari Rasulullah SAW sebanyak 2630 hadits. 
  3. Anas bin Malik RA. Menurut beberapa riwayat, Anas RA berhasil meriwayatkan dari Rasulullah SAW sebanyak 2286 hadits.
  4. Aisyah binti Abu Bakar RA, putri sahabat Abu Bakar RA dan juga istri Rasulullah SAW. Menurut beberapa riwayat, Aisyah RA berhasil meriwayatkan dari Rasulullah SAW sebanyak 2210 hadits.
  5. Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib RA, sepupu Rasulullah SAW dan Ali bin Abu Thalib RA. Di jajaran sahabat, Abdullah bin Abbas RA dikenal sebagai ahli tafsir di mana memang Rasulullah SAW mendoakan dirinya agar menjadi ahli tafsir. Menurut beberapa riwayat, Abdullah bin Abbas RA berhasil meriwayatkan dari Rasulullah SAW sebanyak 1660 hadits.
  6. Jabir bin Abdullah Al-Anshari. Menurut beberapa riwayat, Jabir RA berhasil meriwayatkan dari Rasulullah SAW sebanyak 1540 hadits.
  7. Abu Sa'id Al-Khudri. Nama lengkapnya adalah Sa'id bin Malik bin Sinan Al-Anshari. Menurut beberapa riwayat, Abu Sa’id RA berhasil meriwayatkan dari Rasulullah SAW sebanyak 1170 hadits. 

Itulah beberapa sahabat Rasulullah SAW yang termasuk paling banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW.


Kota-kota Pembelajaran Hadits

Beberapa kota yang tekenal sebagai pusat pembelajaran hadits, baik di masa sahabat Rasulullah SAW maupun di masa generasi sesudahnya adalah sebagai berikut :

  1. Madinah Al-Munawwarah. Kota suci tempat hijrah Rasulullah SAW dan tempat beliau wafat. Di kota inilah, Rasulullah SAW mengajarkan Al-Qur'an dan sunnahnya di hadaan para sahabat, baik penduduk asli Madinah (dikenal dengan sebutan sahabat Anshar) maupun para sahabat dari penduduk pendatang dari Makkah untuk ikut hijrah bersama Rasulullah SAW ke Madinah (dikenal dengan sebutan sahabat Muhajirin). Di kota inilah, empat sahabat besar (Abu Bakar RA, Umar RA, Utsman RA, dan Ali RA) menimba ilmu dari Rasulullah SAW dan menyebarkannya kepada umat Islam. Di kota ini pula, para sahabat perawi hadits terbanyak juga belajar dari Rasulullah SAW.
  2. Makkah Al-Mukarramah. Kota suci tempat Rasulullah SAW lahir dan menanamkan dasar-dasar akidah Islam di tengah-tengah penduduk Arab yang saat itu masih dikuasai oleh tradisi Jahiliyah. Di kota inilah, para sahabat Rasulullah SAW seperti Mu’adz bin Jabal RA, Abdullah bin Mas’ud, dan Salim “maula” (budak yang dimerdekakan) dari Abu Hudzaifah, menerima banyak ajaran islam dari Rasulullah SAW, baik berupa wahyu (Al-Qur'an) maupun sunnah Rasulullah SAW.
  3. Kufah. Kota perluasan awal di masa pemerintahan Umar bin Khathab RA. Kufah menjadi pusat perluasan Islam awal sekaligus menjadi benteng awal perluasan Islam yang kemudian menyebar ke kawasan Khurasan (Persia, Iran) dan India. Di kota ini, terdapat sekitar 300 sahabat Rasulullah SAW yang tinggal. Di antara mereka yang terkenal adalah Ali Bin Abu Thalib RA, Sa’d bin Abu Waqqash RA, dan Abdullah bin Mas’ud RA. Termasuk dari mereka adalah para sahabat yang pernah ikut dalam perang Badar, juga terdapat 60 sahabat ahli hadits yang menyebarkan haditsnya di tengah-tengah masyarakat Kufah.
  4. Bashrah. Salah satu kota besar yang menjadi pusat ilmu pengetahuan di masa Islam awal, selain Kufah. Beberapa sahabat besar yang menetap di kota ini adalah Anas bin Malik RA (dikenal dengan julukan “Imam Bashrah”), Abu Musa Al-Asy’ari RA, dan Abdullah bin Abbas RA. Di antara tabi’in besar (generasi pasca sahabat) yang terkenal adalah Hasan Al-Bashri; seorang sufi besar dan dikenal sebagai imam para tabi’in. Hasan Al-Bashri pernah berjumpa dan belajar hadits dari sekitar 500 sahabat Nabi SAW.
  5. Syam (sekarang dikenal dengan negeri Suriah). Di kota ini, khalifah Umar bin Khathab RA pernah mengirim para sahabat besar untuk menyebarkan ajaran Islam, antara lain: Mu’adz bin Jabal (dikenal sebagai ahli hukum/hakim di masa Rasulullah SAW), Abu Darda’, dan Ubadah bin Ash-Shamit. Termasuk sahabat yang menetap di kota ini adalah Bilal bin Rabah, “mu’adzdzin” (juru adzan) Rasulullah SAW.
  6. Mishra (Mesir). Para sahabat telah memasuki kota Mesir sejak pemerintahan khalifah Umar bin Khathab RA, di bawah kendali panglima Amr bin Ash RA. Di antara sahabat yang menetap di Mesir adalah Zubair bin Awwam RA, Al-Miqdad bin Al-Aswad RA, dan Abdullah bin Amr RA.
  7. Al-Maghribi dan Andalusia. Sekarang adalah negeri yang berada di wilayah Spanyol. Disebut “Al-Maghribi” (artinya “wilayah Barat”) karena letaknya berada di sebelah Barat benua Arabia (Timur tengah). Di masa sekarang, Al-Maghribi dan Andalusia termasuk wilayah benua Eropa Timur. Di kota ini, lahir beberapa ulama ahli hadits dari rintisan para sahabat. Kota Andalusia pertama kali ditaklukkan oleh Amr bin Ash di masa pemerintahan Umar bin Khathab RA, meskipun secara resmi baru dikuasai di masa pemerintahan Utsman bin Affan RA. Beberapa sahabat (selain Amr bin Ash) yang ikut menyukseskan ekspansi Islam ke negeri ini antara lain: Mas’ud bin Al-Aswad Al-Balawi (salah satu sahabat yang pernah ikut berbai’at di hadapan Rasulullah SAW), Al-Miqdad bin Al-Aswad Al-Kindi (salah seorang sahabat yang termasuk pemeluk Islam awal di masa Nabi SAW), dan Bilal bin Harits bin Ashim Al-Mazani.
  8. Yaman. Rasulullah SAW pernah mengutus sahabat Mu’adz bin Jabal RA (ahli hukum) untuk menjadi seorang hakim di negeri ini. Sahabat lain yang pernah diutus Rasulullah SAW ke negeri ini adalah Abu Musa Al-Asy’ari RA. Di masa Rasulullah SAW, Yaman termasuk salah satu kota tua yang menjadi pusat perdagangan bangsa-bangsa Arab dan beberapa negeri di luar Arab. Beberapa sahabat lain juga mengikuti jejak kedua sahabat besar itu untuk ikut menyebarkan ajaran Islam di tengah-tengah penduduk Yaman. 

Itulah beberapa kota pusat pembelajaran hadits di masa Rasulullah SAW dan para sahabat. Beberapa kota lain yang juga menjadi pusat pembelajaran hadits adalah: Jurjan, Qazwain, dan Khurasan (salah satu wilayah Iran).


Pembagian Hadits Secara Kualitatif

Maksud dari pembagian hadits secara kuantitatif adalah berkaitan dengan sedikit atau banyaknya jumlah perawi yang meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW. Para ulama hadits membagi hadits dari sisi jumlah perawi ke dalam 3 jenis :

  1. Hadits Mutawatir adalah hadits yang diriwayatkan oleh banyak sahabat sehingga tidak mungkin terjadi dusta dan penyelewengan. Sebagian ulama menyebutkan bahwa jumlah perawi dalam Hadits Mutawatir berjumlah di atas 10 orang. Ada yang mengatakan di atas 40 atau 50 orang. Intinya, jumlah perawi dalam Hadits Mutawatir sangat banyak sehingga tidak mungkin ada kesepakatan di antara para sahabat atau perawi hadits itu untuk berdusta atau berbohong. 
  2. Hadits Masyhur adalah hadits yang jumlah perawinya di bawah Hadits Mutawatir. Sebagian ulama seperti Ibnu Hajar menyebutkan bahwa jumlah perawi Hadits Masyhur lebih dari 2 orang tetapi di bawah jumlah Hadits Mutawatir. Sebagian lagi berpendapat bahwa jumlah perawi dalam Hadits Masyhur di bawah 10 orang. 
  3. Hadits Ahad adalah hadits yang jumlah perawinya hanya 1 atau 2 orang saja. Sebagian lagi berpendapat jumlah perawi Hadits Ahad di bawah jumlah perawi Hadits Masyhur.


Pembagian Hadits Secara Kualitatif

Maksud dari pembagian hadits secara kualitatif adalah berkaitan dengan kualitas periwayatan hadits dari para perawi. Maksudnya adalah sifat dari hadits tersebut bisa dikelompokkan ke dalam 4 jenis :

  1. Hadits Shahih. Secara bahasa berarti hadits yang benar. Secara istilah berarti hadits yang sanadnya terdiri dari para perawi yang adil, "tsiqah" (terpercaya), dan "dhabith" (kuat ingatannya). Dengan demikian, Hadits Shahih adalah hadits yang isinya dapat dipastikan benar-benar berasal dari Rasulullah SAW.
  2. Hadits Hasan. Secara bahasa berarti hadits yang baik. Secara istilah berarti hadits yang isinya masih diragukan; apakah benar-benar dari Rasulullah SAW atau merupakan perkataan atau nasehat dari para sahabat Rasulullah SAW.
  3. Hadits Dha'if. Secara bahasa berarti hadits yang lemah. Secara istilah berarti hadits yang sanadnya terdiri dari para perawi yang tidak memenuhi standar atau syarat-syarat yang dimiliki oleh Hadits Shahih dan berada di bawah Hadits Hasan. Misalnya para perawinya dikenal pelupa, sering berdusta, membesar-besarkan masalah yang sebenarnya kecil, mudah menyepelekan urusan agama, dan sebagainya.
  4. Hadits Maudhu'. Secara bahasa berarti hadits palsu. Secara istilah berarti hadits yang di dalamnya terdapat para perawi yang dikenal pendusta, munafik, berperangai buruk, dan suka mendustakan agama. Hadits Maudhu’ sebenarnya adalah perkataan seseorang yang kemudian diklaim (diakui) sebagai hadits yang berasal dari Rasulullah SAW.


Mengenal Matan dan Sanad

Dalam istilah Hadits, matan berarti isi teks atau redaksi hadits. Sedangkan sanad adalah rangkaian para perawi yang membawa matan atau meriwayatkan isi teks hadits.

 


Para Imam Pengumpul Hadits

Pada dasarnya jumlah ulama yang mengumpulkan hadits dan menyusunnya ke dalam kitab hadits sangat banyak. Namun beberapa ulama yang dikenal sebagai tokoh pengumpul (imam) dalam penyusunan kitab-kitab hadits dikenal luas di kalangan ulama dan masyarakat berjumlah 9 orang:


1. Imam Bukhari
Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah. Julukannya adalah Abu Abdullah. Bukhari lahir pada hari Jumat, 13 Syawal 194 H dan wafat pada hari Sabtu, tepat di malam Idul Fitri (1 Syawal) 256 H. Kitabnya yang terkenal adalah "Shahih al-Bukhari".

Sejak kecil, Bukhari memang sudah gemar dan rajin mencari ilmu. Dia bahkan hafal Al-Qur'an dan beberapa kitab hadits karya ulama sebelumnya di waktu masih usia belia. Orang tuanya banyak menghabiskan hartanya hanya untuk mendukung kegemaran Bukhari dalam mencari ilmu pengetahuan. Dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa orang tua Bukhari mewariskan harta benda padanya, lalu dia berkata, "Setiap bulan saya menghabiskan uang sekitar 500 dirham hanya untuk menuntun ilmu pengetahuan".

Bukhari dikenal sebagai tokoh yang sangat tekun dalam mencari, mengumpulkan, dan menyeleksi hadits-hadits Nabi SAW. Beberapa kota yang telah dikunjungai Bukhari antara lain: Khurazan (wilayah Iran) dan sekitarnya, Bashrah, Kufah, Baghdad, Hijaz (Makkah dan Madinah), Syam (Suriah), Jazirah (wilayah Harran, Irak), dan Mesir.

Bukhari memiliki banyak guru dan murid. Di antara guru-guru Bukhari adalah: Abu Ashim An-Nabil, Makki bin Ibrahim, Ahmad bin Hanbal (Imam Ahmad, pendiri mazhab Hanbali), dan Ishaq bin Manshur.

2. Muslim
Nama lengkapnya adalah Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim bin Ward. Julukannya adalah Abu Al-Husein. Muslim lahir pada tahun 204 Hijriyah dan wafat pada 261 Hijriyah. Kitabnya yang terkenal di bidang hadits adalah "Shahih Muslim".

Muslim memiliki banyak guru, di antaranya adalah Bukhari yang juga menjadi sahabatnya. Seperti halnya Bukhari, Muslim juga dikenal sebagai sosok yang sangat gemar dalam mencari ilmu pengetahuan. Muslim melakukan kunjungan ke beberapa negeri dalam rangka mencari ilmu, antara lain: Hijaz (Makkah dan Madinah), Khurasan, Ray, Irak, Syam (Suriah), dan Mesir. 

Dalam bidang hadits, kitabnya yang terkenal adalah Shahih Muslim (kumpulan kitab hadits shahih). 

3. Tirmidzi 
Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Isa bin Surah bin Musa bin Adh-Dhuhhak. Julukannya adalah Abu Isa. Tirmidzi lahir pada 209 Hijriyah dan wafat pada 279 Hijriyah. Kitabnya di bidang hadits yang terkenal adalah "Sunan At-Tirmidzi".

Tirmidzi memiliki banyak guru, di antaranya adalah: Qutaibah bin Sa'id, Ishaq bin Rahawaih, Ismail bin Musa Al-Fazzari, dan lainnya.

Pengembaraan Tirmidzi dalam mengumpulkan dan meneliti hadits, oleh sebagian ulama dianggap melebihi apa yang dilakukan oleh Bukhari. Beberapa kota atau negeri yang disinggahi Bukhari, juga disinggahi Tirmidzi. Beberapa kota dan negeri yang dikunjungi Tirmidzi antara lain: Kufah, Bashrah, Kufah, Wasith, Baghdad, Hijaz (Makkah dan Madinah), dan Ray (wilayah Iran).

4. Nasa’i 
Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Syua’ib bin Ali bin Sinan bin Bahr. Julukannya adalah Abu Abdurrahman. Tirmidzi lahir pada 215 Hijriyah dan wafat pada 303 Hijriyah. Kitabnya di bidang hadits yang terkenal adalah "Sunan An-Nasa’I".

Nasa'i memiliki banyak guru, di antaranya adalah: Ishaq bin Rahawaih yang guru Tirmidzi, Hisyam bin Ammar, Ahmad bin Ubdah Adh-Dhabi, dan lainnya.

Seperti halnya Tirmidzi, pengembaraan Nasa’i dalam mencari dan meneliti hadits juga ditempuh di beberapa kota dan penjuru negeri, antara lain: Kufah, Bashrah, Kufah, Wasith, Baghdad, Hijaz (Makkah dan Madinah), Ray (wilayah Iran), dan Jazirah (wilayah Harran, Irak).

5. Abu Daud
Nama lengkapnya adalah Abu Daud Sulaiman bin Al-Asy’ab bi Syaddad bin Amr bin Amir. Abu Daud lahir pada 202 Hijriyah dan wafat pada 275 Hijriyah. Kitabnya yang terkenal di bidang hadits adalah "Sunan Abu Daud".

Abu Daud sudah belajar ilmu pengetahuan sejak masih kecil. Pada saat sekitar berumur 18 tahun, Abu Daud mulai mencurahkan perhatiannya padda ilmu-ilmu hadits. Untuk keperluan itu, Abu Daud melakukan berbagai kunjungan ke berbagai negeri untuk mendapatkan hadits-hadits yang berkualitas. Di antara negeri atau kota yang dikunjungi Abu Daud adalah: Sijistan, Irak, Kufah, Bashrah, Jazirah (wilayah Harran, Irak), Syam (Suriah), Hijaz (Makkah dan Madinah), Khurasan dan Ray (keduanya di wilayah Iran).

Seperti layaknya muhadditsin (ulama hadits), Abu Daud juga berguru ke beberapat tokoh, di antaranya: Sulaiman bin Harb, Al-Qa’nabi, Muslim bin Ibrahim, dan lainnya.

6. Ibnu Majah
Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Yazid. Sebutan Ibnu Majah disandarkan pada ayahnya yang mendapat julukan Majah. Jadi, Ibnu Majah berarti "putranya Majah". Ibnu Majah lahir pada 209 Hijriyah dan wafat pada 273 Hijriyah. Kitabnya yang terkenal di bidang hadits adalah "Sunan Ibnu Majah".

Banyak negeri yang telah dikunjungi Ibnu Majah dalam mencari, mengumpulkan, dan meneliti hadits-hadits Rasulullah SAW, antara lain: Naisabur dan Khurasan (keduanya di wilayah Iran), Bashrah, Kufah, Irak, Syam (Suriah), dan Hijaz (Makkah dan Madinah).

Beberapa guru Ibnu Maja antara lain: Ali bin Muhammad Ath-Thanafasi, Jabarah bin Al-Mughallas, dan Mash’ab bin Abdullah Az-Zubairi.

7. Ahmad 
Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad. Kedua orang tuanya adalah keturunan asli dari negeri Arab. Ahmad dilahirkan di Baghdad pada 164 Hijriyah dan wafat pada 241 Hijriyah, juga di negeri Baghdad. Kitabnya yang terkenal di bidang hadits adalah "Musnad Ahmad".

Ahmad dikenal sebagai imam (pemimpin) mazhab fikih yang dikenal dengan sebutan Mazhab Hanbali, sama seperti Imam Hanafi, Imam Malik, dan Imam Syafi’i. Imam Ahmad dikenal sebagai tokoh yang sangat teguh berpegang pada prinsip dan akidah yang diyakininya. Imam Ahmad pernah dijebloskan ke dalam penjara di masa pemerintahan Al-Makmun, salah seorang khalifah di masa Dinasti Umayyah yang menganut paham teologi Muktazilah. Namun Imam Ahmad tetap berpegang teguh pada pendiriannya, yaitu mazhab atau teologi Ahlussunnah Wal Jama'ah.

Beberapa negeri yang telah dikunjungi oleh Imam Ahmad antara lain: bashrah, Kufah, Makkah, Yaman, Mesr, Ray, dan lainnya.

Sebagai ahli fikih dan hadits, Imam Ahmad memiliki banyak guu terkenal di dunia Islam, seperti: Sufyan bin Uyainah, Ibrahim bin Sa’d, Al-Walid bin Muslim, dan Imam Syafi’i (pendiri mazhab Syafi'i).

8. Malik
Nama lengkapnya adalah Malik bin Anas bin Malik bin Abu Amir. Malik lahir pada 93 Hijriyah di Madinah dan wafat pada 179 Hijriyah. Kitabnya yang terkenal di bidang hadits adalah "Al-Muwaththa'".

Di samping dikenal sebaga ahli hadits, Malik juga dikenal sebagai pendiri sekaligus imam mazhab yang dikenal dengan mazhab Maliki. Imam Malik dikenal sebagai tokoh yang sangat memprioritasan sunnah (tradisi) sahabat di Madinah. Hampir semua hadits yang diriwayatkan Imam Malik adalah berasal dari tradisi Madinah yang dibawa oleh para sahabat Rasulullah SAW yang bermukim di Madinah.

Berbeda dengan para imam hadits lainnya, Imam Malik tidak melakukan kunjungan atau pengembaraan hadits. Imam Malik mencukupkan haditsnya yang dia peroleh dari negeri Hijaz, khususnya Madinah.

Imam Malik memiliki banyak guru, antara lain: Nafi’, Abu Az-Zinad Abdullah bin Zikwan, Hisyam bin Urwah bin Az-Zubair, dan Muhammad bin Muslim bin Syihab Az-Zuhri.

9. Darimi
Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Abdurrahman bin Al-Fadhl bin Bahram bin Abdush Shamad. Sebutan Damiri atau Ad-Darimi disandarkan pada nama Darim bin Malik, di mana dia dikenal dengan panggilan itu. Kitabnya yang terkenal di bidang hadits adalah "Sunan Ad-Darimi".

Beberapa kota atau negeri yang pernah dikunjungi oleh Darimi antara lain: Bashrah, Kufah, Baghdad, Damaskus (Suriah), dan kota-kota lainnya.

Darimi memiliki banyak giri, antara lain: Yazid bin Harun, Ya’la bin Ubaid, Ja’far bin Aun, dan lainnya.

Itulah penjelasan ringkas mengenai para imam pengumpul hadits di mana kitabnya sampai sekarang masih ada dan berkembang di tengah-tengah masyarakat hingga saat ini.