Salafy Pergerakan (Ormas/Harakiyah) Salahkah?

Salafy, begitu kita menyebut para pengikut jejak salaf, orang-orang yang selalu bangga dengan sunnah-sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wasallan, memuliakan al-Qur'an dan sangat menginginkan terwujudnya persatuan kaum muslimin.

Akhir-akhir ini kita sangat bergembira melihat orang-orang yang semakin paham beragama dan punya keinginan yang sangat besar untuk kembali pada manhaj yang mulia ini, alhamdulillah.

Namun, dalam suasana kegembiraan ini, kita juga melihat kenyataan yang sangat menyedihkan, ketika melihat orang-orang yang menyeru pada manhaj salaf itu justru saling menyesatkan, saling mencela, saling memaki hanya karena memperbutkan nama ini.

Duh Rabb, hilangkanlah permusuhan ini. Innaka sami'un mujiibu al-Dua' yaa Rabbal 'aalamiin.

Salafy, apakah ia?

Apakah ia hanyalah komunitas tertentu yang menamakan dirinya sebagai salafy? Ataukah orang-orang berafiliasi pada satu yayasan atau stasiun tv tertentu yang mengaku-ngaku sebagai salafy? Apakah berormas mengeluarkan seseorang dari lingkup salafy? Apakah menyayangi seorang alim yang salah dalam ijtihadnya dengan menjauhi kesalahannya itu dikeluarkan dari ranah salafy?

Pertanyaan yang patut kita cermati bersama, dengan ilmu dan lapang dada dalam permasalahan ilmiyah. Agar kita tidak selalu ribut dan cepat memvonis. Apalagi jika menyadari diri bahwa memang selama ini kita sangat kurang dalam perihal ilmu, kurang memuthala'ah kitab-kitab klasik dan selama ini hanya taklid pada guru yang menjelaskan sesuai apa yang dia pahami, yang kemungkinan salahnya itu ada dan berbeda dengan pemahaman ulama lain.

Salafy, apa batasannya hingga bisa disebut salafy? Pantaskah kita mempersempit maknanya menjadi satu konunitas tertentu saja? Syaikh Abdullah Bin Abdul Hamid al-Atsari hafizhahullah berkata:

والتحديد الزمني ليس شرطا في ذلك، بل الشرط هو موافقة الكتاب والسنة في العقيدة والأحكام والسلوك بفهم السلف، فكل من وافق الكتاب والسنة فهو من أتباع السلف

Pembatasan zaman bukanlah syarath dalam hal ini, justru syarathnya adalah siapa saja yang sesuai dengan al-Qur'an dan Sunnah pada perkara akidah, hukum-hukum dan perangai, maka dia adalah pengikut salaf. Semua orang, siapapun dia, yang sesuai dengan al-Qur'an dan Sunnah maka dia adalah salafy." (Al-Wajiz Fii Aqidati al-Salaf al-Shalih: 28) 

Dari sini kita pahami bahwa semua orang yang mendakwahkan al-Qur'an dan Sunnah sesuai pemahaman salafushshalih maka mereka adalah salafy. Baik dia dalam bentuk ormas, yayasan, pesantren dan apapun itu namanya, selama mereka berakidah sesuai akidah salafushshaleh.

Karena itu, syaikh Abdul Aziz Bin Baz rahimahullah berkata:

“Intinya, yang menjadi dhabith (prinsip dasar) adalah selama mereka (kelompok-kelompok islam itu) berada di atas kebenaran. Maka apabila seorang muslim atau jama’ah mengajak pada kitab Allah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengajak pada tauhidullah serta mengikuti syariatnya maka mereka adalah al-Firqatu an-Najiyah (salafy).

Adapun siapa saja yang mendakwahkan pada selain kitab Allah atau kepada selain Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka perkara seperti ini bukanlah ahlusunnah, melainkan kelompok sesat yang akan binasa.

Sesungguhnya kelompok al-Firqatun Najiyah adalah sekelompok orang-orang yang mengajak pada kitab Allah dan sunnah. Sekalipun diantara mereka ada jama’ah dari sini dan dari situ. Intinya jika mereka berada pada tujuan dan akidah yang satu, maka penamaan kelompok mereka yang berbeda-beda seperti jama’ah ansharu sunnah, jama’ah ikhwanul muslimin dan kelompok ini dan itu, tidaklah masalah, yang penting akidah mereka dan amalan mereka tetap istiqamah di atas kebenaran dan mentauhidkan Allah, ikhlas dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada perkataan dan perbuatan, amalan dan akidah. Maka perbendaan nama tidak akan memberikan mudharat. 

Namun hendaknya mereka bertakwa kepada Allah dan jujur dalam pengakuannya…….. dan jika ada satu jama’ah yang terjatuh dalam kesalahan pada satu perkara dari perkara-perakara agama, maka hendaknya yang lain memperingatkannya dan tidak meninggalkan mereka dalam kesalahannya. Justru kita harus saling tolong menolong dengan mereka pada perkara kebaikan dan takwa.

Maka jika diantara mereka terjatuh pada perkara akidah atau pada perkara yang wajib atau haram, maka hendaknya diingatkan dengan dalil-dalil syar’i dengan kelemah lembutan dan penuh hikmah serta metode yang baik, hingga mereka kembali pada kebenaran dan menerimanya, dan agar mereka tidak lari darinya.

Itulah perkara yang wajib. Maka hendaknya kaum muslimin saling bekerja sama dalam kebaikan dan takwa serta saling menasehati sesama mereka dan tidak saling menghinakan.” (Majalah al-Ishlah al-Adad 241 atau lihat linknya disini: http://www.saaid.net/leqa/16.htm)

Tidak sedikit dari ulama yang berkata demikian, sebutlah Syaikh Nasharuddin al-Alabani rahimahullah, Syaikh Abdullah al-Jibrin rahimahullah dan ulama lainnya.

Karenanya tidak boleh saling memaki, atau menggunakanan kata-kata yang tidak baik untuk menghinakan hingga mempersempit makna salafiyah ini, sebab yang seperti itu bukanlah manhaj salafiyah.

Syaikh Muhammad Bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata:

Tidak diragukan bahwa yang wajib bagi kaum muslimin adalah mengikuti madzhab salaf bukan menggabungkan diri dengan komunitas yang namanya salafy. Yang wajib bagi umat islam madzhabnya adalah madzhab salaf, bukan berhizbiyah dengan kelompok salafy. Sebab ada jalan salaf ada juga yang namanya hizby salafy.

Jadi intinya adalah mengikuti madzhab salaf. Walau saudara-saudara yang berkomunitas salafy lebih dekat pada kebenaran, hanya saja musykilah mereka sama juga dengan kelompok yang lain, sebagian kelompok ini saling menyesatkan, saling membid'ahkan dan saling memfasikkan satu sama lain. (Syarah Arbain Karya syaikh Utsaimin: 309)

Kemudian, apakah kesalahan seorang alim dalam ijtihadnya memudahkan kita untuk menyesatkan mereka dan mengeluarkannya dari Ahlussunnah?

Inilah Imam Al-Dzahabi rahimahullah, seorang ulama jarh watta'dil yang tak ada seorangpun yang meragukannya. Dia berkata mengenai hal ini:

ولو أن كلما أخطأ إمام في اجتهاده في آحاد المسائل خطأ مغفورا له فقمنا عليه وبدعناه وهجرناه لما سلم منا لا ابن ناصر ولا ابن منده ولا هو أكبر منهما

Jika saja setiap ulama salah dalam ijtihad mereka pada satu masalah, yang bisa dimaafkan baginya, lalu kita justru membid'ahkan dia (menuduh sebagai ahli bid'ah-penj) dan memboikotnya, niscaya tidak akan ada satupun manusia yang selamat dari kita. Tidak Ibnu Mandah, tidak pula Ibnu Nashir bahkan ulama yang lebih berilmu dari mereka berdua juga tidak akan selamat dari lisan kita. (Siyar A'lam al-Nubala: 27/38)

Jadi wahai saudaraku, sudahilah pertikaian ini, mari kita saling bahu membahu untuk islam dan kaum muslimin. Berhentilah, cukuplah, dan sapalah saudaramu. Sungguh mereka sangat ingin bersamamu, hanya saja engkau sungguh terlalu tergesa-gesa menyesatkan, menuduh sebagai ahli bid'ah, bahkan sebagai khawarij yang telah keluar dari islam, karena itu mereka membencimu. Maka berhentilah, dan mari kita bergandengan tangan untuk agama ini.

Akhukum Fillah
Abu Ukkasyah Muhammad Ode Wahyu al-Munawy

Palembang, 11-8-2017

Sumber: https://www.facebook.com/perdana.akhmad/posts/10209892513251483

Leave a Comment

Filed under Agama

Leave a Reply