Klasifikasi Ulama Menurut Imam Al-Ghazali

(Klasifikasi Ulama al-Su> dan Ulama al-Khair)

Oleh: Zuman Malaka[1]
 
Abstrak : Kata Ulama merupakan bentuk jamak dari ‘a>lim atau ‘alim, yang berarti “yang tahu” atau “yang mempunyai pengetahuan. Permasalahan yang muncul terkait dengan peran ulama pada masa itu, al-Ghazali memberikan kritik, karena pada masanya peran utama ulama’ telah banyak bergeser orientasi ke arah kekuasaan dengan mencari kepentingan duniawiyah semata.
 
Kata Kunci : Dikotomi, Ulama, Al Ghozali
 
  1. Pendahuluan
Kata Ulama merupakan bentuk jamak dari ‘a>lim atau ‘alim, yang berarti “yang tahu” atau “yang mempunyai pengetahuan”.[2] Dalam al-Qur’an telah disebutkan dua kali pada surah Ash Shu’ara’ ayat 197, dan surah Fa>thir ayat 28 yang intinya, bahwa Ulama adalah orang yang memiliki ilmu pengetahuan tentang ilmu kealaman dan ilmu agama, sehingga dengan pengetahuannya tersebut, mampu mengantarkan kepada diri seseorang untuk memiliki sifat  khasyyah (hanya takut atau tunduk) kepada Allah swt.[3] Ulama dalam agama Islam, sebagai pewaris Nabi yang merupakan cerminan peran Nabi ketika menjadi pemimpin.[4] Sehingga apa yang diwariskan oleh para Nabi tentu tidak akan digantikan dengan apapun, meskipun dengan seluruh isi bumi dan langit ini. Atas dasar iman dan ilmunya, ulama akan senantiasa berjuang membimbing umat untuk mengabdikan diri kepada Allah swt secara total, baik dalam kehidupan politik maupun spiritual, seraya berharap keridlaannya. Sementara ilmu[5]dalam Islam, mengandung pengertian sebagai pengetahuan yang absolut sesuai dengan realitas, baik realitas wahyu maupun realitas empirik. 
 
Peran Ulama sangat dominan dalam memberikan pemaknaan dan interpretasi yang terkait dengan berbagai persoalan keagamaan di tengah-tengah masyarakat, manakala masyarakat timbul berbagai macam permasalahan.[6]Ulama tidak hanya sekedar memiliki peran di bidang agama saja, tetapi juga memiliki peran penting di bidang sosial maupun politik.[7] Karenanya,  ulama harus menjadi penyambung lidah umat di hadapan para penguasa, dan menjadi pembimbing mereka menuju kepemimpinan yang mulia dengan Islam.
 
Dalam dataran proses perubahan sosial masyarakat, peran ulama menjadi sorotan utama. Di samping itu, juga dibedakan sifat kejiwaan dari masyarakatnya, yakni, apabila masyarakatnya masih primitif dengan pemikiran tradisional, maka ketergantungan kepada peran ulama cukup tinggi, tetapi jika masyarakatnya mampu mengikuti arus perkembangan zaman, maka ketergantungan terhadap peran ulama juga rendah.[8]Demikian pula semakin masyarakatnya tidak lagi menghiraukan dengan aturan agama, maka ketergantungan kepada peran ulama semakin menipis. Namun demikian, peran ulama akan pudar dan tertutup dengan sikap dukung mendukung kepada calon pemimpin tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan secara syar’i. Dukungan kepada peran ulama sejatinya hanya diberikan kepada mereka yang mau menegakkan akidah dan syari’ah Islam secara kaffah, bukan kepada mereka yang akan melanggengkan sekularisme yang nyata-nyata menjadi pintu masuk bagi bercokolnya neoliberalisme.
 
Sementara dalam sistem pemimpin karismatik senantiasa mendapatkan otoritas dari kemampuannya atau keyakinan pengikutnya, bahwa pemimpin itu mempunyai cirri-ciri yang luar biasa. Sehingga perubahan sosial  di masyarakat sebagaimana dikemukakan Weber, bahwa dengan terjadinya peran perubahan sosial yang berkembang di masyarakat, maka peran pewaris pendiri suatu agamapun mengalami proses rutinitas kharisma.[9]Dari sinilah peran ulama kadang mengalami perubahan kebijakan sesuai dengan tuntuntan dan arah perkembangan jaman dan masyarakatnya. Begitu juga yang terjadi pada masa al-Ghazali, dimana keadaan Baghdad pada waktu itu benar-benar mengalami proses kekacauan sosial, akibat dari perubahan yang terjadi tidak hanya dalam dataran sosial maupun politik. Melihat kondisi semacam ini, maka al-Ghazali merasa perlu untuk mengambil sikap kritik dan berusaha mengembalikan keadaan semula terhadap situasi jaman yang tengah dihadapinya, dengan jalan menulis sebuah karya yang monumental yakni Ihya>’ Ulu>m al-Di>n. Dalam pengamatan sosial al-Ghazali, bahwa kerusakan yang terjadi akibat para ulama pada jamannya, merasa bangga dengan menonjolkan dan mengagungkan ilmu-ilmu perdebatan dan ilmu retorika, sehingga dengan ilmu-ilmu itu, melupakan ilmu-ilmu yang menuju ke jalan akhirat, seperti yang telah dijalankan oleh para ulama pada jaman salaf al-shalih.
 
Dari uraian di atas, terkait dengan persoalan tentang kemuliaan ilmu dan proses pembelajaran serta kedudukan dan tugas ulama, menjadi sangat penting untuk dikaji ulang. Karena dengan mengkaji berbagai macam bentuk peran,  tugas dan cirri-ciri ulama ini, akan memberikan berbagai macam tolok ukur pemahaman yang dapat dipergunakan untuk menarik dari hikmah pelajaran yang diberikan Iman al-Ghazali kepada kita, sebagaimana tertuang dalam kitabnya yang sangat populer, yakni Ihya>’ Ulu>m al-Di>n
 
  1. Biografi Imam al-Ghazali
Al-Ghazali[10] adalah salah satu tokoh intelektual Islam yang bermadhhab Sunni dan yang mendapatkan gelar hujjah al-Islam.[11] Nama lengkap al-Ghazali adalah Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath Thusi, Abu>Hamid al-Ghazali.[12] Ia dilahirkan pada tahun 450 Hijriah dan bersamaan dengan tahun 1058 Masehi di Baghdad Thus, Khurasan (Iran). Penyandaran nama beliau kepada daerah Ghazalah di Thusi, dimana beliau dilahirkan. Gelar beliau adalah al-Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’i yang lahir pada tahun 1058 di Thusi,Propinsi Khurasan, Persia (Iran). Sementara gelar ayahnya yang bekerja sebagai penenun bulu kambing dan tempat kelahirannya yakni, Ghazalah di Bandar Thus, Khurasan. Sedangkan gelar asy-Syafi’i menunjukkan bahwa beliau bermadhhab Syafi’i. Beliau memang berasal dari keluarga yang sederhana, namun cita-cita seorang ayah tinggi, kelak nanti mendambakan seorang anak yang alim dan shaleh. Imam al-Ghazali adalah seorang ulama yang ahli pikir dan ahli dibidang filsafat Islam yang terkemuka yang banyak memberi sumbangan bagi perkembangan kemajuan manusia.
 
Di masa mudanya al-Ghazali hidup dan dibesarkan di lingkungan yang sangat kondusif bagi peningkatan keintelektualannya. Meskipun ayahnya hanya seorang penenun wol yang meski dengan penghasilan yang sederhana, namun ia suka mendermakan sebagian hartanya untuk kegiatan-kegiatan keilmuan.[13]Sehingga dengan kebiasaan yang telah dilakukan oleh ayahnya inilah yang mampu membentuk karakter Imam al-Ghazali dalam kelananya mencari ilmu. Meskipun ayahnya bukan seorang alim, tetapi Muhammad Ath Thusi, ayah beliau, adalah seorang yang sangat mencintai ilmu dan ulama, beliau adalah seorang ayah yang gemar belajar melalui kegiatan di majelis-majelis ta’lim di negerinya. Ketika menjelang ayahnya wafat, al-Ghazali dan saudara laki-lakinya yang bernama Ah}mad sempat dititipkan pada seorang sufi dan sedikit hartanya seraya berkata dalam wasiatnya, aku menyesal sekali, karena tidak belajar menulis, aku berharapuntuk mendapatkan apa yang tidak aku dapatkanitu melalui dua putraku ini. Kemudian sufi tadi menjalankan wasiatnya dengan cara mendidik dan mengajar keduanya, sampai suatu ketika harta yang dititipkan oleh ayahnya habis, dan sufi itu tidak mampu lagi untuk mencukupi kehidupannya berdua. Sehingga sufi tadi menyerahkan kedua anak itu pada pengelola di sebuah madrasah untuk belajar sekaligus untuk menyambung kelangsungan hidup mereka berdua.[14]
 
Al-Ghazali menerima pendidikan pertama di Thusi. Keilmuan yang pertama dipelajari antara lain adalah al-Qur’an. Hadis dan mendengarkan kisah tentang ahli hikmah dan menghafal puisi cinta mistis. Di lanjutkan mempelajari ilmu fiqh kepada Ah}mad ibn Muh}ammad al-Radzkani. Kemudian ia pergi untuk bergulat didunia keilmuan, dan mampu menunjukkan tekadnya untuk memburu ilmu kepada Syekh Abu> Nasr al-Isma’i>li> yang berada di negeri Jurjan.[15] Menjelang umur dua puluh tahun, al-Ghazali memasuki sekolah tinggi Nizhamiyah di Naysabu>r, dan ia berguru kepada Imam Haramayn hingga menguasai ilmu mantiq, ilmu Kalam, Fiqh, Ush Fiqh, Filsafat, Tasawuf, dan retorika perdebatan. Ia belajar hingga oleh al-Juwayni di angkat menjadi asisten pengajar sampai al-Juwayni meninggal. Selain itu, ia mulai menulis karyanya yang pertama yang berjudul al-Madkhu>l min ‘Ilm al-Ushu>l.[16] Dirasa cukup berguru kepada Abu> Nasr al-Ismai>li> kemudian meneruskan kelananya kepada al-Juwaini di Madrasah Nisabur dalam rangka memperdalam keilmuannya. Dirasa cukup dalam kelananya, ia mengabdikan diri di Madrasah ini untuk menunjukkan bakat keilmuannya. Dengan berbekal ilmu fiqh, teologi, tafsi>r, hadis, ushu>l fiqh, logika dan ilmu-ilmu yang lain, ia mampu berijtihad dan melakukan perdebatan. Bahkan al-Ghazali pada usia tiga puluh tahun, mampu menjawab serta mengkritik beberapa tantangan-tantangan pemikiran logika dan filsafat Yunani.[17]
 
Kemudian setelah gurunya al-Juwaini wafat, al-Ghazali melanjutkan kelananya lagi menuju ke daerah Muaskar dan di sana ia bertemu dengan Nizam al-Mulk. Di mana pada saat itu Baghdad merupakan tempat berkumpulnya sekaligustempat diselenggarakannya perdebatan-perdebatan antara ulama-ulama terkenal. Sebagai orang menuasai retorika perdebatan, al-Ghazali terpancing untuk melihat dalam perdebatan-perdebatan itu. Dalam perdebatannya, ternyata ia sering mengalahkan orang-orang ternama, sehingga merekapun tidak segan-segan mengakui keagungan al-Ghazali.[18] Pada waktu itu Nizam menjadi wazir di Daulah Abbasiyah dengan kedatangannya al-Ghazali di sambut dengan baik dan dikukuhkan sebagai guru besar di Madrasah Nizamiyah-Baghdad yang telah berdiri sejat 1065.[19]Di sinilah al-Ghazali mengabdikan diri dan dinobatkan sebagai sebagai Guru Besar di Perguruan Nizamiyah sekaligus menjadi ilmuan Islam yang terkenal di negeri Irak. Di samping ia juga mengkader dari muridnya sekitar tiga ratus sebagai kader ulama di masa depan. Sejak itu nama al-Ghazali dalam menggeluti keilmuannya sampai hampir melebihi kemasyhurannya penguasa Abbasiyah.[20] Di Madrasah ini pula al-Ghazali menulis buku yang berjudul Maq>as}id al-Fala>sifar, Mi’ya>r ‘Ulu>m,  dan Tah}a>fut Fala>sifah, yang isinya banyak mengulas tentang pemikiran filsafat, baik filsafat Yunani maupun  filsafat Islam.[21]
 
Di balik kegiatannya dalam perdebatan dan penyelamatan berbagai aliran, ternyata justru menimbukan pergolakan bagi dirinya. Sehingga ia memutuskan untuk melepaskan jabatan dan pengaruhnya, kemudian meninggalkan Baghdad menuju Syria, Palestina, dan kemudian ke Makkah untuk mencari kebenaran. Setelah memperoleh kebenaran hakiki pada akhir hidupnya, tidak lama kemudian ia menghembuskan nafas yang terakhir di Thusi akhir tahun 505 Hijriyah.[22]Dalam hal ini, sebagaimana keterangan yang disebutkan oleh saudara kandungnya bahwa, al-Ghazali mengatakan bahwa pada hari senin ketika waktu subuh, al-Ghazali mengambil wud}u kemudian melakukan salat, lalu mengatakan, “saya harus mengenakan kain kafan” kemudian beliau mengambil sendiri,  menciumi dan menutupkan pada kedua matanya seraya mengatakan, “ dengan rasa tunduk dan patuh saya menghadap keharibaan raja Diraja”. Kemudian beliau memanjangkan kedua kakinya menghadap kiblat, lalu wafatlah beliau sebelum pagi menyingsing.[23]
 
Jika kita cermati secara mendalam, menjadi perhatian penting pada masa ini, bahwa hubungan pemerintah terhadap perjalanan al Ghazali dalam rangka pengembangan pemikirannya mendapat dukungan penuh dari pemerintah. Bahkan pada Khalifah al-Mustazhir Billah, pihak pemerintah sangat menaruh perhatian terhadap perkembangan pemikiran Islam, sehingga pemikiran yang keluar dari garis Sunni, berusaha ditolak pada saat itu. Di samping itu pula berkembang madhhab Shi’ah Batiniyah. Dengan melihat pergerakan mereka yang memunculkan hal-hal yang kurang baik, akhirnya al-Ghazali didukung penuh untuk mengkounter pemikiran-pemikiran Batiniyah. Dengan menerbitkan sebuah buku yang berjudul Fadaih al-Batiniyah wa Fada’il Mustazhiriyyah, yang sengaja ditulis khusus untuk mengkounter madhhab Shi’ah, bahkan seluruh biaya dalam penyelesaian tulisan tersebut ditanggung penuh.[24]
 
  1. Dinamika Sosial dan Politik pada Masa al-Ghazali
Kondisi pemikiran pada masa al-Ghazali[25] banyak diwarnai oleh praktik-praktik politik yang menyimpang dari jalur syari’at, seperti korupsi, penyalah gunaan kekuasaan dan krisis ulama’. Kritik-kritik tajam al-Ghazali sebagaimana dituangkan dalam beberapa karyanya, seperti At-Tibr al-Masbuk fi> Nashihat al-Muluk, Ihya>’ Ulu>m al-Di>n, al-Iqtishad fi> al-I’tiqad dan Fad}aih al-Batiniyah,merupakan kritik yang ditunjukan kepada para ulama’ pada waktu itu, khususnya pada ditujukan pada para ulama yang senatiasa mementingkan urusan duniawi saja. Oleh karena itu, ada dua faktor yang melatarbelakangi corak pemikiran al-Ghazali pada waktu itu, yakni pengalaman al-Ghazali dalam dunia kekuasaan pada masanya, dan latar belakang keilmuannya. Hal itu dapat kita lihat dengan kepakaranmnya dalam bidang ilmu tasawuf dan peningkatan spiritualitas. Sementara tugas Ulama yang berfungsi sebagai penasehat penguasa tidak lagi menjalankan misinya dengan baik.[26]
 
Karya Imam al-Ghazali yang dituangkan dalam kitab At-Tibr al-Masbuk fi>Nashihat al-Muluk merupakan karya yang terkait dengan kehidupan politik, yang pada intinya berisi nasehat-nasehat beliau untuk para penguasa. Karya itu merupakan kumpulan tulisan beliau yang dihadiahkan kepada Sultan Muh}ammad Ibnu Malik dari Dinasti Saljuk. Sebagaimana dikatakan al-Ghazali, bahwa khalifah adalah yang bertugas sebagai pelindung pelaksanaan syari’at. Perjalanan hukum ilahi menjadi tanggung jawab seorang penguasa. Maka, menurut beliau keberadaan Negara adalah sangat urgen. Dalam hal ini, pandangannya tidak banyak berbeda dengan pemikiran Ibnu Taimiyah. Sebagaimana dikatakan al-Ghazali,[27]“Keteraturan agama tidak bisa dihasilkan kecuali dengan seorang pemimpin Negara yang ditaati”. Oleh karena itu, seorang Sultan beserta perangkat-perangkat politiknya harus melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya  sesuai dengan etika berpolitik. Apabila seorang Sultan yang menjaga etika berpolitik, menurut al-Ghazali, maka sebenarnya politik, dalam hal ini adalah tugas mulia. Tetapi sebaliknya, apabila seorang penguasa dan pejabat negara berbuat dlalim, janganlah didekati.[28]
 
Berangkat dari kegelisahan terhadap penyimpangan penguasa Buwaihi pada waktu itu, al-Ghazali mengatakan, bahwa krisis penguasa sebenarnya berakar dari krisis ulama. Hal ini sebagaimana dikatakan dalam Ihya>’ Ulu>m al-Di>n bahwa “Sesungguhnya, kerusakan rakyat disebabkan oleh kerusakan para penguasanya, dan kerusakan penguasa disebabkan oleh kerusakan ulama, dan kerusakan ulama disebabkan oleh cinta harta dan kedudukan, barangsiapa dikuasai oleh ambisi duniawi, maka ia tidak akan mampu mengurus rakyat kecil, apalagi penguasanya”.[29]
 
Selain krisis ulama dan penguasa pada waktu itu, juga al-Ghazali  berkuasa memimpin masyarakat yang beraliran menyimpang dari Ahl al-Sunnah wa al-Jama>’ah. Pada masa kekuasaan Buwaihiyah, tidak saja mereka beraliran Syi’ah, akan tetapi mereka juga bersikap oposan terhadap kekhalifahan Abbasiyah, dan melakukan tindakan korupsi dan politik kotor, dan mereka tidak mengakui kekhalifahan Abbasiyah yang Sunni. Ironisnya, beberapa khalifah Abbasiyah seperti al-Mustakfi dan al Mu’ti selalu menggantungkan pada hegemoni Buwaihiyah.[30]Melihat keadaan zaman seperti itu, sehingga terbersit dalam benah pemikiran al-Ghazali untuk menulis sebuah karyanya yakni kitab Fadaih Batiniyyah yang intisarinya tentang kritik terhadap doktrin Syi’ah Bathiniyah dan konsep Imamah Syi’ah. Di samping itu, juga termuat didalamnya kritik tentang kebatalan konsep Imamah dan membongkar kelemahan argumen mereka yang mendasarkan konsepnya dengan nash-nash al-Qur’an.[31]
 
Berangkat dari melihat beberapa karya-karyanya di atas, dapat disimpulkan bahwa al-Ghazali adalah sosok seorang ilmuan yang mampu mengawinkan dua keilmuan dalam bingkaian pemikiran, baik dalam ranah politik-agama maupun ulama-umara. Sehingga dengan terintegrasi keilmuan, masing-masing mampu memberikan suatu pemahaman terhadap dimensi perkembangan keilmuan.
 
  1. Menyoal Kembali Dikotomi Ulama
Sebagaimana dikemukakan al-Ghazali, bahwa term ulama merupakan satu keterkaitan dengan pembahasan keutamaan ilmu dan pembelajaran. Hal ini  sebagaimana ditegaskan dalam al-Qur’an sebagai berikut. 
 
Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.
 
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
 
Berkaitan dengan penjelasan tentang keutamaan menuntut ilmu[34] dan pembelajarannya, kemudian di bagi menjadi dua bidang ilmu, yakni: pertama, ilmu-ilmu yang terpuji[35], dan kedua, ilmu-ilmu yang tercela[36]. Sementara status hukum mempelajarinya sebagaimana dikemukakan al-Ghazali, dapat digolongkan menjadi dua yaitu: fard}u ‘ain (ilmu yang wajib dipelajari setiap individu. Misalnya, agama dan cabang-cabangnya), dan fard}u kifayah. (ilmu yang diwajibkan pada setiap muslim, tetapi harus ada di antara muslim yang mempelajarinya, misalnya, ilmu kedokteran, ilmu hitung, pertanian, politik, dan pengobatan). Kemudian berdasarkan objeknya sebagaimana dikemukakan oleh al-Ghazali, bahwa ilmu dibagi atas tiga kelompok, yaitu.
 
  1. Ilmu pengetahuan yang tercela secara mutlak, baik sedikit, maupun banyak. Seperti, sihir, azimat, dan ilmu tentang ramalan nasib.
  2. Ilmu pengetahuan yang terpuji, sedikit atau banyak dan setiap kali bertambah banyak, maka lebih baik dan lebih utama. Seperti ilmu agama, dan ilmu ilmu yang terkait dengan ibadah.
  3. Ilmu pengetahuan yang dalam kadar tertentu dipuji, tapi jika mendalaminya juga tercela.
 
Dikatakan ilmu yang tercela yakni, dari segi kemanfaatan baik sedikit maupun banyak merupakan suatu tindakan yang tidak ada manfaatnya, baik bagi agama maupun dunia, karena apa yang telah dilakukan mengandung bahaya sehingga dapat mengalahkan manfaatnya, seperti: ilmu sihir, jimat-jimat dan ilmu ramalan nasib. Bahkan ada yang tidak bermanfaat sama sekali, dan memalingkan umur yang merupakan simpanan manusia paling indah, serta menyia-nyiakan apa yang indah adalah tercela. Di antara ilmu yang tercela, ada yang mengandung bahaya yang harus dengan menambah atas apa yang disangka orang, bahwa didapatnya kebutuhan hidup di dunia, meskipun cara yang ditempuh sangat berbahaya.
 
Sementara ilmu yang terpunji pada batas paling akhir, adalah pengetahuan terhadap Allah swt., dengan sifat-sifat dikalangan makhluknya, serta hikmahnya dalam mengurutkan akhirat atas dunia. Ilmu ini adalah ilmu yang dituntut karena dzatnya dan karena sebagai perantara menuju kebahagiaan akhirat. Adapun ilmu-ilmu yang tidak terpuji daripadanya, kecuali ukuran tertentu, maka itu adalah ilmu-ilmu yang kami golongkan dalam fardlu-fardlu kifayah.
 
Berbicara tentang dikotomi ulama, baik ulama al-su>’[37] dan ulama al-khair. Pada prinsipnya dibedakan menjadi dua kelompok keilmuan yang terpuji dan yang tercela. Sebagaimana dikemukakan al-Ghazali, bahwa ulama al-su>’yang oleh karena sering mempelajari dan mengamalkan ilmu yang tercela, maka  tujuan  mereka dari penguasaan ilmunya adalahkarena ingin memperoleh kenikmatan dunia semata, mengejar jabatan dan kedudukan untuk kepentingan sendiri, dan dia memanfaatkan ilmunya hanyalah sebagai jalan untuk melapangkan tujuan duniawinya dengan jalan apapun, walaupun harus dengan cara mengorbankan umat. Ulama semacam ini sebagaimana al-Ghazali mendasarkan kepada hadis Nabi yang mengatakan bahwa pada akhir zaman nanti akan muncul orang-orang yang tekun menjalankan ibadah, tetapi sangat bodoh, dan juga orang-orang yang pandai (ulama), akan tetapi mereka fasik.
 
Ulama yang seperti itu sebagaimana dikatakan al-Ghazali nanti di hari kiamat akan mendapatkan siksa paling berat, karena mereka ini adalah pemimpin-pemimpin yang menyesatkan. Mereka menyandang berpredikat ulama, tetapi predikat tersebut dijadikan sebagai alat untuk membodohi umat, bukan untuk mencerdaskan dan memberdayakan umat. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah saw. 
ان اسد الناس عذابايوم القيا مة عالم لم ينفعه بعلمه                               
ٍٍ”Sesungguhnya manusia yang keras siksanya pada hari kiamat adalah orang alim yang tidak diberikan kemanfaatan oleh Allah dengan ilmunya itu”
من ازدا علما ولم يزدد هدى لم يزدد من الله الابعدا             
Barang siapa bertambah ilmunya, tetapi tidak bertambah petunjuknya, maka ia hanya akan bertambah jauh dari Allah”
 
Sedangkan Ulama al-khair adalah orang-orang yang menemui keberuntungan dan dekat dengan  Allah swt. Cirri-ciri Ulama al-khair ini dapat diuraikan sebagaimana kreteria berikut ini.
  1. Tidak semata-mata mencari dunia dengan ilmunya
  2. Memiliki sifat khusyu’ dan zuhud
  3. Perbuatannya selaras dengan perkataannya
  4. Perhatiannya adalah memperoleh ilmu-ilmu yang bermanfaat di akhirat, yang dapat menggairahkan untuk tunduk kepada Allah, serta menjauhi ilmu-ilmu yang sedikit manfaatnya dan banyak mengandung perdebatan dan omong kosong.
  5. Berusaha menjauhkan diri dari penguasa, sekiranya masih dapat mencari jalan untuk menjauhinya.
  6. Berfikir yang jernih dalam memberikan fatwa, berhati-hati dan tidak tergesa-gesa atau memilih diam.
  7. Perhatian ilmunya sebagian ditujukan kepada ilmu batin, sehingga mengetahui jalan menuju akhirat dan menempuhnya, benarnya pengharapan untuk terbukanya jalan tersebut, dengan melakukan mujadalah dan muraqabah
  8. Mempunyai kepedulian terhadap bertambah kokohnya kenyakinan sebagai modal utama beragama
  9. Hendaknya merasa susah, gelisah, tunduk, diam, nampak takut kepada Allah dalam bertindak, berpakaian, bergerak, diam dan berbicara. Sehingga orang-orang yang melihat  kepadanya,  mejadi ingat kepada  Allah  swt, serta sikapnya menunjukkan kepada amal perbuatannya
  10. Mengutamakan dan mendahulukan ilmu yang dapat diamalkan. Karena inti agama adalah menjaga dari perbuatan keji.
  11. Dalam tingkatan pencapaian ilmunya, bersandar kepada mata hati dan kejernihan hatinya, bukan bersandar kepada buku-buku dan kitab-kitab, tidak pula kepada mengikuti apa yang ia dengar dari orang lain, dalam penjelasannya terhadap ciri ulama akhirat ini, Imam al-Ghazali menyatakan bahwa seharusnya kita mengikuti jejak para sahabat yang sangat ta’dim dan ta’at. Mereka mendengar dan melihat langsung serta mengerti perkataan dan perbuatan Rasulullah, kemudian mereka mengamalkannya. Tetapi umat kemudian kebanyakan hanya taqlid membabi buta terhadap guru atau ulamanya. Demikian juga jika mereka menyandarkan ilmunya pada buku atau kitab, seharusnya mereka juga selektif. Karena semenjak abad keempat muncullah karangan-karangan mengenahi ilmu kalam, banyak yang terjun ke dalam perdebatan dan memperdalam tentang bantahan terhadap  beberapa pendapat. Sehingga pada jaman ini hilanglah ilmu yaqin, yang ada tampak ilmu-ilmu perdebatan dan hilaf. Orang alim pada jaman ini adalah orang yang debat, ahli ilmu kalam, orang pandai berkisah, orang pandai menghias perkataanya dengan kata-kata bersajak. Demikianlah, maka ilmu akhirat dilipat sehingga hilang dari mereka perbedaan antara ilmu dan kalam.
  12. Sangat berhati-hati dalam menyikapi hal-hal yang baru, meskipun kebanyakan ulama menyetujui hal baru itu, maka janganlah terpengaruh oleh kesepakatan oleh para ulama atas hal-hal yang baru timbul sesudah masa sahabat.
 
Dari dua belas kreteria cirri-ciri Ulama al-khair tersebut, dapatdiinterpretasikan tentang bagaimana akhlak ulama salaf yang dapat kita jadikan sebagai dasar dan pijakan dalam memperbaiki sifat-sifat perilaku dalam kehidupan kita. Di samping juga sebagai bahan renungan tentang kekurangan-kekurangan  yang ada pada diri kita, sehingga kita tidak merasa membodohi diri kita sendiri dengan berdalih agama sebagai pencarian harkat dan martabat dalam kehidupan duniawi.
 
 
5Analisis
 
Dari uraian di atas bahwa pemikiran al-Ghazali, terkait dengan  keutamaan ilmu dan ulama, baik Ulama al-su>’ dan Ulama al-khair, pada intinya sebagai gambaran al-Ghazali terhadap berbagai perubahan pemikiran dan keilmuan yang selalu berkembang.
 
Berawal dari gambaran al-Ghazali terhadap berbagai macam perkembangan keilmuan pada masa itu, bahwa keilmuan pada waktu itu mengalami masa kejayaan dengan semangat perdebatan dan retorika, terkait dengan pernyataan tentang obsolutisme yang dijadikan sebagai tameng oleh sebagian ulama untuk memperkuat kedudukan mereka, dalam mempertahankan sumber-sumber kekuasaan. Pernyataan seperti ini merupakan sesuatu yang tidak mustahil mengingat peranan ilmu dalam masyarakat pada waktu itu, dimanapun dan kapanpun selalu rentan dengan terkooptasi oleh kekuasaan. Berbagai perkembangan keilmuan pada masa itu sebagai bukti suatu kenyataan dalam wilayah kekuasaan. Sehingga al-Ghazali mengatakan bahwa terdapat ilmu yang tercela, seperti ilmu kalam dan ilmu jadal yang dianggap telah bertanggung jawab terhadap memudarnya pancaran dari ilmu-ilmu keakhiratan yang selama ini terpelihara dalam akar tradisi kenabian. Al-Ghazali mengatakan, bahwa ilmu-ilmu sebagaimana tersebut di atas memang sangat mudah dipengaruhi terhadap kepentingan pihak-pihak tertentu, baik penguasa dalam mempertahankan kekuasaannya. Pernyataan seperti ini dapat juga memberikan penilaian yang tidak dapat dijadikan sebagai inspirativ, karena tidak mampu memberikan sumbangan pemikiran baik yang berdimensi keakhiratan, tetapi justru yang muncul adalah pemikiran yang terkait dengan dunia semata.
 
Dengan terkooptasinya ilmu-ilmu oleh kepentingan kekuasaan ini, bukan merupakan suatu hal yang baru dalam struktur sejarah kebudayaan terkait dengan perkembangan pemikiran yang muncul pada diri manusia. Tentu dalam hal ini urgensi suatu metode dalam mengatasi perbagai macam persoalan dalam menjernihkan pemahaman-pemahaman logika masyarakatnya, sehingga melahirkan melahirkan pemahaman-pemahaman yang benar dengan cara berdialok. Oleh karena itu al-Ghazali dalam melakukan perlindungan terhadap masyarakat Islam pada masa itu dengan langkah-langkah yang sekiranya mudah dipahami oleh masyarakat dengan jalan memberikan pemahaman tentang ketauhitan. Pemahaman terhadap dalil-dalil yang tegas sebagai dasar yang kemudian dijadikan sebagai pondasi dalam mencari suatu kebenaran. Sehingga dengan cara seperti ini al-Ghazali lebih mudah memberikan kritik terhadap ulama dan ilmu-ilmu yang melatarbelakanginya.
 
Sedangkan terkait dengan peran dan ciri ulama yang telah uraikan di atas, merupakan upaya untuk menunjukkan kesinambungan dan konsekwensi logis antara ilmu dan perbuatan para ulama. Sebenarnya jika dipelajari secara mendalan bahwa terkait dengan cirri-ciri ulama mengandung niali-nilai etika, yakni menjelaskan kemanfaatan ilmu terkait dengan amal perbuatannya, baik sebagai individu maupun sebagai public figure yang akan dicontoh dan diteladani oleh umatnya. Dari  sinilah, kita mendapatkan suatu jawaban yang sangat menarik terkait dengan pergeseran peran yang telah dimainkan oleh para ulama pada setiap eranya. Artinya, al-Ghazali sebenarnya telah memberikan parameter peradaban terkait dengan tolok ukur sejauh mana tingkat pergeseran dan perubahan orientasi keilmuan dan peran yang dimainkan oleh ulama. Bahwa peran ulama sebagai penerus risalah perjuangan nabi sebenarnya juga rentan mengalami pergeseran dan perubahan orientasi. Sehingga dengan demikian, sangat mudah mengetahui mana ulama yang masih mampu menjaga risalah tradisi kenabian dan mana ulama yang telah terpengaruhi oleh gemerlapnya dunia.
 
 
6Kesimpulan
 
Berdasarkan uraian dan analisa terhadap dikotomi ulama menurut al-Ghazali, maka dapat disimpulkan bahwa, terkait dengan pembahasan tentang keutamaan ilmu, keutamaan belajar mengajar dan klasifikasi ilmu yang terpuji dan ilmu tercela. Artinya, pemaparan keutamaan ilmu dan keutamaan yang kemudian diteruskan kepada klasifikasi terhadap ilmu yang terpuji dan tercela merupakan pernyataan awal untuk membahas peran dan cirri dikotomi ulama, yakni ulama su>’ dan ulama al-khair. Permasalahan yang muncul terkait dengan peran ulama pada masa itu, al-Ghazali memberikan kritik, karena pada masanya peran utama ulama’ telah banyak bergeser orientasi ke arah kekuasaan dengan mencari kepentingan duniawiyah semata, sehingga melupakan peran utama yang seharusnya menjadi tanggungjawab yang besar yang harus dimiliki. Di samping itu juga ingin mengetahui sampai sejauh mana pergeseran dan orientasi ulama dalam perannya pada masa itu.
 
 
 
 
Daftar Pustaka
 
Armando, Nina M. Ensiklopedi Islam. Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, 2005.
 
Bakar, Osman. Hierarki Ilmu (terj). Bandung: Mizan, 1998.
 
Dunya, Sulaiman. al-Haqiqah fi al-Nazr Ind al-Ghazali. Kairo: Dar al-Ma’arif, 1971.
 
Ghazali (al),  Abu Hamid. Fadaih al-Batiniyah. Beirut: Maktabah al-‘Ashiyah, 2001.
…………, Ihya’ Ulum al-Din juz II. Beirut: Da>r Kutub al-Ilmiyah.
 
…………, Ta’i Abu Hamid.  Al-Iqtis}ad fi al-‘Itiqad  cet.1. Beirut: Da>r al-Qutaibah, 2003.
 
Ghazali (al), Abu> H}amid Muh}ammad ibn Muh}ammad. Ihya>’ ‘Ulu>m al-Di>n.Semarang: Thoha Putra, tt.
 
Keddie, Nikki R. Scholars, Saints, and Sufis: Muslim Religious Institutions in the Middle East Since 1500 . USA: University of California Press, 1972.
 
Mas’ud, Muhammad Khalid. Armando Salvatore, Martin van Bruinessen, Islam and Modernity: Key Issues and Debates. USA: EndinburghUniversity Press, 2009.
 
Mufrodi, Ali. Islam di Kawasan Kebudayaan Arab. Jakarta: Logos, 1997. lihat. Mohammad Baharus, Epistemologi Antagonisme Syi’ah dari Imamh sampai Mut’ah cet. 3. Malang: Pustaka Bayan, 2008.
 
Musawi (al), Musail. Bagaimana Menjadi Orang Bijaksana. Jakarta: Lentera, 1998.
 
Raziq, Musthofa Abd.Tamhid al-Tarikh al-Falsafah al-Islamiyah. Kairo: Mathba’ah Lajnah, 1379.
 
Said, Busthami M. Pembaharu dan Pembaharuan dalam Islam. Ponorogo: Trimurti, 1992.
 
Sibawaini. Eskatologi al-Ghazali dan Fazlur Rahman. Yogyakarta: Islamika, 2004.
 
Subki (al), Abdul Wahab bin Ali. T{habaqat al-Shafi’iyyah al-Kubra jilid 6.Beirut: Da>r al-Kutub al-Islamiyah.
 
Subki (al), Tajuddin Abi Nasr “Abd. Al-Wahhab ibn Ali ibn Abd. Al-Kafi.T}abaqat Asy Syafi’iyyah al-Kubra. Kairo: Isa al-Babi al Halabi, 1968.
 
Syarbasi,  Ahmad. Al-Ghazali wa al-Tasawwuf al-Islami. Kairo: Dar al-Hilal.
 
Syata, al-Sayyid Abu> Bakar ibn Muh}ammad. Menapak Jalan Kaum Sufi (terj) (Surabaya: Dunia Ilmu, 1997.
 
Taftazani (al), Abu al-Wafa’ al-Ghanimi. Sufi dari Zaman ke Zaman. Bandung: Pustaka, 1997.
 
Weber, Max. The Theory of Social and Ekonomic Organization. New York: Simon and Schuster, 1997.
 
Zaman, Muhammad Qasim. The Ulama in Contemporary Islam: Custodians of Change. USA: Princeton University Press, 2007.
 
 

 


[1] Mahasiswa Pascasarjana Program Doktor IAIN Sunan Ampel Surabaya

[2] Nina M. Arnando, Ensiklopedi Islam (Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, 2005), 154.

[3] Ulama, orang yang ahli dalam ilmu agama, karena dengan pengetahuannya, maka mereka memiliki rasa taqwa, takut, dan tunduk kepada Allah swt. Di samping itu juga memiliki pengetahuan tentang ayat-ayat Allah swt, baik kauniyyah maupun qur’aniyyah.

[4] Sebagaimana hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari “sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi” meskipun Ibnu Hajar al-Asqalani, ahli hadis, meragukan kesahihannya, tetapi jiwa yang ada pada hadis ini sesuai dengan apa yang tercantum dalam al-Qur’an pada surah Fa>tir ayat 32  “Kemudia kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba Kami….” Sehinga ketika para Nabi sudah tiada, maka tugas itu menjadi tugas para Ulama.

[5] Kata ilmu berakar dari kata kerja ‘alima, yang berarti memperoleh hakekat ilmu, mengetahui dan yakin. Sedangkan ilmu dalam bentuk jamak adalah ‘ulum, artinya memahami sesuatu dengan hakekatnya, dan berarti itu kenyakinan dan pengetahuan.

[6] Nikki R. Keddie, Scholars, Saints, and Sufis: Muslim Religious Institutions in theMiddle East Since 1500 (USA: University of California Press, 1972), 13.

[7] Muhammad Khalid Mas’ud, Armando Salvatore, Martin van Bruinessen, Islam and Modernity: Key Issues and Debates (USA: Endinburgh University Press, 2009), 208-210.

[8] Muhammad Qasim Zaman, The Ulama in Contemporary Islam: Custodians of Change(USA: Princeton University Press, 2007), 3-6.

[9] Max Weber, The Theory of Social and Ekonomic Organization (New York: Simon and Schuster, 1997), 363-370.

[10] Al-Ghazali adalah seorang yang mempunyai sifat kepribadian yang bijak dan daya mempunyai daya ingat yang sangat kuat. Sehingga sampai mendapatkan gelar hujjatul Islam karena kemampuannya. Ia sangat dihormati di dua dunia Islam yakni, Saljuk dan Abbasiyah yang merupakan pusat kebesaran Islam. Ia berhasil menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan, di samping juga sanggup meninggalkan segala kemewahan hidup untuk bermusafir dan mengembara serta meninggalkan kesenangan hidup demi mencari ilmu pengetahuan. Sebelum mengembara, al-Ghazali telah mempelajari karya ahli sufi ternama seperti al-Junaid Sabili, Bayazid Busthami. Selama 10 tahun dalam pengembaraannya, al-Ghazali juga telah mengunjungi tempat-tempat suci, seperti Makkah, Madinah, Jerusalem, dan Mesir. Beliau terkenal sebagai ahli filsafat Isla, yang telah mengharumkan nama ulama di Eropa melalui hasil karyanya yang sangat bermutu tinggi.

[11] Abu> H}amid Muh}ammad ibn Muh}ammad al-Ghaza>li>, Ihya>’ ‘Ulu>m al-Di>n(Semarang: Thoha Putra, tt), 7.

[12] Abdul Wahab bin Ali al-Subki, T{abaqat al-Shafi’iyyah al-Kubra jilid 6. (Beirut: Da>r al-Kutub al-Islamiyah), 191.

[13] Tajuddin Abi Nasr “Abd. al-Wahhab ibn Ali ibn Abd. al-Kafi as-Subki, T}abaqat Ash Shafi’iyyah al-Kubra (Kairo: Isa al-Ba>bi al Halabi, 1968), 194.

[14] Abu> H}amid Muh}ammad ibn Muh}ammad al-Ghaza>li>, Ihya>’ 8.

[15] Osman Bakar, Hierarki Ilmu (terj) (Bandung: Mizan, 1998), 196.

[16] Abu> H}amid Muh}ammad ibn Muh}ammad al-Ghaza>li>, Ihya>’ 8.

[17] Abu> al-Wafa’ al-Ghanimi al-Taftazani, Sufi dari Zaman ke Zaman (Bandung: Pustaka, 1997), 148.

[18] Abu> H}amid Muh}ammad ibn Muh}ammad al-Ghaza>li>, Ihya>’ 8.

[19] Sulaiman Dunya, al-Haqiqah f>i al-Nazr Ind al-Ghazali (Kairo: Da>r al-Ma’arif, 1971), 20.

[20] Sibawaini, Eskatologi al-Ghazali dan Fazlur Rahman (Yogyakarta: Islamika, 2004), 37.

[21] Sulaiman Dunya, Maqasid al-Falasifah, 24.

[22] Musthofa Abd. Raziq, Tamhid al-Tarikh al-Falsafah al-Islamiyah (Kairo: Mathba’ah Lajnah, 1379), 42.

[23] Al-Sayyid Abu> Bakar ibn Muh}ammad Syata, Menapak Jalan Kaum Sufi (terj) (Surabaya: Dunia Ilmu, 1997), 272.

[24] Ahmad Syarbasi, al-Ghazali wa al-Tasawwuf al-Islami (Kairo: Da>r al-Hilal), 33.

[25] Kondisi pemikiran al-Ghazali pada masa itu banyak diwarnai oleh pertentangan antar berbagai aliran pemikiran. Namun demikian, tidak berarti pada masa itu al-Ghazali mengalami kemunduran, akan tetapi justru memberikan pertanda bahwa laju pemikiran Islam di masa itu semaking berkembang dengan pesat. Hal ini dapat dilihat, dialog-dialog intelektual dengan nuansa perdebatan menandakan sebagai upaya pencarian kebenaran melalui argument ilmiah. Akan tetapi, dialog-dialog intelektual itu mengarah kepada upaya untuk mempertahankan doktrin aliran masing-masing yang cenderung antagonistik. Lihat Abu Hamid Muhammad al-Ghazali, al-Munqidz min al-Dhalal (Beirut: Maktabah Sa’biyah,tt), 33.

[26] Busthami M. Said, Pembaharu dan Pembaharuan dalam Islam (Ponorogo: Trimurti, 1992), 55.

[27] Ta’i Abu> H}amid al-Ghazali,  al-Iqtis}ad fi> al-‘Itiqad  cet.1 (Beirut: Da>r al-Qutaibah, 2003), 69.

[28] Abu> H}amid al-Ghazali, Ihya>’ Ulu>m al-Di>n juz II (Beirut: Da>r Kutub al-Ilmiyah), 151.

[29] Ibid , p.381.

[30] Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab (Jakarta: Logos, 1997), 123, lihat. Mohammad Baharus, Epistemologi Antagonisme Syi’ah dari Imamh sampai Mut’ah cet. 3(Malang: Pustaka Bayan, 2008), 76.

[31] Abu> H>amid al-Ghazali, Fadaih al-Batiniyah (Beirut: Maktabah al-‘Ashiyah, 2001)

[32] al-Qur’an, 39 (Az-Zumar), 9.

[33] al-Qur’an, 58 (al-Mujadilah), 11.

[34] Berdasarkan pada hadis Nabi bahwa yang dimaksud “menuntut ilmu itu adalah fard}u‘ain yang diwajibkan kepada setiap individu Islam” al-Ghazali mempersoalkan tentang ilmu, apakah menuntut ilmu fard}u ‘ain ataukah fard}u kifayah kepada individu Islam? Oleh karena itu al-Ghazali mendudukan persoalan tersebut dengan mengklasifikasikan ilmu kepada dua bagian utama yakni, Ilmu Mu’amalah dan Ilmu Mukashafah. Ilmu Mu’amalah maksudnya suatu ilmu yang diperoleh manusia melalui utusan Allah, pembelajaran (akal), pengalaman dan pendengaran. Pada dasarnya ilmu mu’amalah tersebut tidak ada perbedaan melainkan mencari bagaimana sesuatu yang khusus terkait dengan dengan ilmu fard}u ‘ain dan ilmu fard}u kifayah oleh para ilmuan Islam. Sedangkan ilmu Mukashafah adalah, suatu ilmu yang hanya dipelajari oleh manusia untuk melaksanakan ilham yang telah diberikan oleh Allah kepada individu Islam setelah melalui peringkat-peringkat tertentu dalam mengamalkannya. Ilmu ini yang sering disebut oleh ahli tasawuf sebagai ilmu laduni.

[35] Ilmu terpuji sebagaimana dikemukakan al-Ghazali adalah secara umum seberapa besar ilmu-ilmu itu bermanfaat kepada manusia dari penggunaannya, bermanfaat kepada kehidupan manusia,  dan seberapabesar kesan ilmu-ilmu tersebut dalam ilmu pengetahuan dan keseronokan kepada manusia.

[36] Sebagaimana dikemukakan al-Ghazali bahwa suatu ilmu itu tercela yakni, tidak mendatangkan kemudaratan kepada diri seseorang yang mempelajarinya maupun orang lain, tidak mendatangkan lebih banyak kemudaratan kepada yang mempelajarinya, dan tidak memberikan manfaat kepada yang mempelajarinya maupun orang lain.

[37] Ulama yang hanya mementingkan kepentingan individu dan mengambil jarak dengan masyarakat oleh al-Ghazali disebut sebagai ulama su>’ (ulama yang buruk). Ulama su>’menganggap kekuasaan dan kekayaan sebagai tujuan. Berbeda dengan ulama akhirat yang menjadikan keduanya sebagai “musuh” yang harus dilawan. Al-Ghazali membagi ulama ke dalam dua kategori: ulama su>’ yang hanya disibukkan dengan mencari kekayaan dan kekuasaan, dan ulama akhirat adalah yang memiliki sifat karakteristik sebaliknya (Abu Hamid al-Ghazali, Ihya> ‘Ulu>m al-Din, juz I), 80. lihat pula. Khalil al-Musawi, Bagaimana Menjadi Orang Bijaksana (Jakarta: Lentera, 1998), 80.

Leave a Comment

Filed under Agama

Leave a Reply