Sikap Lemah Lembut dan Rendah Hati

Sahabat Ibn ‘Abbās r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah s.a.w. pernah berkata kepada al-Asyjī: “Kamu mempunyai dua sifat yang membuat Allah dan Rasul-Nya senang; Lemah lembut dan murah hati.” (H. R. Muslim).

 

Sayyidah ‘Ā’isyah r.a. menyatakan bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda:

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ

Maksudnya: “Sesungguhnya Allah adalah Maha Lemah Lembut dan suka terhadap sikap lemah lembut dalam segala hal.” (H. R. al-Bukhārī dan Muslim).

 

Sifat pemarah merupakan sifat tercela yang muncul pada diri manusia akibat dorongan amarah dan hawa nafsu. Islam selalu menekankan pada umatnya untuk menjauhkan diri daripada sifat tercela ini. Sebaliknya, Islam menganjurkan umatnya untuk bersikap lemah lembut. Karena sifat lemah lembut adalah kebalikan sifat pemarah, maka untuk memahami secara baik sifat tersebut, kita harus memahami terlebih dahulu apa itu sifat pemarah.

 

Marah mempunyai banyak tingkatan. Tingkatan paling rendah adalah di saat seseorang tidak mempunyai apapun naluri pemarah, sehingga dia sama sekali tidak dapat emosi. Keadaan separti ini adalah keadaan yang kurang baik.

Tingkatan yang paling buruk lainnya adalah di saat naluri pemarah seseorang tidak dapat dikawal oleh akal dan ajaran agamanya, sehingga dia tidak mempunyai pertimbangan yang matang dan pilihan yang jelas ketika marah. Sifat ini dapat timbul karena faktor dalam yang berupa tingginya naluri kemarahan dan juga faktor luar yang berupa lingkungan masyarakat yang menganggap kemarahan sebagai sikap pemberani.

Sikap pemarah seperti ini jelas tidak dibenarkan oleh agama, karena ia dapat menyebabkan seseorang menjadi “buta”, tidak dapat membedakan antara kebenaran dan kesalahan dan juga menyebabkan seseorang menjadi “tuli”, tidak mau mendengar nasihat dan bimbingan. Akhirnya yang mengendalikan tingkah laku mereka adalah hawa nafsu bukan akalnya dan yang keluar dari lisan mereka adalah kata-kata kotor.

Kebencian akan muncul di dalam hatinya sehingga timbul keinginan untuk memukul atau bahkan membunuh. Kalau dia tidak sanggup melampiaskan kekesalannya, maka dirinya akan merasa terhina, atau dia akan mencari pelampiasan lain, separti dengan menghacurkan barang-barang yang terdapat di hadapannya. Belum lagi, orang yang sedang marah raut mukanya akan berubah menjadi buruk dan menyeramkan, badannya gemetar, langkahnya tidak terkendali dan matanya berwarna merah. Seandainya ketika marah dia melihat dirinya sendiri, maka ia akan menghentikan kemarahan tersebut, kerana malu melihat raut muka dan sikapnya itu.

Adapun tingkatan yang terpuji adalah di saat terdapat keseimbangan antara naluri sikap pemarah dan sikap lemah lembut. Kemarahan model ini adalah kemarahan yang masih berada dalam kendali akal, dan jika ia munculpun kerana didorong oleh sikap sensitifi dan emosi keberagamaan untuk membela agama. Hal ini sebagaimana yang dipraktikkan oleh Rasulullah s.a.w., jika Beliau melihat ada larangan-larangan Allah s.w.t. dilanggar, Beliau marah. Namun di saat lain sikap lemah lembut harus selalu muncul menghiasi dirinya.[1]

Setakat ini, maksud dari sikap lemah lembut belum juga terungkap dengan jelas. Oleh kerana itu berikut ini akan dipaparkan beberapa pendapat ulama. Imam al-Ghazālī mendefinisikan sikap lemah lembut dengan terkalahkannya potensi kemarahan terhadap bimbingan akal. Menurut al-Ghazālī, tumbuhnya sifat lemah lembut dalam diri manusia dapat dimulakan dengan melatih diri menahan amarah. Allah s.w.t. berfirman dalam surah Ālī Imrān, 3: 134, yang artinya: “Orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang.”

 

Hal ini dapat didapat dengan pelatihan, iaitu dengan cara berusaha sedaya upaya untuk menahan setiap amarah yang sedang bergejolak. Jika seseorang telah terbiasa dengan sikap separti ini maka sikap lemah lembut akan menjadi akhlaknya, dan amarahnya tidak akan bergejolak, seeandainya bergejolakpun dia tidak akan kesulitan mengendalikan.[2]

 

Sehingga dapat dikatakan bahawa sikap lemah lembut merupakan parameter kesempurnaan akal dalam mengendalikan nafsu amarah.[3]

 

Terdapat sebahagian orang yang beranganggapan bahawa sifat lemah lembut adalah sikap menahan nafsu. Pendapat ini kurang tepat, kerana nafsu yang harus ditahan jumlahnya banyak sangat, tidak hanya kemarahan sahaja. Menahan nafsu adalah akhlak utama yang paling asas dan harus dimiliki setiap manusia. Dengan menahan nafsu, seseorang akan banyak mendapatkan keutamaan-keutamaan. Kerana sikap itu dapat menjaga seseorang dari melakukan bermacam tindakan tercela yang melenceng dari tuntunan agama. Sikap ini juga dapat melindungi seseorang dari ketundukan terhadap hawa nafsu, menjauhkan dari perbuatan zalim, terlena sehingga melanggar batas-batas yang telah ditetapkan agama.

Sikap lemah lembut sangat berhubung kait dengan sifat sabar. Dua sifat ini memang hampir sama, oleh kerana itu kedua kata ini (al-Hilm dan al-S)abr) sering digunakan untuk menunjuk satu makna yang sama, sebagaimana dalam firman Allah s.w.t dalam surah Āli Imrān, 3: 186, yang artinya: “Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.”

 

Ayat ini menegaskan bahawa menghadapi gangguan dengan tenang dan tabah dapat disebut dengan kesabaran dan juga dapat disebut sebagai sikap lemah lembut (al-Hilm).

 

Begitu juga dalam ayat berikut ini: “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (al-Nahl, 16: 126) Tidak membalas dendam dapat disebut sebagai sikap lemah lembut dan juga dapat disebut sebagai sikap sabar.

 

Dalam ayat yang lain juga disebutkan: “Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.”

 

Sabar dan lemah lembut merupakan salah satu akhlak mulia yang dimiliki oleh Rasulullah s.a.w.. Pada suatu hari, Rasulullah s.a.w. membagi harta pampasan perang. Kemudian terdapat seorang yang berkata: “Pembagian ini tidak adil dan tidak kerana Allah.”Mendengar ucapan ini, pipi Rasulullah s.a.w. memerah dan Beliau berkata: “Semoga Allah mencurahkan kasih sayang-Nya kepada Mūsā. Dia menghadapi gangguan yang lebih menyakitkan hati dari pada ini, namun dia tetap bersabar.”

 

Walaupun sabar dan lemah lembut mempunyai persamaan, namun ada sisi perbezaan di antara kedua istilah tersebut;

Lemah lembut adalah menahan diri untuk tidak membalas dendam atas perlakuan buruk orang lain yang menyakitkan hati dengan balasan yang sama. Sedangkan sabar adalah menerima dengan lapang dada keadaan yang tidak menyenangkan, separti kehilangan orang yang dicintai, sakit parah, tartimpa musibah atau kehilangan harta.

Jadi lemah lembut berkaitan dengan hal-hal yang manusia masih mampu melakukan aksi balas dendam. Manakala sabar berkaitan dengan hal-hal yang berada di luar kemampuan manusia.

Perbezaan lain adalah, lemah lembut merupakan kebalikan sifat pemarah yang merupakan pemberontakan jiwa kerana tidak kuasa menahan amarah dengan disertakan dengan sikap menentang.

Sedangkan sabar adalah kebalikan sifat mengeluh yang merupakan sikap tidak berdaya menghadapi keadaan yang menimpa dan tidak disertai sikap menantang.

Al-Qur’an meminta Rasulullah s.a.w. untuk menghiasi diri dengan sifat lemah lembut, supaya Beliau menjadi teladan bagi umat manusia. Allah s.w.t. berfirman dalam surah al-A‘rāf, 7: 199-201, yang artinya: “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma‘ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.”  

 

Pada ayat lain Allah s.w.t. berfirman: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (iaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukakan orang-orang yang berbuat kebajikan.”  (Āli Imrān, 3: 133-134).

 

Berkaitan dengan dua rangkaian ayat di atas, ada salah seorang ulama[4] yang menerangkan bahwa: “Pada rangkaian ayat pertama terdapat perintah untuk menghiasi diri dengan sifat lemah lembut dan meminta perlindungan kepada Allah s.w.t. dari keinginan untuk marah dan balas dendam. Sedangkan dalam rangkaian ayat kedua diterangkan bahawa menahan amarah, melakukan perbuatan-perbuatan fi sabīllillah dan juga memaafkan orang lain adalah sama (pentingnya).”

 

Jika kita mengetahui bahawa menahan amarah menempati posisi di bawah sikap lemah lembut, maka kita dapat menyimpulkan bahawa sikap lemah lembut adalah sikap yang sangat mulia. Menahan amarah adalah usaha untuk menjadi lemah lembut. Hanya orang yang mempunyai amarah bergejolak sajalah yang memerlukan usaha untuk menahan amarah. Jika seseorang selalu berusaha menahan amarah maka sikap separti ini akan menjadi kebiasaan dan amarahnya tidak akan sering bergejolak, apabila bergejolak pun dia tidak akan kesulitan untuk mengendalikan.

Lembut, ternyata Alloh mencintai kelembutan dan itu tercermin dari perilaku Rasululloh SAW semasa hidup beliau. Berikut contoh-contoh sifat lemah lembut Rasul dalam beberapa hal :

 

1. Lembut terhadap istri/keluarga

Sangat banyak hadits yang menceritakan betapa Rasul sangat lemah lembut terhadap istri-istri nya. Rasul tidak pernah melotot, menaikkan nada suara dan marah kepada istri nya. Beliau biasa memanggil istri-istrinya,  dengan panggilan kesukaan dan panggilan yang indah. Separti ya Humaira untuk memanggil Aisyah. Rasul juga adalah orang yang paling lembut dan banyak menemani istrinya yang sedang mengadu atau sakit. Banyak teladan Rasul yang bisa menjadi inspirasi kita dalam bersikap lemah lembut terhadap istri.

 

2. Lembut terhadap pembantu

Anas bin Malik adalah salah satu sahabat yang membantu mengurus kebutuhan rumah tangga Rasul. Selama 10 tahun bekerja kepada Rasul,  ia tidak pernah mendapati Rasulullah mengumpat, atau menyalah-nyalahkan pekerjaan yang telah ia lakukan.

 

3. Lembut terhadap anak-anak

Rasulullah pernah mencium Al-Hasan bin Ali, sementara Al-Aqra’ bin Habis At-Tamimi sedang duduk di sisi beliau. Maka Al-Aqra’ berkata, ‘Aku memiliki 10 anak, namun tidak ada satu pun dari mereka yang kucium.’ Kemudian Rasulullah memandangnya, lalu bersabda, ‘Siapa yang tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi.’ (HR. Bukhari Muslim).

 

4.  Lembut terhadap orang jahil/belum paham islam

Ada seseorang yang berbicara di dalam shalatnya. Dia mengira, bahwa ketika sedang mengerjakan shalat diperbolehkan berbicara. Karena orang ini jahil (tidak mengetahui hukumnya) dan mukhthi’ (keliru), maka shalatnya tidak batal. Dia telah melakukan sebuah kesalahan, namun tanpa maksud yang disengaja. Secara khusus, terdapat dalil yang menunjukkan perbuatan separti ini. Yaitu hadits Mu’awiyah bin al Hakam as Sulami Radhiyallahu ‘anhu , yang cukup panjang, tentang diharamkannya berbicara ketika seseorang sedang shalat.

Kisah ringkasnya, tatkala Mu’awiyah bin al Hakam as Sulami Radhiyallahu ‘anhu shalat berjama’ah bersama Rasulullah, ia mendengar orang bersin. Dan orang yang bersin itu berkata “alhamdulillah,” sehingga ia pun berkata (menjawab) “yarhamukallah”. Akhirnya, orang-orang di sekitarnya memandang kepadanya. Dia pun berteriak. Lalu orang-orang di sekitarnya memukul-mukul paha mereka sebagai isyarat agar ia diam. Maka Mu’awiyah bin al Hakam as Sulami Radhiyallahu ‘anhu pun terdiam. Begitu shalat usai, manusia yang paling berakhlak mulia (yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) memanggilnya. Akhirnya, Mu’awiyah bercerita tentang akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengajarkan dan membimbingnya: Aku belum pernah melihat seorang pendidikpun sebelumnya maupun setelahnya yang lebih baik darinya. Demi Allah, ia tidak membentakku, tidak memukulku, dan tidak mencaciku.

 

5. Lembut terhadap orang yang meminta-minta

Suatu ketika ada seorang pengemis dari kalangan Anshar datang meminta-minta kepada Rasulullah SAW. Lalu beliau bertanya kepada pengemis tersebut, “Apakah kamu mempunyai sesuatu di rumahmu?”

Pengemis itu menjawab, “Tentu, saya mempunyai pakaian yang biasa dipakai sehari-hari dan sebuah cangkir.” Rasul lalu berkata, “Ambil dan serahkan ke saya!”

Pengemis itupun pulang mengambil satu-satunya cangkir miliknya dan kembali lagi pada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW kemudian menawarkan cangkir itu kepada para sahabat, “Adakah di antara kalian yang ingin membeli ini?” Seorang sahabat menyahut, “Saya beli dengan satu dirham.”

Rasulullah SAW menawarkannya kembali, “Adakah di antara kalian yang ingin membayar lebih?” Lalu ada seorang sahabat yang sanggup membelinya dengan harga dua dirham.

Rasulullah SAW memberikan dua dirham itu kepada si pengemis lalu menyuruhnya menggunakan uang itu untuk membeli makanan untuk keluarganya dan sisa uangnya digunakan untuk membeli kapak. Rasullulah SAW berkata, “Carilah kayu sebanyak mungkin dan juallah, selama dua minggu ini aku tidak ingin melihatmu.” Sambil melepas kepergiannya Rasulullah SAW pun memberinya uang untuk ongkos.

Dua minggu kemudian pengemis itu datang kembali menghadap Rasulullah SAW sambil membawa uang sepuluh dirham hasil dari penjualan kayu. Kemudian Rasulullah SAW menyuruhnya untuk membeli pakaian dan makanan untuk keluarganya seraya bersada, “Hal ini lebih baik bagi kamu, karena meminta-meminta hanya akan membuat noda di wajahmu di akhirat nanti. Tidak layak bagi seseorang meminta-minta kecuali dalam tiga hal, fakir miskin yang benar-benar tidak mempunyai sesuatu, utang yang tidak bisa terbayar, dan penyakit yang membuat sesorang tidak bisa berusaha.“

 

6. Lembut ketika amar ma’ruf nahi munkar

Dikisahkan dalam sebuah hadits bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk-duduk bersama para shahabat radhiyallahu ‘anhum di dalam masjid. Tiba-tiba muncul seorang ‘Arab badui (kampung) masuk ke dalam masjid, kemudian kencing di dalamnya. Maka, dengan serta merta, bangkitlah para shahabat yang ada di dalam masjid, menghampirinya seraya menghardiknya dengan ucapan yang keras. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mereka untuk menghardiknya dan memerintahkan untuk membiarkannya sampai orang tersebut menyelesaikan hajatnya. Kemudian setelah selesai, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta untuk diambilkan setimba air untuk dituangkan pada air kencing tersebut. (HR. Al Bukhari)

Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil ‘Arab badui tersebut dalam keadaan tidak marah ataupun mencela. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menasehatinya dengan lemah lembut:

“Sesungguhnya masjid ini tidak pantas untuk membuang benda najis (separti kencing, pen) atau kotor. Hanya saja masjid itu dibangun sebagai tempat untuk dzikir kepada Allah, shalat, dan membaca Al Qur’an.” (HR. Muslim)

Melihat sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang demikian lembut dan halusnya dalam menasehati, timbullah rasa cinta dan simpati ‘Arab badui tersebut kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka ia pun berdoa: “Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad, dan janganlah Engkau merahmati seorangpun bersama kami berdua.” Mendengar doa tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa dan berkata kepadanya:
“Kamu telah mempersempit sesuatu yang luas (rahmat Allah).” (HR. Al Bukhari dan yang lainnya)

 

7. Lembut terhadap orang kafir yang memusuhi kita

Kisah Nabi ketika berdakwah ke Bani thaif, lalu beliau dicaci maki, dihina dan dilempari batu hingga kaki beliau berdarah-darah.  Akhirnya beliau menjauh dari thaif dan berdoa

” Wahai Tuhanku, kepada Engkau aku adukan kelemahan tenagaku dan kekurangan daya-upayaku pada pandangan manusia. Wahai Tuhan yang Maha Rahim kepada sesiapa Engkau menyerahkan daku?Kepada musuh yang akan menerkamkan aku ataukah kepada keluarga yang engkau berikan kepadanya urusanku, tidak ada keberatan bagiku asal aku tetap dalam keredzaanMu. Dalam pada itu afiatMu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya mukaMu yang mulia yang menyinari segala langit dan menerangi segala yang gelap dan atasnyalah teratur segala urusan dunia dan akirat, dari Engkau menimpakan atas diriku kemarahanMu atau dari Engkau turun atasku azabMu kepada Engkaulah aku adukan hal ku sehingga Engkau redza. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan Engkau”

Demikianlah doa Baginda Rasulullahu yang penuh dengan kepasrahan dan keikhlasan kepada Allah s.w.t. Mendengar doa NabiNya ini, Allah s.w.t menurunkan Jibril AS yang langsung turun berhadapan dengan Rasulullah dan mengucapkan salam seraya berkata:” Allah s.w.t.. mengetahui apa yang telah berlaku diantara kamu dan orang-orang ini. Allah s.w.t. telah menyediakan malaikat digunung-gunung disini khusus untuk menjalankan segala perintah kamu.”

Sambil berkata demikian Jibrail menghadapkan malaikat penjaga gunung-gunung  itu dimuka Baginda s.a.w,  kata Malaikat ini: “Wahai Rasulullah, saya bersiap sedia untuk menjalankan perintah Tuan. Kalau dikehendaki, saya sanggup menyebabkan gunung-gunung yang berada sebelah menyebelah di kota ini berbenturan sehingga penduduk-penduduk dikedua-dua belah mati tartindih. Kalau tidak, Tuan perintahkan apa saja hukuman yang selayaknya diterima oleh orang-orang ini.”

Namun apa jawab Rasulullahu mendengar janji-janji Malaikat itu yang sesuai dengan nafsu amarah ini? Nabi Muhammad s.a.w. yang penuh dengan sifat rahim dan belas kasihan ini tidak mengiakan tetapi berkata:”Walaupun orang-orang ini tidak menerima Islam, saya harap dengan kehendak Allah s.w.t., keturunan-keturunan mereka, pada satu masa nanti, akan menyembah Allah s.w.t.. dan berbakti kepadaNya.”

 

8. Lembut terhadap orang ahli maksiat

Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dan di dalamnya disebutkan:

“Ketika kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba-tiba datang seseorang dan berkata: “Ya Rasulullah, celaka aku!”

Beliau berkata: “Ada apa dengan kamu?”

Ia berkata: “Aku menyetubuhi istriku, sedang aku dalam keadaan berpuasa.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apakah kamu memiliki budak yang bisa kamu merdekakan?”

Ia menjawab: “Tidak.”

Beliau bersabda: “Apakah kamu mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?”

Ia menjawab: “Tidak.” Beliau bersabda: “Apakah kamu bisa memberi makan enam puluh orang miskin?”

Sekali lagi ia menjawab: “Tidak.”

Lalu diamlah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan ketika kami masih berada dalam keadaan hening (terdiam), didatangkanlah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebuah keranjang yang berisi kurma. Beliau bersabda: “Mana orang yang bertanya tadi?” Ia berkata: “Saya.” Beliau bersabda: “Ambillah ini dan sedekahkanlah dengannya.” Orang tersebut berkata: “Apakah ada orang yang lebih fakir dariku ya Rasulullah? Demi Allah tidak ada di antara dua kampung ini rumah yang lebih fakir dari rumahku.” Tertawalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sampai nampak gigi taringnya, kemudian beliau bersabda: “Berikan ini kepada keluargamu.”

 

9. Lembut terhadap kesabaran dan kesusahan

Pada tahun kesepuluh kenabian, istri Rasulullah, Khadijah binti Khuwailid, dan pamannya, Abu Thlaib, wafat. Berkata Ibnu Sa’d dalam Thabaqat-nya: Selisih waktu antara kematian Khadijah dan kematian Abu Thalib hanya satu bulan lima hari.

Khadijah sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hisyam adalah menteri kebenaran untuk Islam. Pada saat-saat Rasulullah menghadapi masalah-masalah berat, ia-lah yang selalu menghibur dan membesarkan hatinya. Akan halnya Abu Thalib, dia telah memberikan dukungan kepada Rasulullah dalam menghadapi kaumnya.

Berkata Ibnu Hisyam: Setelah Abu Thalib meninggal, kaum kafir Quraisy bertambah leluasa melancarkan penyiksaan kepada Rasulullah, sampai orang awam Quraisy pun berani melemparkan kotoran ke atas kepala Rasulullah. Sehingga pernah beliau pulang ke rumah berlumuran tanah. Melihat ini, salah seorang putri beliau bangkit dan membersihkan kotoran dari atas kepalanya sambil menangis. Tetapi Rasulullah, berkata kepadanya, “Janganlah engkau menangis wahai anakku, sesungguhnya Allah akan menolong bapakmu.“

 

10. Lembut terhadap Makhluq Alloh

“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah mewajibkan untuk berbuat baik atas segala sesuatu. Jika kalian membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik. Dan hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya (ketika hendak menyembelih), dan menyenangkan sembelihannya.” (HR. Muslim)

Itulah sepuluh sikap lemah lembut Rasul dalam kehidupan, jika kita melakukan nya karena mengikuti Rasul maka sikap lemah lembut kita bernilai ibadah. Setelah mengetahui ilmu dan dalil nya, tidak ada alasan bagi tiap muslim untuk tidak bersikap lemah lembut.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”. (QS: Al Ahzab [33] : 21).

Namun, yang perlu diperhatikan bahwa sifat Ar-Rifq tidaklah menunjukkan kelemahan atau ketidaktegasan seseorang dalam berkata dan bartindak. Bahkan dalam sifat Ar-Rifq sendiri, sebenarnya telah mengandung sikap tegas dalam amar ma’ruf nahi munkar (memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran). Dan tidaklah sikap tegas itu identik dengan sikap keras atau kasar. Dalam keadaan tertentu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersikap tegas dan keras. Diantara contohnya:

  • Celaan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap perbuatan memanjangkan sholat tanpa memperhatikan keadaan orang-orang yang berma’mum. (HR. Al Bukhari)
  • Sikap keras beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang yang makan menggunakan tangan kiri ketika diperintah untuk makan menggunakan tangan kanan. (HR. Muslim)
  • Perkataan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Celaka kamu” terhadap orang yang berlambat-lambat melaksanakan perintah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menaiki unta. (HR. Al Bukhari)
  • Kerasnya sikap beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang (laki-laki) yang memakai cincin emas, setelah ia tahu bahwa perkara itu adalah perkara yang diharamkan. (HR. Muslim)
     

Sifat Ar-Rifq dalam menghadapi kerasnya problem kehidupan
Diantara pedoman dan kaidah syar’i yang harus dipegang teguh dalam menghadapi kerasnya problem (fitnah) dalam kehidupan adalah hendaknya kita menghadapinya dengan sifat Ar-Rifq (lemah lembut), At-Ta’anni (tidak tergesa-gesa), dan Al Hilm (santun).
Maka hendaknya kita bersikap lemah lembut dan tenang/tidak tergesa-gesa dalam segala urusan dan janganlah menjadi orang yang mudah marah. Janganlah kita menjadi orang yang tidak mempunyai sifat ar-rifq, karena dengan sifat ar-rifq selamanya tidaklah akan membuat seseorang itu menyesal, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Tidaklah sifat ar-rifq tersebut berada dalam suatu perkara kecuali akan memperindahnya.


[1]  Ihyā’ Ulūm al-Dīn.

[2] Ihyā’ Ulūm al-Dīn, (3/154).

[3] Ihyā’ Ulūm al-Dīn, (2/153).

[4] Dr. Ahamd al-H!ūfī dalam kitabnya Min Akhlāq al-Nabī s.a.w.

 

Rendah Hati (Al-Tawadu‘)

 

Semua akhlak yang dipraktikkan oleh Nabi bersumberkan daripada al-Qur’an. Akhlak ini telah membentuk karakter tersendiri dalam diri Nabi s.a.w. dan berpengaruh besar terhadap kehidupan sosialnya. Suatu saat Sayidah ‘Ā’isyah ditanya tentang akhlak Nabi s.a.w., ‘Ā’isyah kembali bertanya kepada orang yang bertanya itu: Apakah kamu pernah membaca al-Qur’an? dijawab: “Pernah.” ‘Ā’isyah meneruskan jawabannya: “Akhlak Nabi adalah al-Qur’an.”

 

Apabila akhlak Nabi bersumberkan daripada ajaran Al-Qur’an, maka sifat rendah hati yang memancar dari rumah Nabi juga berasal daripada al-Qur’an. Allah s.w.t. menegaskan bahawa Dia akan menjauhkan rahmat dan tanda-tanda kekuasaan-Nya dari orang-orang yang sombong dan tidak mempunyai sifat rendah hati. Allah berfirman dalam surah al-A’rāf, 7: 146, yang artinya: “Aku memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku.”

 

Rasulullah s.a.w. adalah manusia yang sangat suka menderma, hatinya sangat lembut, dan peri lakunya sangat sopan. Beliau sangat ramah terhadap keluarganya. Orang yang baru mengenal akan merasa takut kerana kewibaannya, namun setelah sekian lama bersamanya dia akan mencintainya.[1]

 

Sifat-sifat mulia tersebut sangat dirasakan oleh isteri-isteri Rasul dalam kehidupan mereka. Keadaan separti ini, sudah semestinya sangat mempengaruhi kepribadian mereka, sehingga mereka sendiri juga menghiasakan diri mereka dengan akhlak-akhlak yang mulia tersebut, mereka terbiasa dengan sifat rendah hati dan tidak suka menyombong.

 

Rendah Hati dan Sombong

Sikap rendah hati (tawād)u‘) adalah sebalik daripada sikap sombong (takabbur). Rendah hati adalah bahagian daripada akhlak yang mulia, manakala sikap sombong merupakan akhlak yang tercela.

 

Tawād)u‘ adalah sikap rendah hati namun tidak sampai pada taraf merendahkan kehormatan diri dan tidak sampai juga pada memberikan peluang kepada orang lain untuk melecehkan kemuliaan diri.

 

Takabbur adalah sikap merasa lebih cekap dan lebih mulia daripada yang lain. Kesombongan adalah sikap terlalu yakin terhadap diri sendiri, sehingga muncul perasaan menganggap rendah dan hina  terhadap orang lain serta enggan berkumpul dengan orang lain. Orang separti ini tidak dapat menerima perbezaan pendapat apalagi nasihat orang lain. Jka ada orang yang mengingatkannya dia akan marah bahkan menghina orang tersebut.

 

Apabila kita amati, jika seseorang mempunyai sikap tawād)u‘ maka akhlak-akhlak mulia yang lain akan terdapat pada dirinya, separti perasaan bahawa manusia ini sama, lebih mengutamakan orang lain, toleran, dapat memahami perasaan orang lain dan boleh membantu orang yang terzalimi.

 

Adapun kesombongan akan menjerumuskan seseorang kepada sikap-sikap negatif yang lain, separti hasad, dengki, pemarah, egois, terpedaya dengan diri sendiri dan selalu ingin menguasai.

 

Orang yang mempunyai sifat sombong cenderung merendahkan kawan-kawan sesamanya. Jika ia telah menguasai ilmu pengetahuan tertentu maka dia akan menghina dan mencela kawan-kawannya yang tartinggal ilmu pengetahuannya. Jika berkumpul dan bergabung dengan orang lain, dia menganggap hodoh dan menghina mereka, dan jika membuat suatu kerja, dia selalu melakukannya seorang diri.[2]

 

Kerana sikap sombong dan ‘ujub (bangga terhadap diri sendiri) hampir sama, maka Imam al-Ghazālī membuat perbandingan antara kedua sikap tersebut. Dia mengatakan dengan tegas bahawa takabbur (sombong) berbeza  dengan ‘ujub, orang yang ‘ujub tidak akan menyakitkan orang lain, kerana dia hanya sebatas membanggakan diri sendiri secara berlebihan namun tidak disertakan dengan sikap merendahkan atau menghina orang lain.  Takabbur (sombong) juga berbeza dengan al-‘az)amah (merasa bangga dengan kemampuan yang dimilikinya), kerana orang yang dalam hatinya terdapat perasaan‘az)amah, masih menganggap adanya orang lain yang lebih baik dan lebih cekap daripada dirinya, atau paling tidak masih ada orang yang sama dengan dirinya.[3]

 

Berkata Ibn Maskawaih dalam kitab Tahdhīb al-Akhlāq: Orang yang pandai dan terhormat semestinya terhindar daripada sifat takabbur(sombong) dan bangga terhadap diri sendiri. Ada sebuah kisah, seorang penguasa berbanga diri di hadapan seorang hamba sahaya yang pandai. Melihat hal ini hamba sahaya tersebut berkata: Jika kamu berbangga diri kepadaku atas kuda yang kamu miliki, maka keistimewaan yang engkau banggakan adalah milik kuda itu bukan milikmu. Jika kamu berbangga diri kerana bajumu, maka yang cantik adalah bajumu, bukan dirimu, dan jika kamu berbangga diri kerana kehormatan atuk-atukmu, maka kehormatan itu adalah milik mereka bukan milikmu.[4]

 

Larangan Bersikap Sombong dalam al-Qur’an

Al-Qur’an melarang manusia untuk bersikap sombong dan amat menganjurkan mereka untuk bersikap rendah hati. Larangan ini di antaranya terdapat dalam kumpulan ayat yang menceritakan tentang nasihat Luqmān al-H!akīm kepada anaknya, iaitu terdapat dalam surah al-Isrā’, 17: 37-38, yang artinya: “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, kerana sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. Semua itu kejahatannya amat dibenci di sisi Tuhanmu.”

 

Dalam surah al-Nahl, 16: 22-23, Allah s.w.t. berfirman yang artinya: “Maka orang-orang yang tidak beriman kepada hari akhirat, hati mereka mengingkari (keesaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong. Tidak diragukan lagi bahawa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.”

 

Allah s.w.t. juga berfirman dalam surah Luqmān, 31: 18-19, yang artinya: “Dan janganlah memalingkan muka dari manusia (kerana sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”

 

Al-Qur’an juga mengecam dan mengancam orang-orang yang sombong. Allah s.w.t berfirman dalam surah al-A‘rāf, 7: 146, yang artinya: “Aku memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku.”

 

Allah s.w.t berfirman dalam surah al-Mu’min, 40: 35, yang artinya: “Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang.”

 

Dalam al-Qur’an, Allah s.w.t. juga membuat teladan bagaimana nasib orang yang sombong di hadapan kawan-kawan mereka. Di antaranya adalah cerita seseorang yang terlena dengan kekayaan yang melimpah dan pengikut yang banyak, sehingga ia mengingkarkan ke-Esaan Allah s.w.t. dan tidak percaya terhadap keberadaan hari akhir. Dia sombong di hadapan kawan-kawannya dan tidak mendengarkan nasihat dan peringatan sahabat-sahabatnya. Akhirnya dia merugi di dunia dan akhirat.

Berikut ini, kami akan memaparkan kumpulan ayat yang menceritakan seseorang yang sombong dan kawannya yang sangat rendah hati (tawād)u‘). Kemudian kami akan menguraikan cerita mereka dengan lebih terperinci. Allah s.w.t. berfirman dalam surah al-Kahfi, 18: 32-43, yang artinya: “Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang lelaki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon kurma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang. Kedua kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu, dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang Mukmin) ketika ia bercakap-cakap dengan dia: ‘Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat’. Dan dia memasuki kebunnya sedang ia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata: ‘Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku dikembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu’. Kawannya (yang Mukmin) berkata kepadanya sedang dia bercakap-cakap dengannya: ‘Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang lelaki yang sempurna? Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku. Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu “Māsyā Allah, lā quwwata illā billah” (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan, maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu, sehingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin; atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi’. Dan harta kekayaannya dibinasakan, lalu ia membolak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: ‘Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku’. Dan tidak ada bagi dia segolonganpun yang menolongnya selain Allah; dan sekali-kali dia tidak dapat membela dirinya.”

 

Ulama ahli Tafsir menjelaskan cerita kedua orang yang disebutkan dalam ayat Al-Qur’an di atas dengan keterangan yang terperinci. Dari cerita itu kita dapat mengambil pengajaran betapa mulia dan bermanfaatnya sifat rendah hati (tawād)u‘) bagi orang yang hendak menghias dirinya dengan sifat tersebut, dan kita juga boleh mengambil pengajaran betapa jeleknya akibat yang akan diperoleh bagi orang yang sombong.

 

Al-kisah, terdapat dua orang saudara seibu sebapa keturunan daripada Banī Isrā’īl. Meskipun mereka adalah saudara sekandung, namun kebiasaan dan tabiat mereka berbeza, separti perbezaan satu pokok dengan pokok yang lainnya padahal tanah tempat pokok itu tumbuh adalah sama, atau separti perbezaan bunga-bungaan padahal ia wujud daripada tangkai yang serupa.

Seorang bernama Yahūdhā. Ia adalah budak yang baik dan taat kepada perintah-perintah Tuhannya. Dia menyedari kemampuan dirinya sebagai seorang hamba Allah, ia selalu menjaga kemuliaan diri, lemah lembut, dan tidak tertarik dengan glamornya dunia.

Manakala saudaranya yang bernama Qutrūs adalah budak yang nakal, ingkar dan kafir terhadap kenikmatan Allah s.w.t., ia tamak, kikir dan bakhil, hatinya keras dan perangainya garang.

Mereka dibesarkan oleh ayahnya dalam keadaan yang berkecukupan. Sehingga akhirnya sang ayah meninggal dunia, dan meninggalkan harta berlimpah kepada keduanya. Harta tersebut dibagi sama rata kepada Yahūdhā dan Qutrūs, namun keduanya mengurusnya sesuai dengan kebiasaan, tabiat dan kecenderungan mereka masing-masing.

Yahūdhā membelanjakan hartanya itu untuk kemaslahatan agama. Dia berkata:

Wahai Tuhan. Saya akan keluarkan hartaku untuk mendapatkan redha-Mu. Saya akan gunakan semua hartaku itu untuk ketaatan kepada-Mu, mensyukuri nikmat-Mu dan mengharapkan surga-Mu.

Kemudian ia mensedekahkan hartanya, memberikan kepada orang yang meminta-minta dan orang yang memerlukan, ia juga membantu orang yang susah, menggunakan hartanya untuk kebajikan, membantu orang yang sangat susah hidup, sehingga akhirnya harta yang dimilikinya tinggal sedikit dan hampir habis, namun dia tetap merasa tenang, hatinya damai dan ia merasa cukup dengan harta yang tersisa.

Adapun Qutrūs, setelah ia menerima harta warisan dari ayahnya, dia langsung menyimpan dengan rapi dan menolak setiap orang yang meminta bantuan kepadanya. Dia menutup mata terhadap kebuluran dan kemiskinan yang menimpa orang-orang yang berada disekitarnya. Harta yang diperoleh, digunakan untuk membina benteng yang megah, dan untuk membina taman yang luas dan indah. Setelah sekian lama dirawat dengan baik, taman tersebut kelihatan indah penuh dengan tumbuhan yang rindang, berbuah banyak dan terasa sejuk. Tidak lama kemudian dia membuat kebun lagi di samping kebun  pertamanya itu.

Di antara kedua kebun tersebut, terhampar jalan yang indah dan cantik. Dia juga membuat perairan yang mencukupi untuk keperluan kebunnya. Di sepanjang saluran air, terdapat pokok kurma yang ditanam dengan rapi. Setiap orang yang melihat kedua kebun tersebut, pasti akan  merasa kagum dan merasa melihat surga yang berada di bumi dan akan kekal selamanya. Bagaimana tidak, pokoknya rindang dan sering berbuah, airnya sejuk dan banyak bunga di sekitarnya. Setiap mata yang melihat akan terpana dan terpesona.

Allah melapangkan rezeki bagi Qutrūs. Hartanya semakin banyak dan melimpah, kebunnya sering berbuah, anaknya semakin bertambah sehingga dapat membantu ayahnya mencari rezeki dan nafkah yang lebih.

Dalam keadaan yang berkecukupan separti ini, semestinya Qutrūs merenung atas keagungan Pencipta yang telah banyak memberi anugerah kepadanya. Semestinya dia beriman, bertambah taat dan bersyukur kepada Allah s.w.t. Namun kenikmatan yang melimpah sering menutup mata hati seseorang. Dia terpesona dengan dunia yang didapat dan terjerembab dalam kelalian dan kekufuran, sehingga pada akhirnya dia mendapatkan musibah yang tidak terduga-duga. Di saat itulah dia baru sedar bahawa selama ini dia terlena dan lupa terhadap sang Pencipta. Begitulah keadaan Qutrūs yang semakin sombong dengan kenikmatan yang melimpah.

Suatu hari, Yahūdhā yang menaiki kuda bertemu dengan Qutrūs. Melihat keadaan Yahūdhā yang miskin, Qutrūs memandang dengan rendah, dan berkata kepadanya:

Mana harta, perak dan emasmu? Sungguh jauh perbedaan antara keadaanku dan keadaanimu. Kamu miskin, hina dan tidak mempunyai banyak kawan. Sedangkan aku adalah seorang yang kaya separti yang kamu lihat, berkecukupan, sejahtera dan mulia, Saya mempunyai banyak harta, rumah dan para pembantu. Cobalah masuk ke surgaku, kamu akan melihat pokok-pokok yang rimbun, hijau dan sedap dipandang mata, air yang mengalir dan sejuk, buah-buah ranum bergelantungan. Lihatlah buah yang ini, dia selalu berbuah tiap tahun. Kebun ini adalah harta terindah yang saya yakini tidak akan berakhir dan rosak. Adapun hari kiamat yang kamu yakini akan terjadi, dan hari kebangkitan yang tidak lekas terjadi, saya tidak mempercayainya dan saya anggap sebagai pembicaraan yang tidak masuk akal. Kalaulah yang kamu katakan itu nanti benar-benar terjadi, maka saya yakin bahawa Allah akan memberi anugerah yang lebih baik kepadaku dari kebun milikku ini. Jika Allah telah membuatku kaya dan memberiku anugerah tak terkira di dunia ini, maka tidak ada yang menghalangi-Nya untuk memberiku anugerah yang lebih baik besok di akhirat.

Yahūdhā berkata kepada saudaranya itu:

Sungguh kamu telah kafir terhadap Allah, karena kamu mengingkari hari kebangkitan. Di hari itu kamu dibangkitkan dari kematian dan amal perbuatanmu akan dihitung. Ketahuilah, Zat yang menciptakanmu mampu membangkitkanmu lagi dari kematianmu.

Kamu menganggap hina diriku kerana saya orang miskin. Dan kamu membanggakan dirimu, sombong dan takabbur dengan harta yang kamu miliki. Mungkin kamu hairan apabila saya berkata: “Sesungguhnya saya lebih kaya daripada kamu. Kekayaan bukanlah diukur dengan harta. Kekayaan diukur dengan kadar ke-zuhud-an seseorang terhadap kenikmatan dunia dan ketidak tergantungannya dengan kehidupan dunia. Janganlah kamu menilai seseorang dengan melihat harta yang dimilkinya. Kemuliaan menurutku adalah apabila saya diberi anugerah kecukupan dengan makanan yang cukup untuk menghilangkan rasa laparku, diberi anugerh kesihatan yang boleh membantuku untuk bekerja dengan sungguh-sungguh dan diberi anugerah rasa aman ketika berkumpul dengan para sahabat dan tidak ada pembatas antara diriku dan orang lain. Saya lebih suka merasa lapar kemudian memanjatkan doa kepada Allah supaya saya diberi anugerh rezeki dan makanan yang cukup daripada saya kaya namun sombong dan angkuh di hadapan orang lain, jauh dari masyarakat kerana mereka takut dengan kekuasaan yang saya miliki sehingga akhirnya saya jauh dari kasih sayang serta keredhaan Allah s.w.t. serta jauh dari agama dan syariat-Nya.

 

Sampai pada cerita ini, kita dapat mengajukan sebuah pertanyaan, apa yang menimpa Qutrūs yang sombong dan congkak itu?

Kebun yang menjadi kebanggaannya tartimpa musibah, musnah, rata dengan tanah. Yang tartinggal hanyalah penyesalan yang mendalam. Allah telah menurunkan balasan yang sesuai kepada orang yang ingkar dan menentang-Nya. Qutrūs tidak mengakui adanya kehidupan akhirat dan hari pembalasan. Dia sombong dan congkak, akhirnya dia mendapatkan siksa dari Allah yang tiada terkira. Di akhirat dia menyesal atas apa yang sudah terjadi, hal tersebut separti yang difirmankan Allah dalam surah al-Kahfi, 18: 42, yang artinya: “Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.”

 

Tiada lagi yang dapat membela dan menolongnya. Kawan, anak dan kekuasaan yang dibangga-banggakan tiada artinya lagi di hadapan Allah pada hari kiamat. Maha Benar Allah s.w.t. yang berfiman dalam surah al-Kahfi, 18: 43, yang berarti: “Dan tidak ada bagi dia segolonganpun yang menolongnya selain Allah; dan sekali-kali dia tidak dapat membela dirinya.”


[1]  al-Sīrah li Ibn Hisyām.

[2]  Ihyā’ ‘Ulūm al-Dīn (3/299).

[3]  Ibid.

[4]  Tahdhīb al-Akhlāa (hal. 164).

 

Leave a Comment

Filed under Agama

Leave a Reply