Monthly Archives: June 2015

Sikap Lemah Lembut dan Rendah Hati

Sahabat Ibn ‘Abbās r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah s.a.w. pernah berkata kepada al-Asyjī: “Kamu mempunyai dua sifat yang membuat Allah dan Rasul-Nya senang; Lemah lembut dan murah hati.” (H. R. Muslim).

 

Sayyidah ‘Ā’isyah r.a. menyatakan bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda:

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ

Maksudnya: “Sesungguhnya Allah adalah Maha Lemah Lembut dan suka terhadap sikap lemah lembut dalam segala hal.” (H. R. al-Bukhārī dan Muslim).

 

Sifat pemarah merupakan sifat tercela yang muncul pada diri manusia akibat dorongan amarah dan hawa nafsu. Islam selalu menekankan pada umatnya untuk menjauhkan diri daripada sifat tercela ini. Sebaliknya, Islam menganjurkan umatnya untuk bersikap lemah lembut. Karena sifat lemah lembut adalah kebalikan sifat pemarah, maka untuk memahami secara baik sifat tersebut, kita harus memahami terlebih dahulu apa itu sifat pemarah.

 

Marah mempunyai banyak tingkatan. Tingkatan paling rendah adalah di saat seseorang tidak mempunyai apapun naluri pemarah, sehingga dia sama sekali tidak dapat emosi. Keadaan separti ini adalah keadaan yang kurang baik.

Tingkatan yang paling buruk lainnya adalah di saat naluri pemarah seseorang tidak dapat dikawal oleh akal dan ajaran agamanya, sehingga dia tidak mempunyai pertimbangan yang matang dan pilihan yang jelas ketika marah. Sifat ini dapat timbul karena faktor dalam yang berupa tingginya naluri kemarahan dan juga faktor luar yang berupa lingkungan masyarakat yang menganggap kemarahan sebagai sikap pemberani.

Sikap pemarah seperti ini jelas tidak dibenarkan oleh agama, karena ia dapat menyebabkan seseorang menjadi “buta”, tidak dapat membedakan antara kebenaran dan kesalahan dan juga menyebabkan seseorang menjadi “tuli”, tidak mau mendengar nasihat dan bimbingan. Akhirnya yang mengendalikan tingkah laku mereka adalah hawa nafsu bukan akalnya dan yang keluar dari lisan mereka adalah kata-kata kotor.

Kebencian akan muncul di dalam hatinya sehingga timbul keinginan untuk memukul atau bahkan membunuh. Kalau dia tidak sanggup melampiaskan kekesalannya, maka dirinya akan merasa terhina, atau dia akan mencari pelampiasan lain, separti dengan menghacurkan barang-barang yang terdapat di hadapannya. Belum lagi, orang yang sedang marah raut mukanya akan berubah menjadi buruk dan menyeramkan, badannya gemetar, langkahnya tidak terkendali dan matanya berwarna merah. Seandainya ketika marah dia melihat dirinya sendiri, maka ia akan menghentikan kemarahan tersebut, kerana malu melihat raut muka dan sikapnya itu.

Adapun tingkatan yang terpuji adalah di saat terdapat keseimbangan antara naluri sikap pemarah dan sikap lemah lembut. Kemarahan model ini adalah kemarahan yang masih berada dalam kendali akal, dan jika ia munculpun kerana didorong oleh sikap sensitifi dan emosi keberagamaan untuk membela agama. Hal ini sebagaimana yang dipraktikkan oleh Rasulullah s.a.w., jika Beliau melihat ada larangan-larangan Allah s.w.t. dilanggar, Beliau marah. Namun di saat lain sikap lemah lembut harus selalu muncul menghiasi dirinya.[1]

Continue reading

Leave a Comment

Filed under Agama