Monthly Archives: October 2009

"Catatan" Perjalanan ke Innsbruck Austria (2)

Alhamdulillah setelah perjalanan selama kurang lebih 24 jam dari rumahku, berangkat jam 09.15 WIB, akhirnya sampai di-‘rumahku’ hostel, Innsbruck, Austria, kurang lebih jam 10.00 setempat.

Langsung oleh Mas Anirban ditunjukkan per kamarnya, saya kamar lantai 2 nomer 228, ujung pol pojok, jadi kalau mau ke kamarku harus melewati sekitar 20-an kamar lain bersebelahan di sisi jalan selebar 1,5 meteran. Pak Juha(Geo UNNES) di lantai 4 nomer 412, dan pak Kuswaji (Geo UMS) lantai 5 nomer 517. Nggak sulit utk ke lantai 5, karena di samping ada jalan tangga biasa, tapi juga ada lift yang selalu okay, yang hanya dapat dijalankan dengan kunci pemilik kamar masing-masing, kalau yang gak punya atau gak bawa kunci harus ngikut sama yang punya atau bawa kunci kamar.

Semua peraturan disampaikan, layaknya pemilik rumah, padahal dia juga mahasiswa, S3 Kimia Komputasi, sama dengan bidangku, canggih nerangkan semua peraturan. Setiap pemilik rumah diterangkan hak dan kewajiban masing-masing. Dimana dapur umum setiap lantai, dimana ruang makan umum settiap lantai, dimana mesin cuci umum, bagaimana caranya, dimana njemur pakaian, dimana kamar administrator, pengelola hostel, dimana loker masing-masing, untuk mbukanya pakai kunci yang mana, oven-nya dimana,kulkas, almari, tempat sampahnya, diterangkan sampah organik, sampah anorganik, sampah ini, sampah itu, nggak seperti kita, asal mbuang….. Semua diatur dari rumah ….sehingga ketika pengelola mbuang sampah ke tempat pembuangan sampah yg disediakan maka gampang milahnya.

Ahhhhhhhhhhhhhh …… meluruskan pinggang.

Lah ……………perut lapar, belum makan siang, GAnti bingung. Hari itu hari libur nasional. Semua kantor, toko tutup semua. HP nggak bisa dipakai, pulsa simpatiku bis habis, semua gak konek, mau nelpon temen yang katanya mau jemput, selisiban, gak ketemu di bandara, nggak tahu nomernya juga. Wah cilaka 12-an + 1,0001 (empat angka di belakang koma) ya …… Nah pak Juhadi langsung nunjuk saya utk bertanggung jawab menghubungi pak Nurhadi dan Mas Anggri (keduanya mahasiswa S3 Geo Innsbruck University). Wah, kalau ke telpon umum, berarti hrs turun dan kemana ya ….padahal capai dan laper. ….Wah, ada laptop, ada kabel LAN, sambungkan deh ………………kirim email ke pak Nurhadi. Mbuka mail google, bisa ….., saya coba telpon pakai yahoo messenger, belum nyambung juga …nomer telpon dilacak dari email.

Wah ….. kalau tinggal di Indonesia ya … gampang. Tinggal ke luar rumah, ketemu orang: ” Nuwun sewu mbah mbuh, dalem nyasar, bade tanglet, warungipun wonten pundi nggih …..” Paling-paling jawabnya: “Oh, monggo, mampir nggen kulo rumiyin, wonten telo godhokan …teksih anget, monggo mampir …”.

Begitu di Indonesia ….. kalau masih ….

LAh, ini di austria, jalan-jalan sepi, kayaknya penduduk wegah keluar rumah. Masing-masing betah di apartemennya ….arep takon sopo.

Sambil nunggu bingung …..tiba-tiba pintu dikethuk dari luar ………..
Lah ……….. orang yang dicari-cari nongol, mereka lega, kami lebih lega …sudah terbayang makan siang, gak bakalan kelaparan sampai sore…………Singkat cerita mereka menunggu kami di bandara, sayang datangnya telat dibanding mas Anirban yang lebih awal datang, kalah cepat njemput ….Wah ramai jadinya …..

Sudah …satu maslah teratasi. Ternyata pak Nur dan mas Anggri sudah menyiapkan penyambutan kami dengan masakan ala indonesia .. kenyang-kenyang-kenyang …………uenakan …..
Habis makan, mandi, siap-siap. Turun ke jalan …

Ok, kami tidak boleh boleh tidur sore, rencana akan diajak keliling dulu ke kampus dan lain-lain.

Sebelum ke jalan kami mampir di toko lantai bawah, kebetulan buka untuk beli kartu perdana HP, saya diajari pak Nur, nanti kalau mau beli pulsa bilangnya :”Ladebon tele-ring, ten or twelve euro”. Tele-ring seperti simpati, xl, im3 di Indonesia.

Saya coba masukan kartu, aada no PIN, sampai 3 kali gagal, ke blokir deh …..wah …kacau ….apa sebabnya?, ternyata yang dimasukkan bukan nomer PIN, kebetulan sama 4 angkanya, habisanya pakai bahasa Jerman jeh….Untung ada nomoer PUK untuk mbuka blokirnya ba, lega deh…..bisa ………………….coba kirim sms ke istri tercita, beberapa kali ….kok lama gak ada jawaban yah ….saya ragu, jangan-jangan masih gak nyambung … tunggu menunggu, akhirnya ada jawaban juga, tapi sepertinya setelah sore hari …..

Ok, ganti cerita dulu. lanjutin mau naik bis …

Pertama, agar bisa naik bis maka kami harus punya tiket langganan bis. Harganya 41,5 euro (1 euro = Rp 14.000-an) untuk satu bulan. Dipakai full ya segitu, nggak dipakai ya segitu. Katanya kalau ketahuan gak bawa tiket, maka akan diminta kartu kreditnya langsung digesekkan utk mbayar, kalau nggak punya disuruh mbayar cash 70 euro). Saya pernah lihat seorang pemuda kettahuan naik bis gak pakai tiket, langsung dibawa oleh polisi …. Kalau di Indonesia langsung diminta dompetnya …..MAU BERAPA?

Tujuan utama kami kampus Universitas Innsbruck.

Bersambung …………………………………………………………………..

Leave a Comment

Filed under Umum