Monthly Archives: September 2009

Kufur Besar dan Macamnya (2)

Oleh : Al-Ustadz Abul Mundzir Dzul-Akmal As-Salafy

Kufur besar menjadikan orang yang bersangkutan keluar dari Islam. Kufur besar yaitu kufur dalam I’tiqod (keyakinan). Jenis-jenisnya amat banyak sekali, diantaranya :

1. Kufur Dengan Cara Mendustakan

Yaitu dengan mendustakan (tidak mempercayai) al Quraan atau hadist atau dengan mendustakan sebahagian yang ada pada keduanya, seperti sekarang ini kelompok satu ajaran ingkarus sunnah (al Quraaniyyuun). Yang mana mereka tidak meyakini kebenaran (keotentikan) hadist sehingga kita perhatikan di dalam ceramah-ceramah, tulisan, dakwah mereka tidak terdapat satupun hadist Nabi Shollallahu alaihi wa Sallam, maka ajaran ingkarus sunnah adalah ajaran kufur kepada Allah Tabaaraka wa Taaala.
Allah Jalla wa Alaa berfirman :

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى
Artinya : “Dan tidaklah Nabi Shollallahu alaihi wa Sallam berbicara menurut kemauan hawa nafsunya. Tidak lain tidak bukan ucapan beliau itu adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (QS. An-Najm : 3-4).
Asy Syaikh Abdurrahman as Sadiy berkata dalam menafsirkan ayat yang mulia ini : “Bukan pembicaraannya semata-mata muncul dari hawa nafsunya. Dia juga tidak akan mengikuti kecuali apa-apa yang telah diwahyukan kepadanya, dari bentuk petunjuk dan taqwa pada dirinya sendiri dan untuk orang lain.”[1]

Allah Taaala juga berkata di ayat lain :

وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
Artinya : “…..Apapun yang diberikan ar Rasul kepada kalian, maka kalian ambillah. Dan apapun yang dilarang kalian daripadanya maka tinggalkanlah….” (QS. Al Hasyr : 7).
Asy Syaikh Abdurrahmaan as Sadiy berkata ketika menafsirkan ayat ini : “Ini mencakup secara keseluruhannya terhadap pokok-pokok Din dan cabang-cabangnya, zhohirnya dan bathinnya, bahwasanya apapun yang dibawa oleh Rasul Shollallahu alaihi wa Sallam, diwajibkan atas hamba-hamba tersebut untuk menerimanya dan mengikutinya, dan tidak dibenarkan untuk menyelisihinya, karena keputusan Rasul Shollallahu alaihi wa Sallam atas sesuatu sama dengan keputusan Allah Taaala atasnya, tidak ada keringanan dan udzur bagi seseorang untuk meninggalkannya, dan tidak dibolehkan juga bagi dia untuk mendahulukan perkataan siapapun diatas perkataan Rasul Shollallahu alaihi wa Sallam.”[2]

Bertepatan dengan ayat yang mulia ini telah berkata shahabat Nabi Shollallahu alaihi wa Sallam Ibnu Masuud radhiallahu anhu :
لعن الله الواشمات والمستوشمات والمتنمصات،والمتفلجات للحسن، المغيرات خلق الله! فقالت له امرأة في ذلك، فقال: ومالي لا ألعن من لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو في كتاب الله؟! قال الله تعالى : ((وما آتاكم الرسول......)). الآية.
Artinya : “Allah telah melanat pembuat tato dan orang yang miminta untuk dibuatkan tato, orang yang meminta untuk dicabut alis matanya, dan wanita yang mengikir giginya untuk kecantikan dalam rangka merobah-robah ciptaan Allah! Maka berkata seorang wanita kepada beliau tentang demikian, Ibnu Masuud menjawab : kenapa saya tidak melanat seseorang yang telah dilanat oleh Rasul Shollallahu alaihi wa Sallam sementara hal itu terdapat dalam al Quraan?!” lantas beliau membaca ayat di atas.[3]
Di dalam hadist yang lain juga Rasulullahu Shollallahu alaihi wa Sallam berkata :
"ألا إني أوتيت الكتاب ومثله معه، ألا يوشك رجل شبعان على أريكته يقول : عليكم بهذا القرآن؛ فما وجدتم فيه من حلال فأحلوه، وما وجدتم فيه من حرام فحرموه...."
Artinya “Ketahuilah sesungguhnya telah diberikan kepada saya al Kitab dan semisalnya[4] bersamanya, ketahuilah hampir-hampir seorang lelaki kekenyangan di atas tempat tidurnya berkata : diwajibkan atas kalian untuk berpegang dengan al Quraan ini, maka apapun yang kalian dapatkan tentang yang halal padanya maka halalkanlah, dan apa-apa yang kalian dapat tentang yang haram padanya maka haramkanlah.”[5]
Dari penjelasan ayat dan hadist di atas dapat kita pahami bahwa bagaimana seseorang itu katakan seorang muslim, sementara Rasulullah Shollallahu alaihi wa Sallam tidak dia ikuti (thaati). Allah Subhaana wa Taaala berfirman :
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya : Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah Subhaana wa Taaala, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Subhaana wa Taaala Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Ali Imron : 31).
Berkata asy Syaikh Abdurrahman as Sadiy dalam menafsirkan ayat ini : “Ayat ini merupakan mizan (timbangan/acuan), yang dengannya diketahuilah siapa yang betul-betul mencintai Allah Tabaaraka wa Taaala, dan siapa yang hanya dawaan omong-kosong saja bahwa dia mencintai Allah, maka tanda cinta kepada Allah Azza wa Jalla adalah dengan mengikuti Muhammad Shollallahu alaihi wa Sallam, dimana Allah Subhaana wa Taaala telah menjadikan pengikutan kepada RasulNya Shollallahu alaihi wa Sallam serta seluruh apapun yang dia dawahkan kepadaNya sebagai jalan untuk menggapai kasih sayang Allah Subhaana wa Taaala dan keridhoanNya, oleh karena itu tidak akan didapatkan kasih sayang Allah Jalla wa Ala, keridhoanNya dan balasan dariNya kecuali dengan membenarkan seluruh apapun yang dibawa Rasul Shollallahu alaihi wa Sallam baik al Kitab dan as Sunnah dan menthaati keduanya, dan menjauhi larangan dari keduanya.
Maka barang siapa yang mengamalkan demikian, Allah akan mencintainya dan akan diberi balasan sebagai balasan orang-orang yang dicintai olehNya, diampuni dosa-dosanya, Allah Tabaaraka wa Taaala akan menutupi aib aibnya.”[6]
Jadi mancintai Allah Subhaana wa Taaala tidak akan bisa terbukti kecuali dengan mencintai Rasulullah Shollallahu alaihi wa Sallam, mencintai Allah Subhaana wa Taaala tidak terbukti benar kecuali dengan mengikuti Rasulullah Shollallahu alaihi wa Sallam, atau seseorang yang hanya mempercayai sunnahnya saja, dan dia meninggalkan al Quraan maka diia juga kafir. Demikian juga seseorang yang tidak mempercayai keduanya maka dia kafir kepada Allah Subhaana wa Taaala, berdasarkan firman Allah Subhaana wa Taaala :
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْكَافِرِينَ
Artinya : ”Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah Subhaana wa Taaala atau mendustakan yang hak tatkala yang hak itu datang kepadanya? Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir?” (QS. Al-Ankabut : 68).

Demikian juga dalam ayat yang lain Allah Tabaaraka wa Taaala berfirman :

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ
Artinya : ”Apakah kamu beriman kepada sebahagian al Kitab (Taurat) dan kufur(mengingkari) terhadap sebahagian yang lainnya?” (QS. Al Baqorah : 85).
2. Kufur karena enggan dan takabbur, padahal sebenarnya ia percaya.

Yaitu tiadanya ketundukan pada kebenaran meskipun ia mangakui adanya kebenaran tersebut, sepertinya kufurnya iblis lanatullahi alaihi. Iblis mengakui Adam ‘Alaihis Salaam adalah mahluk yang mulia, yang memiliki ilmu, lagi diciptakan oleh kedua tanganNya Subhaana wa Taaala, akan tetapi dia sombong dan enggan untuk melakukan sujud kepada Adam 'Alaihis Salaam . Para ulama telah menjelaskan tentang sujud disini maksudnya adalah sujud penghormatan kepada Adam Alaihis Sholaatu was Salaam sebagai makhluk yang mulia yang diciptakan oleh kedua tanganNnya Tabaaraka wa Taaala, sebagaimana Allah Subhaana wa Taaala berfirman :
"وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآَدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ
Artinya : ”Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kalian semuanya kepada Adam!" maka sujudlah para Malaikat kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS Al-Baqoroh : 34).
Asy Syaikh Abdurrahmaan as Sadiy berkata ketika menafsirkan ayat yang mulia ini : “Kemudian Allah Jalla wa Alaa memerintahkan kepada mereka (para Malaikat) untuk sujud kepada Adam Shollallahu alaihi wa Sallam sebagai penghormatan dan pemuliaan baginya, dan sebagai pengubudiyahan terhadap Allah Taaala, mengikuti perintahNya, maka segera mereka seluruhnya sujud kepada Adam, kecuali iblis dia enggan, tidak mau sujud, sombong terhadap perintah Allah Tabaaraka wa Taaala ketika diperintahkan untuk sujud kepada Adam Alaihis Sholaatu was Salaam sambil berkata : - yang Allah Subhaana wa Taaala menceritakan pada ayat yang lain :
أَأَسْجُدُ لِمَنْ خَلَقْتَ طِينًا
Artinya : “….apakah saya akan sujud kepada seorang yang Kamu ciptakan dari tanah?” (QS. Al Israa : 61).
Enggan dan kesombongan yang muncul dari dia ini merupakan natijah/kesimpulan kekufuran atas iblis tersebut, maka nampaklah ketika itu permusuhannya terhadap Allah Subhaana wa Taaala dan Adam Alaihis Sholaatu was Salaam serta kekufuran dan kesombongannya. [7]
Makna sombong telah disebutkan oleh Rasulullah Shollallahu alaihi wa Sallam dalam satu hadist yaitu :
"لا يدخل الجنة من كان في قلبه مثقال ذرة من كبر" قال رجل : إن الرجل يحب أن يكون ثوبه حسنا ونعله حسنة. قال : "إن الله جميل يحب الجمال. الكبر بطر الحق وغمط الناس."
Artinya: “Tidak akan masuk sorga seseorang yang dalam hatinya sebesar biji sawi bentuk kesombogan”, berkata seorang lelaki : sesungguhnya seorang lelaki menyenangi pakaiannya indah dan sandalnya cantik. Berkata Rasulullahu Shollallahu alaihi wa Sallam : “Sesungguhnya Allah sangat Indah dan mencintai keindahan. Yang dikatakan sombong adalah menolak kebenaran dan melecehkan orang yang menyampaikan kebenaran itu.” [8]

[1] Taisiirul Kariimir Rahmaan fi Tafsiiri Kalaamil Mannaan, karya asy Syaikh Abdurrahman as Sadiy cetakan Muassasah ar Risaalah.

[2] Taisiirul Kariimir Rahmaan

[3] Hadist in dikeluarkan oleh : al Bukhaariy (al Imam al Bukhaariy (5/365 no. 4886,4887,5931,5939,5943,5948), Muslim (3/1678 no.2125), at Tirmidziy (5/96-97 no.2782), an Nasaaiiy (7/572 no.5268-5270), ad Daarimiy (2/279-280), Ahmad (1/434), kesemuanya dari jalan Abu Abdirrahmaan Ibnu Masuud radhiallahu anhu.
[4] Berkata al Imam al Khatthaabiy rahimahullahu Taaala tentang perkataan Nabi Shollallahu alaihi wa Sallam :
"أوتيت الكتاب ومثله معه"
Terkandung dari dua sisi penafsiran; pertama : “mananya adalah bahwa Rasulullahi Shollallahu alaihi wa Sallam diberikan kepadanya wahyu bathin tanpa dibaca sebagaimana diberikan kepada beliau Shollallahu alaihi wa Sallam wahyu yang zhohir dan dibaca. Kedua : mananya adalah diberikan kepadanya al Kitab sebagai wahyu yang dibaca, dan diberikan juga penjelasan, artinya diidzinkan kepada Rasulullahi Shollallahu alaihi wa Sallam untuk menjelaskan apa-apa pada al Kitab, meliputi dan mengkhususkan, dan menambah dan mensyariatkan atasnya apa-apa yang tidak terdapat dalam al Kitab, maka adalah yang demikian juga sebagai kewajiban hukum dan dilazimkan untuk diamalkan, seperti zhohir yang dibaca dari al Quraan itu. (Abu Daawud 5/10).
[5] Hadist ini dikeluarkan oleh : al Imam Abu Daawud (5/10-11 no.4604), at Tirmidziy (5/2664), Ibnu Maajah (1/6 no.12) keseluruhannya dari jalan al Miqdaam bin Madiikarib al Kindiy radhiallahu anhu.
[6]Taisiirul Kariimir Rahmaan fi Tafsiir Kalaamil Mannaan”, asy Syaikh Abdurrahman as Sadiy.
[7]Taisiirul Kariimir Rahmaan fi Tafsir Kalaamil Mannaan”, asy Syaikh Abdurrahman as Sadiy.
[8] Hadist ini dikeluarkan oleh : al Imam Muslim (1/93 no.91), Abu Daawud (4/352 no.4092), at Tirmidziy (4/317-318 no.1999), Ahmad (1/385,427), keseluruhannya dari jalan Abu Hurairah dan Ibnu Masuud radhiallahu anhuma.

Sumber : Buletin Jum’at Ta’zhim As-Sunnah Edisi 14 Safar 1429 H

Leave a Comment

Filed under Agama